25 Saham Blue Chip di Bawah Rp1 Juta per Lot, Update September 2026

Dwi Prakoso

25 Saham Blue Chip di Bawah Rp1 Juta per Lot, Update September 2026
Ilustrasi: saham blue chip di bawah Rp1 juta

Ruanginvest.comJakarta, saham blue chip di bawah Rp1 juta masih tersedia bagi investor yang ingin mulai berinvestasi dengan modal relatif terjangkau. Per 2 September 2026, terdapat 25 saham dalam daftar yang memiliki nilai satu lot di bawah Rp1 juta.

Memang, sejumlah saham blue chip memiliki harga per lembar yang cukup tinggi. Namun, investor membeli saham dalam satuan lot yang berisi 100 lembar. Karena itu, kebutuhan dana untuk satu lot bisa jauh lebih rendah daripada yang terlihat dari harga per lembar.

Selain itu, saham blue chip umumnya berasal dari perusahaan besar dengan reputasi baik dan pangsa pasar kuat. Meski begitu, investor tetap perlu melakukan analisis karena harga saham dapat berubah setiap hari.

Apa Itu Saham Blue Chip?

Saham blue chip merupakan saham dari emiten besar, terkemuka, dan memiliki reputasi baik di pasar saham. Biasanya, perusahaan tersebut sudah beroperasi selama bertahun-tahun dengan catatan kinerja yang baik.

Selain memiliki skala bisnis besar, perusahaan blue chip cenderung mempunyai pangsa pasar yang kuat. Karena itu, saham dari perusahaan tersebut sering menjadi perhatian investor untuk investasi jangka panjang.

Secara umum, perusahaan blue chip memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp50 triliun dan likuiditas tinggi. Sementara itu, sejumlah emiten besar masuk dalam indeks seperti IDX30, LQ45, dan IDX80.

Di sisi lain, perusahaan non-blue chip umumnya mengacu pada perusahaan dengan kapitalisasi pasar kecil hingga menengah. Nilainya berada pada kisaran Rp1 triliun hingga Rp50 triliun.

Kriteria Saham Blue Chip

Investor dapat melihat sejumlah karakteristik ketika menilai saham yang masuk kategori blue chip. Namun, karakteristik tersebut tidak berarti saham bebas dari risiko.

  • Stabilitas: perusahaan cenderung memiliki pendapatan yang relatif stabil atau konsisten.
  • Reputasi dan merek: perusahaan memiliki reputasi baik dan merek yang kuat di pasar.
  • Dividen: sejumlah perusahaan blue chip dikenal rutin membagikan dividen kepada pemegang saham.
  • Pangsa pasar dominan: perusahaan biasanya memiliki pangsa pasar besar dalam industrinya.
  • Likuiditas: investor umumnya lebih mudah melakukan transaksi jual dan beli pada saham dengan aktivitas perdagangan tinggi.
  • Kinerja historis: perusahaan memiliki rekam jejak kinerja yang baik dalam jangka panjang.
  • Risiko yang relatif lebih rendah: fundamental yang kuat dapat membantu menekan risiko dibandingkan sejumlah saham non-blue chip.

Namun, investor tetap perlu melakukan analisis fundamental dan teknikal sebelum mengambil keputusan. Dengan demikian, investor dapat menyesuaikan pilihan saham dengan tujuan dan kemampuan menanggung risiko.

25 Saham Blue Chip di Bawah Rp1 Juta

Saham blue chip tidak selalu membutuhkan modal lebih dari Rp1 juta untuk membeli satu lot. Per 2 September 2026, sebanyak 25 saham dalam daftar berikut memiliki nilai satu lot di bawah Rp1 juta.

Sebagai pembanding, saham BYAN atau PT Bayan Resources Tbk. memiliki harga Rp14.050 per lembar pada tanggal tersebut. Dengan demikian, investor membutuhkan sekitar Rp1.405.000 untuk membeli satu lot BYAN.

Sementara itu, sejumlah saham lain memiliki harga satu lot yang jauh lebih rendah. Berikut daftar saham blue chip di bawah Rp1 juta berdasarkan harga per 2 September 2026.

1. BBCA

Pertama, BBCA atau Bank Central Asia memiliki harga Rp6.600 per lembar. Dengan demikian, investor membutuhkan sekitar Rp660.000 untuk satu lot. Emiten ini bergerak di sektor perbankan.

2. BBRI

Selanjutnya, BBRI atau Bank Rakyat Indonesia memiliki harga Rp3.380 per lembar. Karena itu, harga satu lot mencapai sekitar Rp338.000. Saham ini berasal dari sektor perbankan.

3. TLKM

Kemudian, TLKM atau Telkom Indonesia memiliki harga Rp2.610 per lembar. Nilai satu lot mencapai sekitar Rp261.000. Emiten ini bergerak pada sektor infrastruktur dan telekomunikasi.

4. PGAS

Berikutnya, PGAS atau Perusahaan Gas Negara memiliki harga Rp1.555 per lembar. Dengan harga tersebut, satu lot membutuhkan sekitar Rp155.500. Emiten ini bergerak pada sektor energi dan industri minyak serta gas.

