RuangInvest.com, Jakarta – Valuasi saham menjadi salah satu aspek yang wajib dipahami sebelum membeli saham. Banyak investor pemula masih menganggap harga saham yang rendah berarti murah dan harga yang tinggi berarti mahal. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar.
Harga saham hanyalah angka yang terbentuk dari mekanisme permintaan dan penawaran di pasar. Nilai sebuah perusahaan jauh lebih kompleks dibanding sekadar melihat nominal harga per lembarnya. Karena itu, investor perlu memahami berbagai indikator fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.
Salah satu cara terbaik untuk menilai apakah sebuah saham layak dibeli adalah menggunakan rasio valuasi seperti Price to Earnings Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), serta menghitung nilai intrinsik perusahaan. Ketiga metode tersebut saling melengkapi sehingga mampu memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai harga wajar suatu saham.
Kenapa Harga Saham Saja Tidak Cukup Menentukan Mahal atau Murah
Banyak investor terkecoh ketika melihat saham berharga Rp500 dianggap lebih murah dibanding saham seharga Rp10.000. Faktanya, harga nominal tidak mencerminkan murah atau mahalnya sebuah perusahaan.
Sebagai ilustrasi, Perusahaan A memiliki harga saham Rp1.000 dengan laba per saham (EPS) Rp100. Artinya PER perusahaan tersebut mencapai 10 kali.
Sementara itu, Perusahaan B memiliki harga saham Rp5.000 dengan EPS Rp1.000. PER perusahaan ini hanya 5 kali.
Meski harga saham Perusahaan B lima kali lebih mahal secara nominal, investor sebenarnya hanya membayar lima kali laba tahunan perusahaan. Sebaliknya, pada Perusahaan A investor harus membayar sepuluh kali laba.
Karena itu, investor tidak boleh hanya terpaku pada harga saham. Rasio valuasi hadir untuk memberikan perbandingan yang lebih adil berdasarkan kondisi fundamental perusahaan.
Mengukur Valuasi Saham Menggunakan PER
Price to Earnings Ratio atau PER merupakan rasio yang paling sering digunakan dalam analisis fundamental. Rasio ini membandingkan harga saham dengan laba yang dihasilkan perusahaan.
Cara Menghitung PER
Rumus PER sangat sederhana.
PER = Harga Saham ÷ Earnings Per Share (EPS)
Contoh perhitungan:
- Harga saham: Rp5.000
- EPS: Rp500
- PER = Rp5.000 ÷ Rp500 = 10 kali
Artinya, investor bersedia membayar sepuluh kali laba tahunan perusahaan untuk memiliki saham tersebut.
Semakin tinggi angka PER, semakin mahal harga saham dibandingkan labanya. Sebaliknya, PER yang lebih rendah biasanya menunjukkan valuasi yang lebih murah.
Pentingnya Membandingkan PER
PER tidak bisa dinilai sendirian. Investor perlu membandingkannya dengan:
- Rata-rata historis perusahaan.
- PER perusahaan sejenis.
- PER rata-rata sektor industri.
Sebagai contoh, saham BMRI pada April 2025 diperdagangkan dengan PER sekitar 8,27 kali. Angka tersebut lebih rendah dibanding rata-rata historis tiga tahun sebelumnya sebesar 10,53 kali.
Kondisi itu menunjukkan bahwa secara historis saham BMRI sedang diperdagangkan lebih murah dibanding biasanya.
Di sisi lain, rata-rata PER setiap sektor juga berbeda. Sektor teknologi umumnya memiliki PER lebih tinggi dibanding sektor keuangan karena prospek pertumbuhannya juga lebih besar.
Oleh sebab itu, membandingkan PER lintas sektor sering kali menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Kelemahan PER
Meskipun populer, PER memiliki beberapa keterbatasan.
Beberapa kondisi yang membuat PER kurang relevan antara lain:
- Perusahaan sedang mengalami kerugian.
- Laba melonjak akibat keuntungan satu kali.
- Laba sangat fluktuatif.
- Bisnis berada pada fase siklus tertentu.
Karena itu, PER sebaiknya digunakan bersama indikator lainnya.
Memahami Valuasi Saham Lewat PBV
Selain PER, investor juga menggunakan Price to Book Value atau PBV.
PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan atau ekuitas bersih.
Cara Menghitung PBV
Rumusnya adalah:
PBV = Harga Saham ÷ Nilai Buku per Saham
Contoh:
- Harga saham Rp5.000.
- Nilai buku Rp2.500.
- PBV = 2 kali.
Artinya, investor membayar dua kali lipat nilai aset bersih perusahaan.
Secara teori, PBV di bawah satu kali menunjukkan harga saham berada di bawah nilai buku perusahaan.
PBV Rendah Belum Tentu Murah
Investor juga harus berhati-hati ketika menemukan saham dengan PBV rendah.
Beberapa penyebabnya antara lain:
- Kualitas aset kurang baik.
- Utang perusahaan sangat besar.
- Industri sedang mengalami penurunan.
- Prospek bisnis memburuk.
Dengan kata lain, PBV rendah bisa menjadi peluang, tetapi juga dapat menjadi jebakan nilai atau value trap.
PBV Lebih Cocok untuk Industri Tertentu
PBV sangat efektif digunakan pada sektor yang memiliki aset besar, seperti:
- Perbankan.
- Properti.
- Infrastruktur.
