Kamis, 29 Oktober 2026Berita Seputar Investasi Terbaru
RuangInvest.com
Berita Seputar Investasi Terbaru

INET Akuisisi SGI Rp280,4 Miliar, Premi 6,7% di Atas Nilai Wajar

Oleh Dwi Prakoso · September 30, 2026 · 3:32 pm
Daftar Isi 7 bagian

Ruanginvest.com – Jakarta, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) telah menyelesaikan akuisisi 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI) senilai Rp280,4 miliar. Transaksi tersebut melibatkan 180.000 saham baru SGI dengan harga Rp1.557.799 per saham.

Harga transaksi itu tercatat 6,70% di atas nilai wajar SGI berdasarkan penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Iwan Bachron & Rekan. KJPP menetapkan nilai wajar sebesar Rp1.459.957 per saham atau sekitar Rp175,2 miliar untuk 100% saham SGI.

Namun, angka premi tersebut perlu dibaca bersama struktur transaksi dan metode valuasi. KJPP memasukkan discount for lack of marketability (DLOM) sebesar 30% karena saham SGI tidak diperdagangkan di bursa. Karena itu, perbedaan asumsi tersebut ikut memengaruhi nilai wajar yang menjadi pembanding harga akuisisi.

INET Akuisisi SGI dengan Setoran Modal Baru

INET tidak membeli saham SGI dari pemegang saham lama. Sebaliknya, perusahaan menyetor modal untuk mengambil 180.000 saham baru yang mewakili 60% kepemilikan SGI.

Transaksi tersebut membuat modal disetor SGI meningkat dari Rp12 miliar menjadi Rp30 miliar. Sementara itu, sisa dana masuk sebagai agio saham. Dengan skema ini, dana Rp280,4 miliar masuk ke kas SGI, bukan kepada pemegang saham lama.

Transaksi selesai pada 15 September 2026. Setelah transaksi tersebut, pemegang saham lama tetap memiliki 40% saham SGI. Mereka juga tetap menjadi pemegang saham minoritas dalam perusahaan.

Selain itu, INET menggunakan fasilitas kredit PT Bank JTrust Indonesia Tbk sebesar Rp350 miliar untuk membiayai transaksi. Fasilitas tersebut memiliki bunga giro 0% ditambah spread 0,5% per tahun.

Karena itu, dana rights issue sebesar Rp3,2 triliun tetap dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Penggunaan tersebut mencakup pembangunan jaringan FTTH melalui GPI, pelunasan IRU, serta kebutuhan modal kerja.

Nilai Wajar SGI dan Premi 6,7%

KJPP menggunakan metode sum of the parts untuk menilai SGI. Penilaian entitas induk menggunakan discounted cash flow (DCF) dengan bobot 90% dan pembanding perusahaan tercatat atau GPTC dengan bobot 10%.

Hasil penilaian memberikan nilai Rp479,1 miliar untuk entitas induk. Nilai DCF mencapai Rp493,8 miliar, sedangkan nilai berdasarkan GPTC mencapai Rp346,6 miliar. Perhitungan GPTC tersebut juga memasukkan premi kendali sebesar 50%.

Sementara itu, KJPP memberikan nilai negatif Rp231,1 miliar untuk anak usaha SGI, yaitu JNM. Penilaian tersebut berkaitan dengan posisi utang JNM kepada pihak berelasi yang mencapai Rp502,6 miliar.

Setelah menggabungkan kedua komponen tersebut, nilai 100% SGI sebelum DLOM mencapai Rp250,3 miliar. Kemudian, KJPP menerapkan DLOM sebesar 30% atau sekitar Rp75,1 miliar.

Dengan demikian, nilai pasar 100% saham SGI menjadi Rp175,2 miliar. Nilai tersebut setara dengan Rp1.459.957 per saham.

DLOM Mengubah Cara Membaca Harga Akuisisi

Premi 6,7% terlihat ketika harga transaksi dibandingkan dengan nilai wajar setelah penerapan DLOM. Selisih harga mencapai Rp97.842 per saham atau sekitar Rp17,6 miliar untuk 180.000 saham baru.

Namun, kondisi tersebut berubah jika investor melihat valuasi sebelum penerapan DLOM. Tanpa potongan likuiditas 30%, nilai SGI mencapai sekitar Rp2,09 juta per saham.

Dengan angka tersebut, harga transaksi Rp1.557.799 justru berada sekitar 25% di bawah nilai sebelum DLOM. Karena itu, besarnya premi sangat bergantung pada asumsi likuiditas yang digunakan dalam penilaian.

Selain itu, transaksi memiliki dampak berbeda setelah memperhitungkan dana yang masuk ke SGI. Setelah memperoleh suntikan modal, nilai SGI menjadi sekitar Rp455,6 miliar. Porsi 60% milik INET kemudian bernilai sekitar Rp273,4 miliar.

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dana transaksi tetap berada di dalam perusahaan target. Karena itu, pembacaan harga akuisisi tidak cukup hanya melihat selisih harga per saham dengan nilai wajar.

