Rabu, 28 Oktober 2026Berita Seputar Investasi Terbaru
RuangInvest.com
Berita Seputar Investasi Terbaru

Kapan Waktu Terbaik Beli Saham GOTO Lagi? Simak Harga Wajar dan Strategi Akumulasi

Oleh Dwi Prakoso · Oktober 10, 2026 · 4:27 pm
Daftar Isi 13 bagian

RuangInvest.com – Jakarta, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi tekanan jual setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas harga minimum Rp50 per saham mulai 28 September 2026. Penurunan harga hingga Rp27 per saham memunculkan pertanyaan penting bagi investor: apakah sekarang waktu yang tepat untuk membeli saham GOTO kembali?

Penurunan tajam memang membuka peluang bagi investor yang mencari saham berharga murah. Namun, harga rendah tidak selalu berarti saham tersebut menawarkan nilai investasi yang menarik. Investor perlu memeriksa kondisi keuangan perusahaan, kemampuan menghasilkan laba, serta tekanan jual yang masih membayangi pergerakan harga.

Menurut saya, investor sebaiknya tidak terburu-buru mengakumulasi saham GOTO hanya karena harganya sudah turun jauh. Pendekatan yang lebih rasional ialah menilai valuasi, menunggu tanda stabilisasi harga, dan membatasi risiko sejak awal.

Mengapa Saham GOTO Turun hingga Rp27?

Berdasarkan bahan analisis yang terbit pada awal Oktober 2026, saham GOTO mengalami empat kali penurunan berturut-turut melalui mekanisme auto rejection bawah (ARB) setelah BEI menghapus batas harga Rp50 pada 28 September 2026. Pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, saham ini bertahan di level Rp27 per lembar.

Pergerakan tersebut menunjukkan betapa kuat tekanan jual yang mengiringi perubahan mekanisme perdagangan. Sebelumnya, batas harga minimum Rp50 menahan saham tertentu agar tidak bergerak di bawah level tersebut. Setelah BEI menghapus batas itu, pasar dapat membentuk harga yang lebih rendah sesuai mekanisme perdagangan yang berlaku.

Selain perubahan aturan, aktivitas penyesuaian portofolio investor institusi juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Bahan analisis tersebut menyoroti kemungkinan penjualan dari pengelola dana pasif dan penyesuaian indeks. Namun, investor tetap perlu memeriksa data transaksi terbaru sebelum menyimpulkan bahwa kelompok tertentu menjadi penyebab utama penurunan.

Jika dibandingkan dengan harga penawaran umum perdana atau IPO sebesar Rp338 per saham, harga Rp27 mencerminkan penurunan sekitar 92 persen. Angka tersebut memang terlihat ekstrem. Meski begitu, penurunan historis tidak otomatis menjamin pemulihan harga dalam waktu dekat.

Harga Wajar Saham GOTO: Apakah Rp27 Sudah Murah?

Salah satu cara untuk menilai valuasi GOTO ialah menggunakan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV). Rasio ini membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan per saham. Investor dapat memakainya sebagai salah satu acuan untuk menilai apakah harga pasar berada di atas atau di bawah nilai bukunya.

Dalam bahan analisis tersebut, asumsi PBV 1 kali menjadi titik acuan penilaian. Pada rasio itu, harga pasar kurang lebih setara dengan nilai buku perusahaan. Analisis yang sama menyebutkan bahwa harga Rp27 berada di sekitar PBV 1 kali berdasarkan perhitungan yang digunakan.

Namun, menurut saya, PBV 1 kali belum cukup untuk menyimpulkan bahwa GOTO sudah murah. Nilai buku hanya menggambarkan satu sisi kondisi perusahaan. Investor juga perlu mempertimbangkan kualitas aset, kemampuan menghasilkan arus kas, prospek pertumbuhan, dan risiko bisnis.

Perusahaan dengan prospek laba yang membaik dapat memperoleh valuasi lebih tinggi. Sebaliknya, perusahaan yang kesulitan menghasilkan keuntungan berkelanjutan dapat mengalami penurunan valuasi. Karena itu, investor perlu menilai PBV bersama indikator fundamental lainnya.

Bahan analisis tersebut juga mencatat transaksi Morgan Stanley pada harga Rp25 dan Rp27 per saham pada September 2026. Selain itu, transaksi saham GOTO di pasar negosiasi selama sepekan terakhir berada dalam rentang Rp25–Rp27 per saham.

Meski demikian, investor tidak sebaiknya menjadikan transaksi satu institusi sebagai jaminan harga dasar. Setiap pelaku pasar memiliki strategi, jangka waktu investasi, dan pertimbangan risiko yang berbeda. Harga transaksi sebelumnya juga tidak menjamin bahwa harga akan bertahan pada level yang sama.