- Industri manufaktur tertentu.
Sebaliknya, perusahaan teknologi lebih banyak memiliki aset tidak berwujud seperti perangkat lunak, hak cipta, maupun sumber daya manusia. Pada sektor tersebut, PER dan nilai intrinsik biasanya lebih relevan.
Menghitung Nilai Intrinsik Saham
Selain PER dan PBV, investor profesional juga memperhitungkan nilai intrinsik.
Nilai intrinsik merupakan estimasi nilai sebenarnya dari suatu perusahaan berdasarkan kondisi fundamentalnya.
Pendekatan Nilai Buku
Cara paling sederhana adalah menghitung ekuitas perusahaan.
Misalnya:
- Total aset Rp10 triliun.
- Total kewajiban Rp4 triliun.
- Ekuitas Rp6 triliun.
- Jumlah saham beredar satu miliar lembar.
Maka nilai buku per saham sebesar Rp6.000.
Jika harga pasar hanya Rp4.500, berarti saham tersebut diperdagangkan di bawah nilai bukunya.
Pendekatan Arus Kas
Metode lain adalah menggunakan proyeksi arus kas masa depan atau dividen.
Investor memperkirakan seluruh arus kas yang akan diterima, kemudian menghitung nilai saat ini menggunakan tingkat diskonto tertentu.
Pendekatan ini lebih kompleks, tetapi sering digunakan oleh analis profesional untuk menentukan harga wajar suatu perusahaan.
Membandingkan Nilai Intrinsik
Cara membaca hasilnya cukup sederhana.
- Harga pasar lebih rendah dari nilai intrinsik berarti saham berpotensi undervalued.
- Harga pasar lebih tinggi dari nilai intrinsik berarti saham berpotensi overvalued.
Namun demikian, nilai intrinsik tetap merupakan estimasi yang bergantung pada berbagai asumsi.
Menggabungkan PER, PBV, dan Nilai Intrinsik
Menggunakan satu rasio saja dapat menghasilkan kesimpulan yang kurang tepat.
Karena itu, investor sebaiknya mengombinasikan ketiga indikator tersebut.
PER membantu melihat valuasi dari sisi laba perusahaan.
PBV menunjukkan bagaimana pasar menghargai aset bersih perusahaan.
Sementara itu, nilai intrinsik menjadi alat validasi apakah harga pasar masih berada di bawah nilai wajarnya.
Apabila ketiganya sama-sama menunjukkan valuasi menarik, peluang investasi biasanya menjadi lebih besar.
Sebaliknya, jika hanya satu indikator yang terlihat murah, investor perlu melakukan analisis lebih dalam.
Membaca Valuasi Historis Saham
Selain melihat angka saat ini, investor juga perlu memperhatikan histori valuasi.
Perubahan PER dan PBV dibanding rata-rata beberapa tahun terakhir sering memberikan gambaran yang lebih akurat.
Sebagai contoh:
- TLKM pernah diperdagangkan dengan PBV sekitar 1,9 kali, lebih rendah dibanding rata-rata lima tahunnya.
- ASII memiliki PER sekitar 6,4 kali, di bawah rata-rata historisnya.
- INDF juga sempat diperdagangkan pada PER yang lebih rendah dibanding rata-rata lima tahun.
Semakin jauh PER atau PBV berada di bawah rata-rata historisnya, semakin besar peluang saham tersebut sedang berada pada valuasi yang relatif murah.
Namun, investor tetap harus memastikan bahwa penurunan valuasi bukan disebabkan oleh memburuknya fundamental perusahaan.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Investor Saat Menilai Valuasi Saham
Masih banyak investor yang melakukan kesalahan saat melakukan analisis fundamental.
Beberapa kesalahan yang paling sering terjadi meliputi:
- Menganggap harga saham murah berarti valuasinya murah.
- Membandingkan PER antar sektor yang berbeda.
- Hanya menggunakan satu rasio valuasi.
- Mengabaikan kondisi fundamental perusahaan.
- Tidak melihat tren historis PER dan PBV.
- Mengabaikan siklus bisnis perusahaan.
- Terjebak pada saham yang tampak murah tetapi sebenarnya mengalami penurunan kualitas bisnis.
Selain itu, investor juga sering terburu-buru membeli saham hanya karena melihat penurunan harga yang tajam. Padahal, penurunan tersebut bisa saja mencerminkan memburuknya prospek perusahaan.
Kesimpulan
Memahami valuasi saham merupakan langkah penting sebelum mengambil keputusan investasi. Harga saham yang rendah belum tentu murah, sedangkan harga saham yang tinggi belum tentu mahal.
Investor sebaiknya menggunakan PER untuk melihat valuasi berdasarkan laba, PBV untuk menilai harga terhadap aset bersih, serta nilai intrinsik sebagai estimasi harga wajarnya.
Selain itu, membandingkan rasio tersebut dengan data historis dan perusahaan sejenis akan menghasilkan analisis yang lebih objektif. Dengan pendekatan yang komprehensif, investor dapat mengurangi risiko salah membeli saham serta menghindari jebakan value trap.
Bagi investor yang ingin melakukan analisis lebih mendalam, berbagai platform investasi kini juga menyediakan data historis PER, PBV, estimasi target harga, hingga proyeksi kinerja keuangan. Informasi tersebut dapat menjadi pelengkap sebelum memutuskan membeli maupun menjual suatu saham.





