Daftar Isi 5 bagian
Ruanginvest.com – Blade Battery generasi kedua BYD dirancang untuk menjawab salah satu kendala utama mobil listrik: waktu pengisian. BYD menyebut baterai ini dikembangkan selama enam tahun dan menjadi dasar bagi sistem FLASH Charging. Perusahaan memperkenalkannya di Shenzhen, Tiongkok, pada 5 Maret 2026.
Generasi terbaru ini memiliki kepadatan energi 5% lebih tinggi dibandingkan pendahulunya. BYD mengaitkan peningkatan tersebut dengan peluang jarak tempuh yang lebih jauh, sekaligus kemampuan menerima daya dalam waktu singkat. Namun, hasil pengisian cepat bergantung pada penggunaan sistem FLASH Charging yang disiapkan perusahaan.
Blade Battery generasi kedua BYD melanjutkan teknologi LFP
Blade Battery menggunakan kimia lithium iron phosphate (LFP), dengan sel memanjang yang menyerupai bilah. Bentuk tersebut mendukung pemanfaatan ruang dan integrasi baterai ke kendaraan. BYD memperkenalkan generasi pertama pada 2020, lalu menjadikannya salah satu teknologi utama dalam jajaran kendaraan listriknya.
Pendekatan generasi pertama menonjolkan keselamatan dan efisiensi ruang. Automotive World menyebut versi terbaru sebagai baterai BYD paling penting sejak Blade Battery pertama hadir. Meski begitu, generasi kedua tidak hanya meneruskan pendekatan lama. BYD juga menargetkan pengisian lebih cepat tanpa mengabaikan kepadatan energi dan ketahanan pemakaian.
Menurut BYD, baterai baru ini dapat terisi dari 10% menjadi 70% dalam lima menit. Untuk rentang yang lebih luas, perusahaan mengklaim pengisian dari 10% hingga 97% membutuhkan sembilan menit. Angka tersebut berlaku saat baterai menggunakan FLASH Charging, sehingga tidak otomatis menggambarkan waktu pengisian pada setiap stasiun.
FlashPass mengatur perpindahan ion saat pengisian
Di balik target waktu tersebut, BYD mengembangkan sistem transportasi ion bernama FlashPass. Teknologi ini mengoptimalkan perpindahan ion lithium di antara katoda, elektrolit, dan anoda. Tujuannya adalah mengurangi hambatan internal yang dapat memperlambat penerimaan energi.
Pengisian berdaya tinggi membawa tantangan tersendiri. Aliran energi besar dapat memicu panas, sementara baterai tetap perlu menjaga kestabilan kimia dan struktur internal. Karena itu, kecepatan saja tidak cukup. BYD menyatakan pengembangannya juga memperhatikan kepadatan energi, degradasi, keselamatan, dan ketahanan baterai.
Perusahaan tidak merinci tahapan penelitian selama enam tahun tersebut dalam pengumuman resminya. Namun, fokus FlashPass memberi gambaran tentang persoalan teknis yang ingin diatasi: mempercepat transportasi ion sekaligus menekan resistansi. Dengan cara itu, sistem berupaya mendukung pengisian cepat tanpa mengandalkan kenaikan daya semata.
Performa baterai diuji pada suhu rendah
Kepadatan energi yang lebih tinggi juga berpotensi membantu kendaraan menempuh jarak lebih jauh tanpa harus menambah kapasitas baterai secara proporsional. EV Reporter mencatat BYD menyebut peningkatan jarak tempuh sebagai salah satu sasaran generasi kedua. Namun, materi yang tersedia tidak menyertakan angka jarak tertentu untuk model kendaraan.
Suhu dingin menjadi tantangan lain bagi baterai kendaraan listrik karena dapat menurunkan kecepatan pengisian. BYD merancang generasi kedua untuk mengurangi penurunan tersebut. Automotive World melaporkan baterai yang disimpan pada suhu minus 30 derajat Celsius selama 24 jam dapat terisi dari 20% ke 97% dalam 12 menit.
Menurut laporan itu, waktu tersebut hanya tiga menit lebih lama dibandingkan pengisian pada suhu normal. Hasil ini menunjukkan fokus pengembangan pada kinerja di kondisi dingin, bukan hanya pada pengisian cepat dalam situasi ideal. Meski demikian, angka tersebut merupakan hasil yang dilaporkan untuk baterai, bukan jaminan waktu pada semua kendaraan dan kondisi penggunaan.
Infrastruktur menjadi bagian dari rencana BYD
Pengisian supercepat membutuhkan dukungan stasiun dengan daya tinggi. BYD menyiapkan FLASH Charging dengan daya hingga 1.500 kW melalui satu konektor, serta sistem penyimpanan energi terintegrasi. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting karena kemampuan baterai saja tidak cukup untuk menghadirkan pengalaman isi daya singkat.
The EV Report menyebut BYD telah memiliki 4.239 stasiun seperti ini di Tiongkok. Perusahaan menargetkan jumlahnya mencapai 20.000 hingga akhir 2026 dan juga menyiapkan ekspansi internasional. Target pembangunan itu menunjukkan bahwa pengembangan baterai berjalan berdampingan dengan upaya memperluas akses pengisian.
Bagi pengemudi, ketersediaan stasiun berdaya tinggi dapat menentukan manfaat nyata dari teknologi tersebut. Jika jaringan belum tersedia di rute yang dilalui, klaim waktu pengisian baterai tidak serta-merta mudah dimanfaatkan. Karena itu, perluasan infrastruktur akan menjadi faktor penting saat BYD membawa sistem ini ke pasar di luar Tiongkok.
Kepraktisan menentukan daya tarik mobil listrik
Strategi BYD menyasar dua kebutuhan sekaligus: mengurangi waktu berhenti saat perjalanan dan menjaga kemampuan baterai dalam penggunaan sehari-hari. Pengisian yang lebih singkat dapat membuat perjalanan jauh terasa lebih praktis, sedangkan kepadatan energi yang meningkat membuka peluang tambahan jarak tempuh. Namun, daya tahan dan keselamatan tetap perlu berjalan seiring dengan kedua sasaran tersebut.
Blade Battery generasi kedua kini menjadi fondasi bagi rencana pengisian cepat BYD, tetapi manfaatnya bergantung pada kombinasi baterai, kendaraan, dan stasiun yang kompatibel. Klaim waktu pengisian, kinerja suhu rendah, serta target infrastruktur memberi gambaran arah pengembangan perusahaan. Tahap berikutnya adalah memperluas penerapan teknologi agar pengemudi dapat merasakan manfaatnya dalam penggunaan nyata.




