Ruanginvest.com – JAKARTA, Liberland berbasis blockchain kembali menjadi sorotan setelah eksperimen negara mikro itu memperlihatkan gagasan pemerintahan digital yang didukung sejumlah tokoh besar industri kripto.
Liberland berdiri di wilayah dataran banjir berlumpur di tepi Sungai Danube, antara Serbia dan Kroasia. Dari perahu, kawasan itu tampak sederhana dengan pepohonan, tenda, dan rumah pohon. Namun, konsep virtual yang dirancang firma arsitektur Zaha Hadid menampilkan menara berkilau, taman publik terapung, serta fitur air futuristis.
Presiden Liberland, Vít Jedlička, mendirikan negara mikro tersebut dengan tujuan membangun negara digital yang libertarian dan berjalan menggunakan teknologi serupa mata uang kripto. Meski belum diakui sebagai negara berdaulat, Liberland menjadi salah satu prototipe gagasan tentang pemerintahan tanpa batas tradisional.
Liberland berbasis blockchain dan sistem suara berbayar
Dalam sistem Liberland, warga menggunakan token kripto bernama Liberland Merits. Token itu memberi pengaruh dalam pemilihan pemimpin. Jedlička menjelaskan, orang yang memiliki lebih banyak Merits dapat memiliki suara lebih besar dalam menentukan kepemimpinan.
Model tersebut berbeda dari prinsip umum demokrasi modern yang menempatkan setiap pemilih dalam posisi setara. Di Liberland, kekuatan politik secara efektif terhubung dengan kepemilikan token. Negara mikro itu juga menerapkan kebijakan tanpa pajak, sebuah gagasan yang dipandang sebagai bagian dari upaya membatasi campur tangan pemerintah.
Menteri Dalam Negeri Liberland, Ivan Pernar, menyatakan bahwa pendukung kebebasan dan keuangan terdesentralisasi cenderung berasal dari kelompok masyarakat kelas atas. Pernyataan tersebut memperlihatkan salah satu perdebatan utama mengenai model Liberland, yaitu hubungan antara kebebasan, kekayaan, dan akses terhadap kekuasaan.
Dukungan miliarder kripto memperkuat ambisi Liberland
Liberland mendapat dukungan dari sejumlah pengusaha teknologi dan miliarder kripto. Salah satunya adalah Justin Sun, pendiri Tron, jaringan blockchain yang memungkinkan transaksi mata uang kripto tanpa satu otoritas pusat.
Sun diperkirakan memiliki kekayaan 8,5 miliar dolar AS. Ia juga dikenal setelah membeli karya seni berupa pisang yang ditempel dengan lakban di dinding seharga 6,2 juta dolar AS, lalu memakannya. Sun pernah menghadapi tuduhan dari regulator Amerika Serikat terkait penipuan dan manipulasi pasar. Ia membantah tuduhan tersebut dan kemudian mencapai penyelesaian senilai 10 juta dolar AS.
Sun menanamkan lebih dari 75 juta dolar AS pada World Liberty Financial, bisnis kripto milik keluarga Trump, serta menginvestasikan jutaan dolar pada memecoin Donald Trump. Investasi itu memberinya kesempatan menghadiri jamuan makan bersama presiden Amerika Serikat tersebut.
Gagasan negara tanpa batas menimbulkan pertanyaan
Teknologi blockchain di Liberland digunakan untuk memberikan suara atas hukum dan referendum. Sistem mencatat serta menghitung suara melalui kode. Namun, penerapan hukum dalam praktiknya masih membutuhkan pejabat manusia karena teknologinya belum sepenuhnya menggantikan fungsi administrasi pemerintahan.
Model ini juga menghadapi tantangan karena Tron disebut oleh perusahaan analitik blockchain TRM Labs sebagai salah satu platform besar untuk memindahkan aset kripto ilegal. Dana yang dikaitkan dengan Hamas, Hezbollah, kartel narkoba, dan jaringan mafia dilaporkan pernah bergerak melalui platform tersebut. Sun menyatakan Tron telah bekerja sama dengan penegak hukum untuk menekan transaksi ilegal.
Liberland bukan satu-satunya proyek yang mengejar konsep negara mikro berbasis teknologi. Prospera di Honduras, Seasteading Institute milik Peter Thiel, dan Draper Nation yang digagas investor teknologi Tim Draper juga menawarkan gagasan serupa.
Draper menilai pemerintah memberikan layanan buruk dengan biaya tinggi dan pada akhirnya dapat digantikan blockchain. Sementara itu, pemikir teknologi Curtis Yarvin mengusulkan konsep Patchwork, yaitu jaringan negara kecil yang dimiliki pemegang saham dan bersaing mendapatkan warga seperti perusahaan mencari pelanggan.
Kekuasaan menjadi isu utama
Para pendukung Liberland dan proyek sejenis menganggap blockchain dapat membebaskan individu serta uang dari kendali pemerintah. Namun, sistem tersebut memunculkan pertanyaan baru: siapa yang memegang kendali ketika kekuasaan tidak lagi berada pada institusi negara?
Dalam kasus Liberland, kepemilikan token dan dukungan modal dari kelompok kaya berpotensi menentukan pengaruh politik. Karena itu, eksperimen ini tidak hanya menguji kemampuan teknologi, tetapi juga menguji apakah kebebasan digital dapat berjalan tanpa memperbesar dominasi pemilik modal dan pengendali platform.








