ADRO, ADMR, dan AADI Kompak Catat Kinerja Semester I/2026, Mana Paling Menarik?

Dwi Prakoso

ADRO, ADMR, dan AADI Kompak Catat Kinerja Semester I/2026, Mana Paling Menarik?
Ilustrasi: kinerja ADRO ADMR AADI

Ruanginvest.comJakarta, tiga emiten Grup AlamTri, yakni ADRO, ADMR, dan AADI, kompak mencatatkan kinerja positif pada semester I/2026. Ketiganya menunjukkan pertumbuhan dengan sumber penggerak yang berbeda.

ADRO mencatat pertumbuhan laba bersih paling tinggi. Laba perusahaan mencapai US$309 juta atau naik 76,8 persen. Sementara itu, pendapatan tumbuh 16,5 persen menjadi US$999,2 juta.

Di sisi lain, ADMR membukukan pendapatan US$583 juta dan laba bersih US$174 juta. AADI mencatat pendapatan sekitar US$2,5 miliar dengan laba bersih US$473 juta. Karena itu, kinerja ADRO, ADMR, dan AADI menawarkan cerita yang berbeda bagi investor pada paruh kedua 2026.

Kinerja ADRO ADMR AADI pada Semester I/2026

Tiga emiten Grup AlamTri tersebut menjalankan bisnis dengan karakter yang berbeda. ADRO mengandalkan sejumlah bisnis pertambangan dan jasa pertambangan. ADMR bertumpu pada batu bara metalurgi serta pengembangan smelter aluminium.

Sementara itu, AADI masih memperoleh kontribusi terbesar dari bisnis batu bara. Perusahaan juga mulai mendapatkan kontribusi dari bisnis logistik serta penyewaan aset pembangkit listrik dan jasa penunjangnya.

Menariknya, ketiga emiten tersebut memiliki katalis masing-masing untuk semester II/2026. ADMR mulai memasuki tahap ekspor aluminium perdana. AADI juga memiliki potensi katalis dari rencana divestasi saham Kestrel.

ADRO sendiri mencatat pertumbuhan laba yang paling kuat. Namun, investor tetap perlu mencermati arus kas serta peningkatan kewajiban akibat ekspansi grup.

ADRO Catat Pertumbuhan Laba 76,8 Persen

ADRO mencatat laba bersih US$309 juta pada semester I/2026. Angka tersebut tumbuh 76,8 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga naik 16,5 persen menjadi US$999,2 juta.

Pertumbuhan laba tersebut melampaui pertumbuhan pendapatan. Efisiensi biaya menjadi salah satu faktor utama. Beban pokok pendapatan hanya meningkat 0,5 persen saat pendapatan tumbuh 16,5 persen.

Akibatnya, laba kotor ADRO tumbuh 48,7 persen menjadi US$422,7 juta. Gross profit margin atau GPM juga meningkat dari 33,1 persen menjadi 42,3 persen.

Selain itu, bisnis jasa pertambangan memberikan kontribusi positif. Pendapatan segmen tersebut tumbuh 3,3 persen menjadi US$470,8 juta. Pada saat yang sama, beban pokok segmen turun 10 persen menjadi US$276 juta.

Kondisi tersebut mendorong laba segmen naik 53,9 persen menjadi US$92,6 juta. Bisnis pertambangan metalurgi ADMR juga memberikan kontribusi dengan pertumbuhan sekitar 31,4 persen.

ADRO juga memperoleh tambahan pendapatan dividen sebesar US$33,53 juta. Sebelumnya, perusahaan belum mencatatkan pendapatan tersebut. Pendapatan dan beban lain-lain kemudian berbalik menjadi positif US$17,42 juta dari negatif US$20,6 juta.

Namun, arus kas operasi menjadi catatan penting. Arus kas operasi ADRO berbalik negatif US$42,91 juta dari sebelumnya positif US$333,2 juta. Pembayaran kepada pemasok dan kontraktor meningkat menjadi US$803 juta dari US$339,9 juta.