Kinerja Keuangan GOTO Menunjukkan Perbaikan

Di tengah tekanan harga saham, kinerja keuangan menjadi salah satu aspek yang patut mendapat perhatian. Berdasarkan bahan yang tersedia, GOTO membukukan laba Rp171 miliar pada kuartal I 2026. Perusahaan kemudian mencatat laba Rp252 miliar pada kuartal II 2026.

Perolehan laba selama dua kuartal berturut-turut memberikan sinyal positif bagi perkembangan bisnis perusahaan. Jika perusahaan mampu mempertahankan tren tersebut, pasar berpeluang memberikan penilaian yang lebih baik terhadap prospek GOTO.

Namun, investor tetap perlu memeriksa laporan keuangan lengkap. Mereka perlu membedakan laba bersih, laba operasional, arus kas, dan faktor nonberulang yang mungkin memengaruhi hasil perusahaan. Dengan demikian, investor dapat menilai apakah keuntungan tersebut mencerminkan perbaikan bisnis yang berkelanjutan.

Bahan analisis yang sama juga mencatat saldo rugi sebesar Rp214 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menuju pemulihan keuangan jangka panjang masih membutuhkan perhatian serius. Investor perlu memeriksa komponen ekuitas dan laporan keuangan terbaru untuk memahami dampaknya terhadap valuasi.

Menurut saya, dua kuartal yang menghasilkan laba merupakan perkembangan yang layak diapresiasi, tetapi belum cukup untuk memastikan pemulihan perusahaan. GOTO masih perlu membuktikan konsistensi keuntungan, menjaga efisiensi operasional, dan memperkuat kemampuan menghasilkan arus kas.

Kapan Waktu Terbaik Membeli Saham GOTO Lagi?

Menurut saya, waktu pembelian yang lebih rasional muncul ketika tekanan jual mulai mereda dan harga menunjukkan tanda stabilisasi. Investor tidak harus membeli tepat di harga terendah. Sebaliknya, mereka perlu mencari kombinasi valuasi yang masuk akal, perbaikan fundamental, dan konfirmasi pergerakan pasar.

Ada beberapa indikator yang dapat investor pantau sebelum memutuskan untuk mengakumulasi saham GOTO.

  • Tekanan jual berkurang. Perhatikan apakah penurunan harga mulai melambat dan transaksi jual tidak lagi mendominasi perdagangan.
  • Permintaan mulai menguat. Amati volume transaksi dan kemampuan harga bertahan ketika penjual kembali menekan pasar.
  • Kinerja keuangan konsisten. Periksa laporan terbaru untuk memastikan perusahaan mampu mempertahankan laba dan memperbaiki arus kas.
  • Valuasi tetap masuk akal. Bandingkan harga pasar dengan nilai buku, prospek laba, dan risiko bisnis perusahaan.
  • Risiko sesuai kemampuan modal. Tentukan batas kerugian dan alokasi dana sebelum melakukan transaksi.

Selain itu, investor perlu mencermati laporan keuangan kuartal III 2026 ketika perusahaan merilisnya. Hasil tersebut dapat membantu pasar menilai apakah tren laba sebelumnya berlanjut. Namun, laporan yang positif sekalipun tidak menjamin harga saham langsung naik karena pelaku pasar juga mempertimbangkan ekspektasi dan kondisi pasar secara keseluruhan.

Jika investor memilih membeli sebelum muncul konfirmasi yang kuat, mereka perlu menerima risiko yang lebih tinggi. Strategi tersebut lebih cocok bagi investor yang memahami volatilitas saham dan memiliki rencana keluar yang jelas. Bagi investor konservatif, menunggu harga stabil mungkin lebih sesuai meskipun berisiko kehilangan sebagian peluang kenaikan awal.

Strategi Akumulasi GOTO agar Risiko Lebih Terkendali

Harga GOTO yang sudah turun tajam dapat menggoda investor untuk langsung membeli dalam jumlah besar. Namun, strategi tersebut berisiko jika tekanan jual ternyata belum selesai. Karena itu, saya lebih menyarankan pendekatan bertahap daripada menggunakan seluruh modal pada satu level harga.

Investor dapat menyusun rencana akumulasi dengan beberapa tahapan berikut.

  1. Tentukan anggaran khusus. Gunakan dana investasi yang tidak diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari atau kewajiban jangka pendek.
  2. Bagi modal menjadi beberapa bagian. Sisakan dana untuk peluang berikutnya agar investor tidak kehabisan likuiditas saat harga bergerak berlawanan.
  3. Tunggu konfirmasi pasar. Amati pergerakan harga, volume transaksi, dan respons pembeli ketika harga mendekati area terendah sebelumnya.
  4. Evaluasi fundamental secara berkala. Periksa laporan keuangan, perkembangan bisnis, serta kemampuan perusahaan mempertahankan profitabilitas.
  5. Tetapkan batas risiko. Tentukan kondisi yang mengharuskan investor mengurangi posisi atau menghentikan penambahan modal.