Kinerja SGI Menjadi Perhatian Setelah Akuisisi

Valuasi sekitar empat kali laba atau price to earnings ratio (PER) juga perlu dilihat bersama tren kinerja SGI. Pendapatan induk SGI bergerak cukup fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir.

Pendapatan tercatat Rp517,5 miliar pada 2022. Angka tersebut kemudian turun menjadi Rp120,3 miliar pada 2024 sebelum kembali meningkat menjadi Rp291,1 miliar pada 2025.

Sementara itu, laba konsolidasi SGI pada 2025 mencapai Rp44,04 miliar. Kinerja tersebut membaik dibandingkan rugi Rp19,73 miliar pada tahun sebelumnya.

Namun, proyeksi manajemen menunjukkan laba bersih induk dapat turun dari Rp68,6 miliar pada 2026 menjadi Rp20,3 miliar pada 2030. Salah satu faktor yang memengaruhi proyeksi tersebut adalah depresiasi belanja modal kapal sebesar Rp274 miliar.

Di sisi lain, INET mengejar sinergi melalui integrasi vertikal bisnis kabel laut. SGI memiliki dua kapal yang dapat mendukung aktivitas tersebut.

Selain proyeksi laba, laporan keuangan SGI 2025 juga perlu menjadi perhatian. Laporan tersebut memperoleh opini wajar dengan pengecualian. Rasio liabilitas terhadap ekuitas SGI juga berada di sekitar 1,8 kali.

Transaksi SGI Mengubah Struktur Bisnis INET

Akuisisi SGI menjadi transaksi akuisisi ketiga INET pada 2026. Karena itu, perkembangan kinerja INET ke depan akan dipengaruhi oleh hasil konsolidasi perusahaan yang telah diakuisisi.

Pada April 2026, nilai transaksi SGI setara dengan 65,33% ekuitas INET per 31 Desember 2025. Kondisi tersebut membuat transaksi masuk kategori transaksi material dan memerlukan persetujuan RUPS pada 19 Mei 2026.

Setelah rights issue pada Januari 2026 meningkatkan ekuitas INET menjadi sekitar Rp3,81 triliun, porsi transaksi terhadap ekuitas turun menjadi 7,35% berdasarkan posisi 30 Juni 2026.

Dengan demikian, ukuran transaksi terhadap neraca INET berubah cukup signifikan setelah perusahaan memperkuat struktur permodalannya. Selanjutnya, pasar perlu melihat seberapa besar kontribusi SGI terhadap pendapatan dan laba konsolidasi INET.

Pergerakan Saham INET Setelah Pengumuman

Harga saham INET juga bergerak setelah informasi mengenai transaksi tersebut muncul. Pada 15 September 2026, saham INET ditutup di Rp322 atau turun 3,01% dengan volume sekitar 214,2 juta saham.

Kemudian, pada 16 September 2026, saham INET kembali turun 1,86% ke Rp316. Volume perdagangan pada hari tersebut mencapai sekitar 264 juta saham.

Pada 17 September 2026, saham INET naik 6,96% menjadi Rp338. Volume perdagangan mencapai sekitar 477,5 juta saham. Namun, sehari kemudian harga kembali turun 1,78% menjadi Rp332 dengan volume sekitar 399,1 juta saham.

Pergerakan tersebut menunjukkan respons pasar yang berubah dalam waktu singkat. Namun, volume perdagangan perlu dibandingkan dengan rata-rata historis sebelum menarik kesimpulan mengenai akumulasi.

Rata-rata volume harian pada 1 hingga 15 September berada di sekitar 600 juta saham. Karena itu, kenaikan pada 17 September belum menunjukkan volume yang lebih tinggi dari rata-rata tersebut.

Hal yang Perlu Diperhatikan Investor

Perkembangan kinerja SGI menjadi salah satu faktor penting setelah akuisisi. Laporan keuangan kuartal III 2026 akan menjadi periode awal untuk melihat kontribusi SGI dalam laporan konsolidasi INET.

Selain itu, investor dapat memperhatikan perkembangan proyek kabel laut baru serta penggunaan fasilitas kredit Bank JTrust. Perubahan utang INET setelah transaksi juga dapat memberikan gambaran mengenai dampak pembiayaan akuisisi.

Di sisi lain, harga saham INET tetap bergerak mengikuti kondisi pasar dan ekspektasi investor. Karena itu, pergerakan harga tidak dapat dibaca hanya dari nilai akuisisi SGI.

Pada akhirnya, premi 6,7% terhadap nilai wajar KJPP perlu dibaca bersama struktur transaksi, DLOM, kinerja SGI, serta proyeksi laba. Data tersebut memberikan konteks yang lebih lengkap untuk memahami dampak akuisisi terhadap INET.

Dengan demikian, perkembangan laporan keuangan setelah konsolidasi SGI menjadi salah satu informasi penting untuk melihat apakah transaksi tersebut mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja INET.

Tag:

Suka berbagi informasi finansial :)