Ruanginvest.com – Jakarta, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membentuk ekosistem bisnis yang jauh lebih luas daripada sekadar perusahaan pengembang model AI. Pertumbuhan teknologi ini membutuhkan data center, kapasitas komputasi, layanan cloud, integrasi sistem, hingga aplikasi yang membantu perusahaan menjalankan operasional secara lebih efisien. Karena itu, saham AI Indonesia mulai menjadi salah satu tema yang menarik dicermati trader. –
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), sejumlah emiten memiliki keterkaitan dengan perkembangan ekosistem AI. Namun, karakter setiap perusahaan berbeda. Ada emiten yang mengembangkan teknologi AI secara langsung, sementara lainnya menyediakan infrastruktur atau solusi yang dibutuhkan untuk mengadopsi teknologi tersebut.
Dalam pandangan saya, trader sebaiknya tidak hanya melihat seberapa sering sebuah perusahaan menggunakan istilah AI dalam strategi bisnisnya. Hal yang lebih penting adalah memahami posisi perusahaan dalam rantai nilai AI serta melihat apakah eksposur tersebut berpotensi memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan bisnis.
Mengapa Saham AI Indonesia Menarik Dicermati?
AI sedang berkembang menjadi bagian dari berbagai aktivitas bisnis. Kebutuhan tersebut tidak hanya muncul pada perusahaan teknologi. Infrastruktur pendukung juga menjadi bagian penting karena model AI membutuhkan kemampuan komputasi, penyimpanan data, jaringan, cloud, dan sistem yang memadai.
Kondisi tersebut membuat peluang bisnis AI dapat muncul pada beberapa lapisan sekaligus. Penyedia data center dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan kapasitas komputasi. Penyedia cloud dapat menawarkan layanan komputasi AI. Sementara itu, perusahaan integrator teknologi dapat membantu korporasi menerapkan AI dalam kegiatan operasional.
Namun, saya menilai trader perlu berhati-hati dalam menggunakan istilah saham AI Indonesia. Kategori tersebut lebih tepat dipahami sebagai tema investasi atau perdagangan berdasarkan eksposur bisnis terhadap AI. Perusahaan yang masuk dalam kategori ini tidak selalu merupakan perusahaan AI murni.
Dengan demikian, pendapatan perusahaan dapat tetap didominasi bisnis lain. Eksposur terhadap AI juga belum otomatis menunjukkan bahwa teknologi tersebut sudah memberikan kontribusi material terhadap pendapatan atau laba.
7 Saham AI Indonesia di BEI yang Menarik Dicermati
Berikut tujuh emiten yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan AI berdasarkan posisi bisnis dan solusi teknologi yang dikembangkan masing-masing perusahaan.
1. ISAT — Indosat Tbk.
ISAT menjadi salah satu emiten dengan keterkaitan relatif langsung terhadap pengembangan ekosistem AI. Indosat Ooredoo Hutchison menargetkan transformasi menuju AI-native telco.
Dalam laporan perusahaan, AI digunakan untuk pengelolaan jaringan, analitik berbasis AI, hingga personalisasi layanan. Indosat juga mengembangkan NeoCloud sebagai bagian dari kapabilitas AI dan cloud serta bekerja sama dengan perusahaan teknologi global seperti NVIDIA dan Google.
Salah satu proyek yang menonjol adalah Sahabat-AI, Large Language Model (LLM) open-source yang dikembangkan bersama GoTo. Pada 2025, Sahabat-AI dikembangkan hingga model berkapasitas 70 miliar parameter dan dilengkapi layanan chat multibahasa.
Dari sudut pandang trader, perkembangan bisnis AI cloud, monetisasi layanan enterprise berbasis AI, pertumbuhan data traffic, serta dampak investasi teknologi terhadap kinerja keuangan menjadi beberapa hal yang menarik diperhatikan.
2. GOTO — GoTo Gojek Tokopedia Tbk.
GOTO memiliki eksposur terhadap AI melalui pengembangan Sahabat-AI bersama Indosat serta pemanfaatan AI dalam ekosistem bisnisnya.
Sahabat-AI pada awalnya diperkenalkan sebagai LLM open-source untuk Bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah. Pengembangannya kemudian diperluas menjadi model 70 miliar parameter dengan layanan chat yang dapat digunakan masyarakat.
Selain pengembangan model, GOTO juga menggunakan AI sebagai bagian dari strategi operasional. Dalam laporan kinerja kuartal I-2026, perusahaan menyebut telah memperkenalkan program AI baru yang menyatukan berbagai inisiatif AI di bawah satu strategi.