Investor juga perlu memahami mekanisme ARB. Ketika harga saham mendekati batas penurunan harian, ruang penurunan pada satu sesi dapat terlihat lebih kecil dalam nominal rupiah. Namun, kondisi itu tidak menghilangkan risiko kerugian. Harga tetap dapat turun lagi pada sesi berikutnya jika tekanan jual berlanjut.

Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak menjadikan anggapan bahwa harga akan segera mencapai titik terendah sebagai dasar keputusan. Tidak ada pihak yang dapat memastikan bahwa saham GOTO tidak akan turun lebih jauh. Skenario ekstrem tetap perlu masuk dalam perhitungan risiko.

Sudut Pandang Investor: Murah Belum Tentu Menarik

Menurut saya, persoalan utama saham GOTO saat ini bukan hanya menentukan apakah harga Rp27 sudah murah. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah potensi keuntungan dari harga tersebut sebanding dengan risiko penurunan lanjutan dan ketidakpastian pemulihan bisnis.

Investor jangka pendek perlu memperhatikan momentum, volume, dan tekanan jual. Sementara itu, investor jangka panjang sebaiknya lebih fokus pada pertumbuhan pendapatan, kualitas laba, efisiensi, dan arus kas. Kedua pendekatan tersebut membutuhkan strategi yang berbeda.

Di sisi lain, membeli saham hanya karena harganya jauh di bawah harga IPO dapat menimbulkan bias. Harga IPO merupakan nilai historis, bukan jaminan nilai wajar saat ini. Perubahan kondisi bisnis dan prospek perusahaan dapat mengubah penilaian pasar secara signifikan.

Saya menilai strategi terbaik ialah menunggu bukti bahwa tekanan jual mulai mereda sambil mengevaluasi kinerja terbaru. Investor yang memiliki toleransi risiko tinggi dapat mempertimbangkan pembelian bertahap sesuai rencana. Namun, investor yang tidak siap menghadapi penurunan tajam sebaiknya tidak memaksakan diri masuk ke saham berisiko tinggi.

Kesimpulan

Saham GOTO di level Rp27 per lembar, berdasarkan data perdagangan 2 Oktober 2026 dalam bahan analisis, sudah berada di sekitar nilai buku menurut asumsi PBV 1 kali. Perusahaan juga mencatat laba Rp171 miliar pada kuartal I dan Rp252 miliar pada kuartal II 2026. Meski demikian, tekanan jual dan saldo rugi yang besar tetap menjadi faktor risiko.

Menurut saya, investor tidak perlu terburu-buru membeli hanya karena harga sudah turun jauh. Tunggu tanda stabilisasi, evaluasi laporan keuangan kuartal III 2026 ketika tersedia, dan susun strategi akumulasi sesuai kemampuan modal. Dengan pendekatan tersebut, investor dapat mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan risiko dan fundamental, bukan sekadar berharap harga segera memantul.

FAQ Seputar Saham GOTO

1. Apakah saham GOTO di harga Rp27 sudah murah?

Harga Rp27 berada di sekitar PBV 1 kali menurut asumsi dalam bahan analisis. Namun, investor perlu memeriksa fundamental, prospek laba, dan risiko bisnis sebelum menyimpulkan bahwa saham tersebut murah.

2. Kapan waktu terbaik untuk membeli saham GOTO?

Investor dapat mempertimbangkan pembelian ketika tekanan jual mereda, harga menunjukkan stabilisasi, dan fundamental mendukung prospek pemulihan. Tidak ada jaminan bahwa satu level harga tertentu menjadi titik terendah.

3. Apakah investor sebaiknya membeli GOTO secara bertahap?

Pembelian bertahap dapat membantu membatasi risiko penggunaan modal pada satu level harga. Namun, strategi ini tidak menjamin keuntungan dan tetap membutuhkan batas risiko yang jelas.

4. Apa risiko terbesar membeli saham GOTO saat ini?

Risiko utamanya mencakup tekanan jual lanjutan, volatilitas tinggi, ketidakpastian profitabilitas, dan kemungkinan penurunan valuasi. Investor perlu menyesuaikan ukuran posisi dengan kemampuan menanggung kerugian.

5. Apakah laba GOTO pada semester I 2026 menjamin harga saham naik?

Tidak. Laba pada dua kuartal tersebut menjadi perkembangan positif, tetapi harga saham juga dipengaruhi ekspektasi pasar, arus kas, prospek bisnis, dan aktivitas perdagangan. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil investasi pada masa mendatang.

Disclaimer: Artikel ini merupakan opini dan edukasi investasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Data mengacu pada bahan yang tersedia hingga awal Oktober 2026 dan perlu diverifikasi melalui sumber resmi terbaru. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Tag: ·

Suka berbagi informasi finansial :)