Kondisi itu menunjukkan kebutuhan kas yang besar untuk ekspansi grup. Salah satunya berkaitan dengan smelter aluminium ADMR yang mencatat arus kas operasi negatif sekitar US$173 juta.

Dari sisi neraca, utang bank ADRO naik sekitar 58 persen menjadi US$1,18 miliar. Liabilitas sewa juga melonjak 890 persen menjadi US$755 juta. Kenaikan tersebut berkaitan dengan penyewaan pembangkit listrik kepada PT Kaltara Power Indonesia senilai sekitar US$690,65 juta.

Secara teknikal, saham ADRO bergerak dekat resistance 2.950. Posisi RSI juga sudah berada di area overbought. Karena itu, investor perlu mengantisipasi risiko profit taking dalam jangka pendek.

Meski begitu, tren kenaikan masih menarik untuk diperhatikan. Area support 2.560 menjadi level yang dapat dipantau jika terjadi koreksi atau buy on retracement.

ADMR Andalkan Batu Bara Metalurgi dan Katalis Aluminium

ADMR membukukan pendapatan US$583 juta pada semester I/2026. Angka tersebut tumbuh 31,5 persen. Laba bersih juga naik 24 persen menjadi US$174 juta.

Pertumbuhan laba kotor bahkan mencapai 54,2 persen menjadi US$277,8 juta. Dengan demikian, GPM meningkat dari 40,6 persen menjadi 47,6 persen.

Batu bara metalurgi masih menjadi motor utama bisnis ADMR. Pendapatan segmen tersebut tumbuh 31,7 persen menjadi sekitar US$581 juta. Laba segmen juga meningkat 45,5 persen menjadi US$209,5 juta.

Sementara itu, bisnis smelter aluminium masih mencatat kerugian. Segmen tersebut membukukan rugi US$45,5 juta hingga semester I/2026. Namun, ekspor aluminium perdana mulai membuka peluang perubahan kinerja pada semester II/2026.

ADMR mencatat persediaan aluminium sekitar US$319 juta dalam laporan kuartal II/2026. Perusahaan juga telah melakukan hedging sekitar 60.675 ton untuk periode Juli hingga September 2026.

Karena itu, kuartal III/2026 menjadi periode penting bagi ADMR. Investor dapat mencermati seberapa besar persediaan tersebut berubah menjadi pendapatan. Perkembangan laba-rugi segmen aluminium juga menjadi perhatian utama.

Meskipun begitu, smelter yang baru beroperasi belum tentu langsung mencapai efisiensi optimal. Pendapatan yang mulai masuk juga belum otomatis membuat segmen tersebut mencatat laba.

Secara teknikal, ADMR menunjukkan tren naik dalam jangka pendek. Pergerakan saham mengikuti MA20 harian dengan cukup rapi. Area 1.650 dapat menjadi support yang perlu dipantau, sedangkan resistance berada di sekitar 1.920.

AADI Punya Katalis Divestasi Kestrel

AADI mencatat laba bersih US$473 juta pada semester I/2026. Laba tersebut tumbuh 10,5 persen. Pendapatan perusahaan juga naik 6,1 persen menjadi sekitar US$2,5 miliar.

Efisiensi biaya turut mendukung kinerja AADI. GPM meningkat dari 29 persen menjadi 30,7 persen. Sementara itu, laba kotor tumbuh 12,5 persen.

Bisnis pertambangan batu bara tetap menjadi kontributor terbesar. Segmen tersebut menghasilkan pendapatan sekitar US$2,38 miliar atau tumbuh 3,8 persen.

Di sisi lain, bisnis logistik mencatat pertumbuhan lebih tinggi. Pendapatan segmen tersebut tumbuh 20,2 persen. Selain itu, penyewaan aset pembangkit listrik mulai memberikan kontribusi baru bagi perusahaan.

Segmen listrik dan jasa penunjangnya mencatat pendapatan perdana US$44,21 juta. Segmen tersebut juga menghasilkan laba sekitar US$22,6 juta. Sebelumnya, segmen ini mencatat rugi US$1,1 juta.