AI digunakan antara lain untuk membantu menekan cost to serve serta meningkatkan interaksi dan konversi pengguna. Menurut saya, sisi ini justru menarik untuk diamati karena AI tidak hanya diposisikan sebagai teknologi, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi dan monetisasi ekosistem.
Trader dapat memperhatikan apakah penerapan tersebut ikut mendukung pertumbuhan transaksi, efisiensi biaya, margin, dan profitabilitas perusahaan dalam beberapa kuartal berikutnya.
3. TLKM — Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
TLKM memiliki eksposur AI yang cukup luas karena TelkomGroup bermain dari sisi infrastruktur hingga solusi enterprise. Pada 2026, Telkom memperkenalkan AIcosystem dengan pendekatan full-stack.
Pendekatan tersebut terdiri dari tiga lapisan utama, yaitu infrastruktur AI, model dan platform AI, serta solusi dan aplikasi AI. Struktur tersebut menunjukkan bahwa eksposur Telkom terhadap AI tidak hanya berada pada satu jenis layanan.
- AI Infrastructure mencakup data center, GPU, CPU, dan memory.
- AI Models & Platforms mencakup AI platform, big data platform, data aggregator, hingga LLM berbahasa Indonesia.
- AI Solutions & Applications mencakup aplikasi dan use case untuk kebutuhan bisnis serta layanan publik.
Di sisi infrastruktur, anak usaha Telkom, NeutraDC, mengembangkan data center yang dirancang untuk kebutuhan AI. Per Agustus 2026, perusahaan sedang menyiapkan ekspansi kapasitas data center Cikarang hingga 200 MW untuk merespons pertumbuhan kebutuhan AI, cloud, dan ekonomi digital.
NeutraDC sebelumnya juga memperkenalkan Neutra Compute, layanan GPU-as-a-Service yang memungkinkan perusahaan memperoleh kapasitas komputasi AI tanpa harus membangun seluruh infrastrukturnya sendiri.
Karena itu, TLKM menarik diperhatikan jika trader ingin melihat eksposur AI dari sisi infrastruktur digital sekaligus solusi enterprise.
4. DCII — DCI Indonesia Tbk.
Berbeda dari perusahaan dengan bisnis teknologi yang lebih beragam, keterkaitan DCII terhadap AI terutama berasal dari bisnis data center. Infrastruktur pusat data menjadi elemen penting dalam menjalankan AI pada skala besar.
Workload AI membutuhkan daya komputasi dan infrastruktur yang berbeda dari workload tradisional. Karena itu, penyedia data center yang mampu menangani kepadatan komputasi tinggi dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan ekosistem tersebut.
DCI Indonesia telah mengembangkan JK6 sebagai AI-ready data center dengan kapasitas 36 MW. Fasilitas tersebut membuat total kapasitas DCI mencapai 119 MW saat peluncurannya dan telah mulai melayani penyedia cloud global.
Perusahaan juga menyebut memiliki potensi kapasitas lebih dari 2.000 MW pada portofolio lokasinya. Namun, potensi kapasitas tidak seharusnya langsung dianggap sebagai pendapatan yang sudah terealisasi.
Bagi trader, perkembangan workload AI dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dipantau. Selain itu, utilisasi kapasitas, ekspansi capex, pertumbuhan pendapatan, laba, serta valuasi saham tetap penting dalam analisis.
5. MLPT — Multipolar Technology Tbk.
MLPT memiliki karakter eksposur AI yang berbeda. Perusahaan bergerak sebagai penyedia solusi teknologi untuk korporasi sehingga peluang AI lebih banyak datang melalui implementasi teknologi pada pelanggan enterprise.
Pada 2025, Multipolar Technology bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menjalin kerja sama untuk membangun Applied AI & Data Science Lab. Tujuannya adalah membawa hasil riset AI dan data science menjadi solusi yang dapat diterapkan pada industri seperti perbankan, kesehatan, telekomunikasi, manufaktur, ritel, dan pendidikan.
Perusahaan juga mengembangkan solusi terkait Agentic AI dan big data. Salah satunya VisionAnalytics yang dapat digunakan untuk pengolahan data hingga deployment dan monitoring model AI/ML.
Selain itu, MLPT memiliki solusi berbasis AI untuk kebutuhan enterprise serta mengembangkan infrastruktur yang mendukung traditional AI, generative AI, maupun agentic AI.
Dari sudut pandang trader, pertanyaan pentingnya adalah apakah peningkatan adopsi AI di kalangan korporasi dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan kontrak, recurring revenue, dan laba bagi perusahaan.