5. PTBA

Sementara itu, PTBA atau Bukit Asam memiliki harga Rp2.670 per lembar. Harga satu lot mencapai sekitar Rp267.000. Emiten ini bergerak pada sektor energi dan pertambangan batu bara.

6. MDKA

Selanjutnya, MDKA atau Merdeka Copper Gold memiliki harga Rp2.910 per lembar. Investor membutuhkan sekitar Rp291.000 untuk satu lot. Emiten ini bergerak di sektor pertambangan.

7. SMGR

Kemudian, SMGR atau Semen Indonesia memiliki harga Rp1.730 per lembar. Dengan demikian, nilai satu lot mencapai sekitar Rp173.000. Saham ini berasal dari sektor barang baku dan material konstruksi.

8. TINS

Berikutnya, TINS atau Timah memiliki harga Rp4.090 per lembar. Karena itu, investor membutuhkan sekitar Rp409.000 untuk satu lot. Emiten ini bergerak di sektor barang baku, industri logam, dan mineral.

9. AMRT

Sementara itu, AMRT atau Sumber Alfaria Trijaya memiliki harga Rp1.340 per lembar. Harga satu lot mencapai sekitar Rp134.000. Emiten ini bergerak di sektor barang konsumen primer.

10. BMRI

Selanjutnya, BMRI atau Bank Mandiri memiliki harga Rp4.320 per lembar. Dengan demikian, investor membutuhkan sekitar Rp432.000 untuk satu lot. Emiten ini bergerak di sektor perbankan.

11. ASII

Kemudian, ASII atau Astra International memiliki harga Rp4.920 per lembar. Nilai satu lot mencapai sekitar Rp492.000. Emiten ini bergerak di sektor perindustrian.

12. BRPT

Berikutnya, BRPT atau Barito Pacific memiliki harga Rp1.830 per lembar. Karena itu, harga satu lot mencapai sekitar Rp183.000. Saham ini tercatat pada sektor pertambangan.

13. CDIA

Sementara itu, CDIA atau Chandra Daya Investasi memiliki harga Rp695 per lembar. Dengan demikian, investor membutuhkan sekitar Rp69.500 untuk satu lot. Emiten ini bergerak pada sektor energi, layanan pelabuhan, dan logistik.

14. CPIN

Selanjutnya, CPIN atau Charoen Pokphand Indonesia memiliki harga Rp3.060 per lembar. Harga satu lot mencapai sekitar Rp306.000. Emiten ini bergerak di sektor agribisnis.

15. JPFA

Kemudian, JPFA atau Japfa Comfeed Indonesia memiliki harga Rp2.240 per lembar. Karena itu, investor membutuhkan sekitar Rp224.000 untuk satu lot. Emiten ini bergerak di sektor barang konsumen primer.

16. WIFI

Berikutnya, WIFI atau Solusi Sinergi Digital memiliki harga Rp2.130 per lembar. Dengan demikian, nilai satu lot mencapai sekitar Rp213.000. Emiten ini bergerak di sektor teknologi.

17. ICBP

Sementara itu, ICBP atau Indofood CBP Sukses Makmur memiliki harga Rp7.375 per lembar. Harga satu lot mencapai sekitar Rp737.500. Emiten ini bergerak di sektor barang konsumen.

18. EXCL

Selanjutnya, EXCL atau XLsmart Telecom Sejahtera memiliki harga Rp2.770 per lembar. Karena itu, investor membutuhkan sekitar Rp277.000 untuk satu lot. Emiten ini bergerak di sektor infrastruktur dan telekomunikasi.

19. ANTM

Kemudian, ANTM atau Aneka Tambang memiliki harga Rp3.080 per lembar. Dengan demikian, nilai satu lot mencapai sekitar Rp308.000. Emiten ini bergerak di sektor pertambangan.

20. UNVR

Berikutnya, UNVR atau Unilever Indonesia memiliki harga Rp1.710 per lembar. Harga satu lot mencapai sekitar Rp171.000. Emiten ini bergerak di sektor barang konsumen.

21. INCO

Sementara itu, INCO atau Vale Indonesia memiliki harga Rp5.050 per lembar. Karena itu, investor membutuhkan sekitar Rp505.000 untuk satu lot. Emiten ini bergerak di sektor barang baku serta industri logam dan mineral.

22. INDF

Selanjutnya, INDF atau Indofood Sukses Makmur memiliki harga Rp7.200 per lembar. Dengan demikian, nilai satu lot mencapai sekitar Rp720.000. Emiten ini bergerak di sektor barang konsumen primer serta makanan dan minuman.

23. BDMN

Kemudian, BDMN atau Bank Danamon Indonesia memiliki harga Rp4.370 per lembar. Harga satu lot mencapai sekitar Rp437.000. Saham ini berasal dari sektor perbankan.

