RuangInvest.com, Jakarta – DSSA genjot bisnis digital sebagai salah satu motor pertumbuhan baru di tengah normalisasi harga batu bara global. Strategi ini mulai menunjukkan hasil positif setelah kontribusi segmen non tambang meningkat sepanjang tahun buku 2025.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat kontribusi bisnis non pertambangan mencapai 7,6 persen dari total pendapatan perseroan yang sebesar USD2,79 miliar pada 2025. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan kontribusi tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan signifikan pada lini digital dan teknologi. Perseroan terus memperluas infrastruktur digital sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha jangka panjang.
DSSA Genjot Bisnis Digital Melalui Ekspansi Jaringan
Presiden Direktur DSSA, Krisnan Cahya, mengatakan bahwa pertumbuhan bisnis digital dan teknologi mencapai 47 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Kinerja tersebut didukung oleh ekspansi jaringan yang agresif selama 2025.
Salah satu indikator pertumbuhan terlihat dari jumlah homepass yang meningkat 64,1 persen YoY menjadi 10,5 juta homepass. Peningkatan ini memperkuat posisi perseroan dalam industri layanan internet berbasis serat optik di Indonesia.
Menurut Krisnan, kinerja positif tidak hanya terjadi pada segmen digital. Pilar bisnis non pertambangan lainnya juga tetap mencatat performa yang baik meskipun harga batu bara mengalami normalisasi di pasar global.
“Fokus perseroan saat ini adalah mengakselerasi digitalisasi operasional guna memperkuat dan mengoptimalkan kinerja produksi di seluruh lini. Di saat yang sama, perseroan terus mengakselerasi investasi pada sektor energi baru terbarukan dan memperkokoh infrastruktur digital dan teknologi guna mendorong pertumbuhan yang lebih progresif,” ujar Krisnan dalam RUPS, Selasa (9/6/2026).
Selain itu, perusahaan terus mengembangkan berbagai inisiatif transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.
Merger MoraRepublic Perkuat Posisi di Industri FTTH
DSSA genjot bisnis digital lebih lanjut melalui konsolidasi bisnis telekomunikasi. Pada 2026, kontribusi segmen digital diproyeksikan semakin besar seiring selesainya merger antara PT Eka Mas Republik (MyRepublic) dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk atau MoraRepublic.
Merger tersebut menghasilkan entitas dengan jaringan kabel serat optik lebih dari 116.000 kilometer. Infrastruktur yang luas ini akan memperkuat daya saing perusahaan di pasar broadband nasional.
Krisnan menilai langkah tersebut menjadi fondasi penting untuk memperluas layanan internet berkecepatan tinggi kepada pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, hasil penggabungan usaha tersebut juga menempatkan MoraRepublic sebagai penyedia layanan fiber to the home (FTTH) terbesar kedua di Indonesia. Posisi ini membuka peluang pertumbuhan pelanggan yang lebih besar pada masa mendatang.
Dukungan Infrastruktur Digital Terintegrasi
Untuk melengkapi ekosistem digital yang sedang dibangun, DSSA bersama KIRA SG One Pte Ltd mempercepat pembangunan Metro Data Center (SMX01) di kawasan pusat bisnis Jakarta.
Fasilitas data center tersebut dirancang dengan standar internasional dan memiliki kapasitas IT Load sebesar 18 MW. Kehadiran pusat data ini diharapkan mampu mendukung kebutuhan komputasi dan penyimpanan data yang terus meningkat.
Menurut manajemen, proyek Metro Data Center ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV tahun 2026. Kehadiran fasilitas tersebut akan memperkuat layanan digital yang terintegrasi dengan jaringan telekomunikasi perseroan.
Pendapatan Turun Akibat Harga Batu Bara Global
Meski bisnis digital menunjukkan pertumbuhan kuat, DSSA tetap menghadapi tekanan dari penurunan harga batu bara di pasar internasional. Kondisi tersebut berdampak pada kinerja keuangan konsolidasian sepanjang 2025.
Pendapatan perseroan tercatat turun menjadi USD2,79 miliar pada 2025. Pada tahun sebelumnya, pendapatan DSSA masih mencapai USD3,01 miliar.
Penurunan pendapatan tersebut turut memengaruhi laba bersih perusahaan. DSSA membukukan laba bersih konsolidasian sebesar USD361,20 juta, turun dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai USD542,78 juta.
Namun demikian, dari sisi operasional tambang, perusahaan masih mencatat pertumbuhan volume produksi dan penjualan. Produksi batu bara mencapai 57,2 juta ton atau tumbuh 7,7 persen secara tahunan.
Di sisi lain, volume penjualan batu bara juga meningkat 4,4 persen YoY menjadi 56,7 juta ton. Kenaikan volume tersebut menunjukkan permintaan pasar masih relatif terjaga meskipun harga komoditas mengalami koreksi.
Ke depan, DSSA optimistis strategi diversifikasi usaha melalui digitalisasi, telekomunikasi, pusat data, dan energi baru terbarukan dapat memperkuat struktur bisnis perusahaan. Dengan kombinasi antara sektor sumber daya alam dan teknologi, perseroan berharap mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih stabil serta berkelanjutan di tengah dinamika pasar global.