Bisnis tersebut berjalan melalui PT Kaltara Power Indonesia. Perusahaan itu mendapatkan transaksi dari PT Kalimantan Aluminium Industry untuk mendukung smelter aluminium ADMR.

Selain kinerja operasional, rencana divestasi saham Kestrel kepada Yancoal Australia Ltd menjadi katalis penting bagi AADI. Transaksi tersebut belum masuk dalam laporan semester I/2026 karena masih berada dalam proses.

AADI berpotensi memperoleh keuntungan sekitar US$152,3 juta dari transaksi tersebut. Nilai tercatat Kestrel sekitar US$735 juta. Sementara itu, nilai transaksi yang berpotensi diterima AADI sebagai pemilik 47,9 persen saham Kestrel mencapai sekitar US$888 juta.

Jika transaksi selesai pada semester II/2026, laba bersih AADI berpotensi meningkat. Annualized laba semester I mencapai US$947,5 juta. Dengan tambahan keuntungan divestasi sekitar US$121 juta hingga US$152 juta, laba bersih berpotensi mencapai US$1,06 miliar hingga US$1,09 miliar.

Dengan asumsi payout ratio 60 persen seperti tahun buku 2025, dividen berpotensi mencapai sekitar Rp1.215 per saham. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi kurs Rp17.757 per dolar AS.

Dari sisi teknikal, kenaikan AADI sudah cukup cepat. Saham juga sempat membentuk gap up. Area 10.300 dapat menjadi support terdekat yang perlu dipantau.

Sementara itu, resistance berada di sekitar 11.625. Kenaikan yang cepat membuat saham ini kurang menarik untuk dikejar bagi investor yang tidak siap menghadapi volatilitas. Namun, volume beli masih cukup tinggi dalam jangka pendek.

Mana yang Paling Menarik pada Semester II/2026?

Ketiga saham tersebut sama-sama memiliki tren kenaikan secara teknikal. Karena itu, strategi buy on retracement dapat menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan. Investor tetap perlu menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing.

ADRO unggul dari sisi pertumbuhan laba dan efisiensi. Namun, arus kas operasi yang negatif serta peningkatan kewajiban menjadi faktor yang perlu investor cermati.

ADMR menawarkan katalis dari ekspansi aluminium. Ekspor perdana dapat menjadi perkembangan penting pada semester II/2026. Meski begitu, investor masih perlu melihat kemampuan smelter tersebut meningkatkan profitabilitas.

Sementara itu, AADI memiliki kombinasi kinerja operasional yang solid dan katalis dari rencana divestasi Kestrel. Potensi dividen juga menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian.

Dengan demikian, semester II/2026 menjadi periode penting bagi ketiganya. ADRO perlu menunjukkan bahwa ekspansi dapat menghasilkan arus kas yang lebih kuat. ADMR perlu membuktikan perbaikan kinerja bisnis aluminium. Sementara itu, AADI berpeluang memperoleh tambahan laba material jika divestasi Kestrel terealisasi.

Pada akhirnya, pilihan saham paling menarik tetap bergantung pada tujuan dan profil risiko setiap investor. Ketiga emiten memiliki katalis sekaligus risiko yang berbeda. Investor perlu mencermati perkembangan kinerja dan pergerakan harga sebelum mengambil keputusan investasi.

Pantau Pergerakan ADRO, ADMR, dan AADI

Investor dapat memantau perkembangan kinerja ADRO, ADMR, dan AADI melalui pergerakan harga saham serta laporan keuangan terbaru. Data tersebut dapat membantu investor mengikuti perubahan fundamental dan teknikal masing-masing emiten.

Namun, pergerakan saham dapat berubah dengan cepat. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan risiko dan menentukan strategi sesuai keputusan investasi masing-masing.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi investor. Informasi mengenai saham tidak menjadi rekomendasi, ajakan, usulan, atau paksaan untuk melakukan transaksi jual maupun beli efek. Harga saham dapat berfluktuasi secara real-time. Investor perlu memahami risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Technical Rebound Saham Grup Barito Warnai Pergerakan IHSG

Technical Rebound Saham Grup Barito Warnai Pergerakan IHSG

Kunjungi Artikel