6. MTDL — Metrodata Electronics Tbk.
MTDL memiliki posisi sebagai penyedia dan distributor teknologi sekaligus penyedia solusi serta konsultasi digital. Karena itu, eksposur AI perusahaan lebih banyak berasal dari perannya sebagai enabler bagi perusahaan yang ingin mengadopsi teknologi tersebut.
Metrodata telah menawarkan berbagai solusi terkait AI melalui lini distribusi maupun solusi dan konsultasinya. Perusahaan antara lain pernah mengembangkan solusi untuk fraud detection, image detection berbasis deep learning, serta penggunaan AI untuk kebutuhan enterprise lainnya.
Tema AI juga semakin terlihat dalam strategi terbarunya. Metrodata Solution Day 2026 mengangkat tema “Winning with AI: Build, Run, and Scale for Measurable Impact”, dengan fokus membawa AI dari tahap eksperimental menuju penerapan dalam skala enterprise.
Dengan karakter tersebut, pertumbuhan AI berpotensi menciptakan permintaan terhadap berbagai komponen ekosistem teknologi. Di antaranya adalah software AI, server, cloud, data infrastructure, cybersecurity, dan jasa integrasi.
Namun, trader tetap perlu melihat apakah peningkatan permintaan tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap pendapatan dan laba perusahaan.
7. WIRG — WIR ASIA Tbk.
WIRG dapat menjadi opsi lain bagi trader yang mencari perusahaan teknologi dengan eksposur terhadap AI. Bisnis WIR Asia berfokus pada teknologi digital reality dan immersive technology.
Portofolio teknologinya meliputi Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), Artificial Intelligence (AI), blockchain, dan Web3. Karakter tersebut membuat WIRG berbeda dari emiten yang memperoleh eksposur AI terutama melalui data center atau infrastruktur komputasi.
Jika TLKM, DCII, dan ISAT memiliki eksposur kuat melalui infrastruktur serta komputasi, WIRG lebih dekat dengan penerapan teknologi pada pengalaman digital dan aplikasi.
Karena kapitalisasi dan karakter perdagangan setiap saham berbeda, trader tetap perlu memeriksa likuiditas, volatilitas, fundamental, serta perkembangan proyek perusahaan sebelum mengambil keputusan.
Bagaimana Membandingkan Saham AI Indonesia?
Menurut saya, tidak tepat jika seluruh saham bertema AI diperlakukan dengan cara yang sama. Perbedaan model bisnis membuat sumber pertumbuhan setiap emiten juga berbeda.
ISAT dan GOTO memiliki keterkaitan dengan pengembangan model serta penggunaan AI dalam produk dan operasional. TLKM memiliki eksposur yang lebih menyeluruh, mulai dari infrastruktur hingga platform dan aplikasi.
Sementara itu, DCII berada pada sisi infrastruktur data center. MLPT dan MTDL lebih banyak berperan dalam membantu perusahaan mengimplementasikan teknologi. WIRG memiliki keterkaitan dari sisi pengembangan pengalaman dan solusi digital.
Pembagian tersebut penting karena dapat membantu trader memahami sumber eksposur masing-masing emiten. Saham data center, misalnya, memiliki faktor pendorong yang berbeda dibandingkan perusahaan yang mendapatkan pendapatan dari jasa integrasi AI.
Dengan demikian, saya melihat analisis yang lebih berguna bukan sekadar mencari saham dengan label AI. Trader sebaiknya mencari tahu bagaimana AI masuk ke dalam model bisnis perusahaan dan bagaimana peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi kinerja bisnis.
AI Belum Tentu Berarti Pertumbuhan Laba
Ini menjadi poin yang menurut saya paling penting. Narasi AI memang dapat menarik perhatian pasar, tetapi narasi dan kinerja keuangan merupakan dua hal berbeda.
Sebuah perusahaan dapat memiliki proyek AI, menggunakan AI dalam operasional, atau membangun infrastruktur yang mendukung AI. Namun, hal tersebut belum otomatis berarti AI sudah menjadi sumber pendapatan utama perusahaan.
Karena itu, trader perlu memisahkan antara eksposur teknologi dan kontribusi finansial. Eksposur menunjukkan keterkaitan bisnis dengan AI, sedangkan kontribusi finansial berkaitan dengan kemampuan teknologi tersebut menghasilkan pendapatan, meningkatkan efisiensi, atau memperbaiki profitabilitas.
Selain itu, investasi teknologi juga dapat membutuhkan belanja modal yang besar. Pada perusahaan infrastruktur, pertumbuhan kapasitas dapat berjalan bersama dengan kebutuhan capex. Trader perlu melihat bagaimana perusahaan mengelola investasi tersebut dan bagaimana hasilnya tercermin dalam kinerja bisnis.