24. KLBF

Berikutnya, KLBF atau Kalbe Farma memiliki harga Rp775 per lembar. Karena itu, investor hanya membutuhkan sekitar Rp77.500 untuk satu lot. Emiten ini bergerak di sektor kesehatan.

25. MYOR

Terakhir, MYOR atau Mayora Indah memiliki harga Rp1.565 per lembar. Dengan demikian, harga satu lot mencapai sekitar Rp156.500. Emiten ini bergerak di sektor barang konsumen primer serta makanan dan minuman.

Perbandingan Harga Saham Blue Chip per Lot

Untuk memudahkan perbandingan, berikut daftar harga 25 saham tersebut berdasarkan harga per lembar dan kebutuhan dana untuk satu lot pada 2 September 2026.

  • BBCA: Rp6.600 per lembar atau Rp660.000 per lot.
  • BBRI: Rp3.380 per lembar atau Rp338.000 per lot.
  • TLKM: Rp2.610 per lembar atau Rp261.000 per lot.
  • PGAS: Rp1.555 per lembar atau Rp155.500 per lot.
  • PTBA: Rp2.670 per lembar atau Rp267.000 per lot.
  • MDKA: Rp2.910 per lembar atau Rp291.000 per lot.
  • SMGR: Rp1.730 per lembar atau Rp173.000 per lot.
  • TINS: Rp4.090 per lembar atau Rp409.000 per lot.
  • AMRT: Rp1.340 per lembar atau Rp134.000 per lot.
  • BMRI: Rp4.320 per lembar atau Rp432.000 per lot.
  • ASII: Rp4.920 per lembar atau Rp492.000 per lot.
  • BRPT: Rp1.830 per lembar atau Rp183.000 per lot.
  • CDIA: Rp695 per lembar atau Rp69.500 per lot.
  • CPIN: Rp3.060 per lembar atau Rp306.000 per lot.
  • JPFA: Rp2.240 per lembar atau Rp224.000 per lot.
  • WIFI: Rp2.130 per lembar atau Rp213.000 per lot.
  • ICBP: Rp7.375 per lembar atau Rp737.500 per lot.
  • EXCL: Rp2.770 per lembar atau Rp277.000 per lot.
  • ANTM: Rp3.080 per lembar atau Rp308.000 per lot.
  • UNVR: Rp1.710 per lembar atau Rp171.000 per lot.
  • INCO: Rp5.050 per lembar atau Rp505.000 per lot.
  • INDF: Rp7.200 per lembar atau Rp720.000 per lot.
  • BDMN: Rp4.370 per lembar atau Rp437.000 per lot.
  • KLBF: Rp775 per lembar atau Rp77.500 per lot.
  • MYOR: Rp1.565 per lembar atau Rp156.500 per lot.

Namun, harga tersebut hanya mencerminkan kondisi pada 2 September 2026. Setelah itu, perubahan harga di pasar dapat mengubah kebutuhan dana untuk satu lot. Oleh karena itu, investor perlu mengecek harga terbaru sebelum melakukan transaksi.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Harga satu lot yang terjangkau memang dapat membantu investor memulai investasi saham dengan dana lebih kecil. Namun, harga murah tidak otomatis menunjukkan bahwa sebuah saham cocok untuk setiap investor.

Selain harga, investor perlu melihat kondisi fundamental perusahaan, kinerja historis, prospek bisnis, likuiditas, dan kebijakan dividen. Selanjutnya, analisis teknikal juga dapat membantu investor memahami pergerakan harga sebelum mengambil keputusan transaksi.

Di sisi lain, status blue chip tidak menghilangkan risiko pasar. Harga saham tetap dapat naik atau turun mengikuti kondisi perusahaan dan dinamika pasar. Karena itu, investor perlu menyesuaikan pilihan saham dengan tujuan investasi dan profil risikonya.

Terlebih lagi, investor sebaiknya tidak mengalokasikan seluruh dana hanya pada satu saham. Diversifikasi dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun portofolio, sesuai dengan strategi masing-masing investor.

Kesimpulan

Pada akhirnya, daftar saham blue chip di bawah Rp1 juta menunjukkan bahwa investor tidak selalu membutuhkan modal besar untuk membeli saham perusahaan besar. Per 2 September 2026, terdapat 25 saham dalam daftar tersebut dengan nilai satu lot di bawah Rp1 juta.

Beberapa saham bahkan memiliki harga satu lot di bawah Rp100.000. Misalnya, CDIA berada di sekitar Rp69.500 dan KLBF sekitar Rp77.500 per lot. Sementara itu, ICBP memiliki nilai satu lot paling tinggi dalam daftar ini, yaitu sekitar Rp737.500.

Meski begitu, investor sebaiknya tidak memilih saham hanya berdasarkan harga satu lot. Oleh karena itu, analisis fundamental dan teknikal tetap penting agar keputusan investasi sesuai dengan tujuan serta kemampuan menghadapi risiko.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
BI Rate Ditahan, Asing Ketahuan Borong Saham Ini Secara Masif

BI Rate Ditahan, Asing Ketahuan Borong Saham Ini Secara Masif

Kunjungi Artikel