Daftar Isi 4 bagian
Ruanginvest.com – Jakarta, penggunaan AI di tempat kerja mulai menjadi ukuran baru dalam bonus, promosi, pelatihan, hingga keamanan kerja. Namun, perubahan ini memicu pertanyaan tentang keadilan karena peningkatan produktivitas belum tentu diikuti kenaikan upah atau pengurangan beban kerja.
Duncan Trevithick, pekerja pemasaran berusia 34 tahun di perusahaan penyedia data pelatihan AI yang berbasis di Spanyol, menghadapi situasi tersebut. Ia berpeluang memperoleh bonus apabila mampu menyelesaikan lebih banyak tugas dengan bantuan AI.
Menurut Trevithick, penggunaan AI untuk mengerjakan pekerjaan setara dua hari dalam sepekan tidak otomatis memberinya waktu libur atau kenaikan gaji 40 persen. Sebaliknya, hasil kerja yang lebih tinggi dapat menjadi standar baru perusahaan.
AI Mulai Masuk ke Penilaian Kinerja
Sejumlah perusahaan besar mulai mengaitkan kemampuan AI dengan perkembangan karier. CEO Accenture Julie Sweet mengatakan dalam siniar Rapid Response pada Maret bahwa AI telah menjadi bagian dari cara perusahaan bekerja. Karena itu, karyawan yang ingin naik jabatan harus mampu menjalankan pola kerja tersebut.
Laporan media juga menyebut Disney, Meta, JP Morgan, dan KPMG telah memperkenalkan papan peringkat AI untuk melacak serta membandingkan penggunaan berbagai platform model bahasa besar. Sementara itu, platform perdagangan kripto Coinbase memecat sejumlah insinyur yang tidak menyelesaikan pelatihan AI sesuai permintaan CEO Brian Armstrong.
Dorongan tersebut muncul ketika banyak perusahaan berusaha mendapatkan hasil dari investasi AI. Laporan McKinsey menyebut 94 persen perusahaan belum memperoleh nilai signifikan dari teknologi tersebut. Di sisi lain, rendahnya jumlah lowongan kerja membuat pekerja merasa harus mengikuti perubahan agar tetap kompetitif.
Kesenjangan Baru di Antara Pekerja
Seorang eksekutif senior di perusahaan konsultan besar Amerika Serikat, yang menggunakan nama samaran Pamela, mengatakan kemampuan AI kini ikut menentukan siapa yang mendapat penghargaan dan siapa yang tertinggal. Menurutnya, perusahaan tidak selalu menyampaikan kewajiban itu secara terbuka, tetapi penilaian kinerja menunjukkan arah yang jelas.
Pamela menilai situasi tersebut menciptakan tenaga kerja dua tingkat. Karyawan dengan jabatan dan masa kerja yang sama dapat memiliki nilai berbeda berdasarkan kemampuan mereka menggunakan AI. Bahkan, pekerja berpengalaman bisa tersisih dari promosi oleh pegawai yang lebih muda tetapi lebih cepat menguasai alat AI.
Survei Gi Group terhadap 1.881 pencari kerja di Inggris pada Juli menunjukkan 75 persen responden tidak akan mengurungkan niat melamar ke perusahaan yang memasukkan kemampuan AI dalam penilaian kinerja. Namun, sekitar 22 persen menganggap kebijakan itu dapat mengurangi minat mereka.
Persoalan Keadilan dan Keamanan Kerja
Tina Chander, pengacara ketenagakerjaan dan mitra di Weightmans, mengatakan perusahaan secara hukum dapat mengubah ekspektasi kerja. Meski demikian, perubahan itu tetap menimbulkan pertanyaan tentang upah dan keadilan.
Persoalannya adalah apakah pekerja harus menerima imbalan berbeda ketika AI membuat mereka menghasilkan lebih banyak. Jika peningkatan efisiensi hanya menaikkan target, karyawan dapat merasa bahwa mereka sedang membantu perusahaan membuktikan sebagian pekerjaannya tidak lagi diperlukan.
Chander menyarankan perusahaan menetapkan kebijakan, pelatihan, dan batasan penggunaan AI yang jelas. Langkah itu penting untuk mencegah perselisihan terkait standar kinerja, keadilan, dan keamanan kerja. Mulai Januari 2027, pekerja di Inggris juga akan memiliki waktu enam bulan untuk mengajukan klaim pemutusan hubungan kerja yang tidak adil, dibandingkan tiga bulan saat ini. Masa kerja minimum yang berlaku juga akan berubah dari dua tahun menjadi enam bulan.
Risiko Penggunaan AI Sekadar Mengejar Angka
Kamila Miller, peneliti AI terapan dan dosen di Henley Business School, memperingatkan bahwa menjadikan penggunaan AI sebagai indikator kinerja dapat mendorong perilaku semu. Karyawan mungkin memasukkan tugas yang sebenarnya tidak membutuhkan AI hanya untuk meningkatkan catatan penggunaan.
Menurut Miller, perusahaan akhirnya hanya mengukur tingkat adopsi, bukan kualitas penilaian, pembelajaran, atau keputusan. Dengan demikian, karyawan terlihat lebih patuh terhadap kebijakan, tetapi belum tentu menjadi lebih terampil.
Sejumlah perusahaan mulai mengubah pendekatan. CEO Duolingo Luis von Ahn mengatakan pada April bahwa penggunaan AI tidak lagi menjadi bagian dari penilaian kinerja. Ia menegaskan, AI seharusnya dipakai ketika memang membantu pekerjaan, bukan demi memenuhi target penggunaan.
Financial Times juga melaporkan pada Mei bahwa Amazon menutup papan peringkat internal yang melacak penggunaan AI. Sebelumnya, sejumlah pekerja disebut membuat tugas yang tidak perlu agar dapat naik dalam peringkat.
Bagi Trevithick, kemampuan beradaptasi tetap penting. Ia berusaha mengembangkan proyek sampingan agar dapat menempati posisi yang memungkinkan dirinya memiliki aset dan memanfaatkan AI, bukan sekadar menjadi pekerja yang produktivitasnya terus diukur oleh teknologi.