Di sisi lain, perusahaan yang berfokus pada solusi enterprise menghadapi pertanyaan berbeda. Yang perlu diperhatikan adalah apakah permintaan pelanggan terhadap layanan AI mampu menghasilkan kontrak dan pendapatan berulang.
Apa yang Perlu Diperhatikan Trader?
Menurut saya, pendekatan terbaik adalah menjadikan AI sebagai salah satu faktor analisis, bukan satu-satunya alasan untuk membeli atau menjual saham. Trader dapat mengamati beberapa aspek berikut.
- Model bisnis: pahami apakah eksposur AI berasal dari data center, cloud, model AI, solusi enterprise, aplikasi, atau operasional internal.
- Pendapatan: perhatikan apakah perkembangan AI mulai memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis.
- Profitabilitas: lihat apakah efisiensi dari AI dapat mendukung margin dan laba.
- Investasi: perhatikan kebutuhan capex dan pengembangan infrastruktur yang berkaitan dengan AI.
- Valuasi: pertumbuhan bisnis tetap perlu dibandingkan dengan valuasi saham.
- Likuiditas dan volatilitas: karakter perdagangan saham perlu disesuaikan dengan strategi trader.
- Perkembangan proyek: pantau realisasi proyek dan kemampuan perusahaan mengubah peluang AI menjadi bisnis.
Pendekatan tersebut membuat trader tidak mudah terjebak pada sekadar tren. Terlebih lagi, perkembangan teknologi AI berlangsung cepat sehingga strategi perusahaan dapat berubah mengikuti kebutuhan pasar.
Kesimpulan
Saham AI Indonesia menawarkan tema yang menarik karena perkembangan kecerdasan buatan membutuhkan ekosistem bisnis yang luas. Kebutuhan tersebut mencakup data center, cloud, komputasi, jaringan, integrasi sistem, hingga aplikasi dan solusi enterprise.
ISAT, GOTO, TLKM, DCII, MLPT, MTDL, dan WIRG memiliki bentuk eksposur yang berbeda terhadap perkembangan tersebut. ISAT dan GOTO memiliki keterkaitan dengan pengembangan serta pemanfaatan AI, sedangkan TLKM memiliki cakupan dari infrastruktur hingga solusi. DCII berada pada sisi data center, MLPT dan MTDL pada solusi enterprise, sementara WIRG memiliki eksposur melalui teknologi digital dan immersive technology.
Namun, tidak ada satu saham yang otomatis menjadi pilihan terbaik hanya karena memiliki eksposur AI. Menurut saya, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah perkembangan AI sudah memberikan dampak material terhadap pertumbuhan bisnis perusahaan.
Oleh karena itu, trader sebaiknya tetap menggabungkan tema AI dengan analisis fundamental, valuasi, likuiditas, volatilitas, perkembangan proyek, kebutuhan investasi, serta kinerja keuangan. Dengan demikian, AI dapat digunakan sebagai bagian dari kerangka analisis yang lebih utuh, bukan sekadar mengikuti narasi pasar.
FAQ Saham AI Indonesia
Apa yang dimaksud saham AI Indonesia?
Saham AI Indonesia adalah kategori tematik untuk emiten BEI yang memiliki eksposur bisnis terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Emiten dalam kategori ini tidak selalu merupakan perusahaan AI murni.
Apa saja saham yang memiliki eksposur terhadap AI?
Beberapa emiten yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem AI antara lain ISAT, GOTO, TLKM, DCII, MLPT, MTDL, dan WIRG.
Apakah semua saham AI memiliki model bisnis yang sama?
Tidak. ISAT dan GOTO memiliki eksposur terhadap pengembangan serta penggunaan AI. TLKM memiliki eksposur dari infrastruktur hingga solusi. DCII berfokus pada data center, MLPT dan MTDL pada solusi teknologi enterprise, sedangkan WIRG memiliki eksposur melalui teknologi digital dan immersive technology.
Apakah saham dengan eksposur AI pasti akan naik?
Tidak ada jaminan. Eksposur terhadap AI tidak otomatis menentukan pergerakan harga saham. Trader tetap perlu mempertimbangkan fundamental, valuasi, likuiditas, volatilitas, serta perkembangan bisnis masing-masing emiten.
Apa hal terpenting yang perlu diperhatikan trader?
Trader perlu melihat apakah perkembangan AI benar-benar memberikan dampak terhadap pendapatan, efisiensi, margin, laba, kontrak, atau pertumbuhan bisnis perusahaan. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada narasi AI, tetapi juga pada realisasi bisnisnya.










