Daftar Isi 5 bagian
RuangInvest.com – Jakarta, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun untuk melaksanakan pembelian kembali saham atau buyback tahap II pada 2026. Perseroan menjadwalkan aksi korporasi ini berlangsung hingga 21 Januari 2027.
Berdasarkan keterbukaan informasi pada Kamis (22/10/2026), BRI telah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjalankan rencana tersebut. Perseroan akan membeli saham melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mempertimbangkan kondisi pasar, likuiditas, dan permodalan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya BRI menjaga stabilitas pasar modal ketika kondisi perdagangan mengalami fluktuasi signifikan. Selain itu, perseroan berencana memanfaatkan saham hasil buyback untuk mendukung program kepemilikan saham bagi pekerja, direksi, dan dewan komisaris setelah memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).
Jadwal Buyback Saham BBRI hingga Januari 2027
BRI menetapkan periode pelaksanaan buyback mulai 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027. Dengan demikian, perseroan memiliki waktu sekitar tiga bulan untuk merealisasikan pembelian kembali saham tersebut.
Dalam pelaksanaannya, BRI dapat membeli saham secara bertahap maupun sekaligus melalui BEI. Perseroan akan menyesuaikan waktu dan jumlah pembelian dengan kondisi likuiditas serta kebutuhan permodalan.
BRI mengalokasikan dana maksimal Rp1 triliun dari kas internal untuk mendukung aksi korporasi ini. Anggaran tersebut belum mencakup biaya transaksi yang diperkirakan mencapai maksimal 0,20 persen dari nilai pembelian kembali saham.
Selain menentukan anggaran, BRI juga memperhatikan batas kepemilikan saham hasil buyback. Perseroan memastikan jumlah saham yang dimiliki setelah pembelian kembali tidak melampaui 10 persen dari modal ditempatkan, sesuai ketentuan yang berlaku.
Tujuan Buyback Saham BBRI dan Rencana Pemanfaatannya
Melalui buyback tahap II ini, BRI berupaya mendukung stabilitas pasar modal di tengah pergerakan harga saham yang berfluktuasi. Namun, pembelian kembali saham tidak menjamin harga BBRI akan langsung menguat atau terus meningkat selama periode pelaksanaan.
Di sisi lain, BRI telah merencanakan pemanfaatan saham hasil buyback untuk program kepemilikan saham bagi pekerja, direksi, dan dewan komisaris. Perseroan akan menempuh proses persetujuan RUPS sebelum menjalankan rencana tersebut.
Program kepemilikan saham dapat menjadi bagian dari upaya perusahaan menyelaraskan kepentingan pekerja dan manajemen dengan kinerja jangka panjang perseroan. Meski demikian, realisasi program tersebut tetap bergantung pada persetujuan pemegang saham dan ketentuan yang berlaku.
Bagi investor, rencana buyback menjadi salah satu informasi yang perlu diperhatikan ketika menilai prospek saham BBRI. Investor tetap perlu mencermati perkembangan kinerja keuangan, kondisi industri perbankan, serta pergerakan pasar secara keseluruhan.
Dampak Buyback terhadap Aset dan Ekuitas BRI
BRI memperkirakan buyback ini tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap pendapatan maupun biaya operasional perseroan. Meskipun begitu, penggunaan kas untuk membeli kembali saham akan mengurangi aset dan ekuitas sesuai nilai transaksi yang terealisasi.
Berdasarkan proforma dengan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, total aset BRI diproyeksikan turun dari Rp2.342,80 triliun menjadi Rp2.341,80 triliun. Sementara itu, total ekuitas diperkirakan berkurang dari Rp333,62 triliun menjadi Rp332,62 triliun.
Perubahan tersebut mencerminkan penggunaan dana internal untuk membiayai pembelian kembali saham. Dalam proforma tersebut, BRI memperhitungkan penurunan aset dan ekuitas maksimal Rp1 triliun, di luar biaya transaksi.
Investor perlu memahami bahwa angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan asumsi transaksi maksimal. Nilai perubahan aktual dapat berbeda apabila BRI merealisasikan buyback dengan jumlah yang lebih rendah dari alokasi dana yang tersedia.
EPS BBRI Diproyeksikan Naik, CAR Sedikit Turun
Selain aset dan ekuitas, BRI juga memperkirakan perubahan pada sejumlah rasio keuangan setelah buyback. Salah satunya adalah laba bersih per saham atau earnings per share (EPS), yang mencerminkan laba bersih untuk setiap lembar saham.
Dalam proforma perseroan, EPS diproyeksikan meningkat dari Rp206,94 menjadi Rp207,50. Kenaikan tersebut sejalan dengan berkurangnya jumlah saham beredar yang menjadi dasar penghitungan laba per saham, dengan asumsi lainnya tetap.
Namun, investor perlu membedakan kenaikan EPS secara matematis dengan pertumbuhan laba bersih perusahaan. Buyback dapat meningkatkan laba per saham tanpa harus menaikkan laba bersih secara langsung.
Sementara itu, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) diproyeksikan turun tipis dari 21,49 persen menjadi 21,42 persen. Rasio ini menunjukkan kemampuan bank menyediakan modal untuk menanggung risiko asetnya.
Di sisi lain, imbal hasil ekuitas atau return on equity (ROE) diperkirakan naik dari 18,79 persen menjadi 18,80 persen. Perubahan tersebut relatif kecil sehingga investor tetap perlu menilai profitabilitas BRI berdasarkan keseluruhan kinerja keuangan, bukan hanya satu indikator.
Hal yang Perlu Diperhatikan Investor Saham BBRI
Rencana buyback senilai maksimal Rp1 triliun memberikan informasi tambahan bagi investor yang memantau saham BBRI. Meski demikian, investor perlu menilai aksi korporasi ini bersama faktor lain yang memengaruhi harga saham.
Pertama, investor perlu memantau realisasi pembelian kembali saham selama periode 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027. Pengumuman mengenai perkembangan transaksi dapat membantu investor memahami sejauh mana perseroan menggunakan anggaran yang tersedia.
Kedua, perkembangan kinerja keuangan BRI tetap menjadi faktor penting. Pertumbuhan kredit, kualitas aset, biaya pencadangan, pendapatan bunga, dan efisiensi operasional dapat memengaruhi prospek bisnis bank.
Ketiga, investor perlu memperhatikan kondisi pasar modal dan sentimen terhadap sektor perbankan. Fluktuasi indeks saham, arus dana investor, serta perubahan ekspektasi ekonomi dapat memengaruhi pergerakan BBRI meskipun perseroan menjalankan buyback.
Keempat, investor sebaiknya menyesuaikan keputusan investasi dengan tujuan dan toleransi risiko masing-masing. Buyback bukan jaminan keuntungan, sehingga keputusan membeli, mempertahankan, atau menjual saham tetap memerlukan pertimbangan menyeluruh.
Dengan alokasi dana maksimal Rp1 triliun, BRI menjadwalkan buyback tahap II hingga Januari 2027. Perseroan memperkirakan aksi ini hanya menimbulkan perubahan terbatas pada sejumlah indikator keuangan, termasuk kenaikan EPS dan ROE serta penurunan tipis CAR.
Bagi pemegang saham, perkembangan realisasi buyback dan kinerja fundamental BRI menjadi dua hal penting untuk dipantau. Dengan demikian, investor dapat menilai dampak aksi korporasi secara lebih proporsional tanpa menganggapnya sebagai jaminan kenaikan harga saham.




