Daftar Isi 7 bagian
RuangInvest.com, Jakarta – PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) berencana melakukan PBSA stock split dengan rasio 1:2. Aksi korporasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham sekaligus memperluas basis investor perseroan.
Rencana pemecahan nilai nominal saham ini disampaikan manajemen melalui keterbukaan informasi yang dikutip pada Kamis (13/8/2026). Perseroan menilai masih terdapat ruang untuk meningkatkan jumlah investor atau pemegang saham PBSA.
Melalui stock split, harga teoritis saham akan disesuaikan menjadi lebih rendah. Dengan begitu, kebutuhan dana untuk membeli satu lot saham PBSA menjadi lebih terjangkau bagi investor. Langkah tersebut diharapkan membuka akses lebih luas, terutama bagi investor ritel.
PBSA Stock Split Rasio 1:2
Manajemen PT Paramita Bangun Sarana Tbk menjelaskan bahwa rencana PBSA stock split dilakukan setelah perseroan mengevaluasi perkembangan jumlah investor. Perseroan melihat adanya peluang untuk memperluas basis pemegang saham.
Stock split merupakan aksi korporasi yang memecah nilai nominal saham. Jumlah saham menjadi lebih banyak, sedangkan nilai total investasi pemegang saham tetap sama.
Dalam rencana PBSA, rasio pemecahan saham ditetapkan sebesar 1:2. Artinya, setiap satu saham lama akan menjadi dua saham baru setelah aksi korporasi tersebut berlaku.
Saat ini, jumlah saham PBSA mencapai 3 miliar saham. Setelah stock split, jumlah saham perseroan akan meningkat menjadi 6 miliar saham.
Pada saat yang sama, nilai nominal saham juga mengalami perubahan. Nilai nominal sebelumnya sebesar Rp50 per saham akan dipecah menjadi Rp25 per saham.
Perubahan tersebut tidak mengurangi nilai investasi yang dimiliki pemegang saham. Persentase kepemilikan setiap investor juga tetap sama.
Sebagai contoh, investor yang sebelumnya memiliki 10.000 saham PBSA akan memiliki 20.000 saham setelah stock split. Namun, nilai total kepemilikannya secara teoritis tetap setara, karena harga saham juga menyesuaikan.
Karena itu, stock split bukan berarti perusahaan memberikan keuntungan tunai secara langsung kepada pemegang saham. Aksi ini lebih berkaitan dengan struktur saham dan keterjangkauan harga perdagangan.
Tujuan Stock Split Perluas Basis Investor
Manajemen PBSA menyatakan stock split dilakukan untuk membuat saham perseroan lebih mudah dijangkau. Harga perdagangan yang lebih rendah diharapkan dapat menarik lebih banyak investor.
Selain itu, peningkatan jumlah saham beredar dapat mendukung aktivitas transaksi di pasar. Perseroan berharap kondisi tersebut dapat memperkuat likuiditas saham PBSA.
Likuiditas menjadi salah satu faktor penting dalam perdagangan saham. Saham dengan aktivitas transaksi yang lebih baik biasanya memberikan ruang lebih besar bagi investor untuk melakukan transaksi.
Namun, stock split tidak otomatis menjamin likuiditas akan meningkat. Respons investor dan aktivitas perdagangan setelah aksi korporasi tetap menjadi faktor penentu.
Perseroan juga menilai harga saham yang lebih terjangkau dapat meningkatkan akses investor ritel. Kelompok investor tersebut dapat menjadi bagian penting dalam memperluas basis pemegang saham.
Manajemen menekankan bahwa aksi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan saham yang lebih inklusif. Perseroan ingin membuka peluang partisipasi investor yang lebih luas.
Di sisi lain, investor tetap perlu memahami bahwa perubahan jumlah saham tidak mengubah nilai fundamental perusahaan secara langsung. Stock split hanya mengubah nilai nominal dan jumlah saham melalui rasio yang telah ditentukan.
BEI Beri Persetujuan Prinsip
Rencana PBSA stock split juga telah memperoleh persetujuan prinsip dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Persetujuan tersebut tercantum dalam surat No. S-10360/BEI.PP3/08-2026 tertanggal 5 Agustus 2026.
Meski demikian, proses stock split masih membutuhkan persetujuan pemegang saham. Karena itu, perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB.
RUPSLB dijadwalkan berlangsung pada 18 September 2026. Agenda tersebut menjadi tahapan penting sebelum perseroan menjalankan pemecahan nilai nominal saham.
Jika pemegang saham memberikan persetujuan, perseroan akan melanjutkan proses sesuai jadwal yang telah disiapkan. Berdasarkan jadwal tentatif, perdagangan saham dengan nilai nominal baru akan mulai berlaku pada 14 Oktober 2026.
Dengan demikian, investor perlu memperhatikan beberapa agenda penting terkait rencana tersebut.
- RUPSLB dijadwalkan pada 18 September 2026.
- Rasio stock split ditetapkan 1:2.
- Jumlah saham meningkat dari 3 miliar menjadi 6 miliar saham.
- Nilai nominal turun dari Rp50 menjadi Rp25 per saham.
- Perdagangan saham dengan nilai nominal baru dijadwalkan mulai 14 Oktober 2026.
Jadwal tersebut masih berkaitan dengan proses persetujuan dan pelaksanaan aksi korporasi. Investor sebaiknya mencermati keterbukaan informasi perseroan untuk mengetahui perubahan jadwal jika nantinya terdapat penyesuaian.
Harga Saham PBSA Melonjak 21,6 Persen
Rencana stock split mendapat respons positif dari pasar. Pada sesi II perdagangan Kamis (13/8/2026), harga saham PBSA tercatat melonjak 21,6 persen ke level Rp900 per saham.
Penguatan tersebut menunjukkan adanya respons positif pelaku pasar terhadap rencana aksi korporasi perseroan. Kabar mengenai stock split menjadi salah satu perhatian investor pada perdagangan saham PBSA.
Meski begitu, kenaikan harga saham dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental perusahaan. Pergerakan saham juga dapat dipengaruhi sentimen pasar, volume transaksi, serta ekspektasi investor.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat harga saham setelah pengumuman stock split. Kinerja keuangan dan prospek bisnis perusahaan tetap menjadi faktor penting dalam menentukan valuasi.
Stock split juga tidak secara langsung membuat nilai perusahaan meningkat. Jumlah saham bertambah, sementara harga teoritis saham akan menyesuaikan sesuai rasio pemecahan.
Dengan rasio 1:2, secara teori harga saham setelah stock split akan berada sekitar setengah dari harga sebelum aksi. Namun, harga pasar tetap ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran.
Artinya, harga aktual setelah stock split bisa berbeda dari harga teoritis. Sentimen pasar dan minat beli investor akan memengaruhi pergerakan saham di pasar reguler.
Apa Dampaknya bagi Pemegang Saham?
Bagi pemegang saham lama, stock split tidak mengubah persentase kepemilikan. Investor hanya akan memiliki jumlah saham yang lebih banyak dengan harga teoritis per saham yang lebih rendah.
Kondisi tersebut membuat nilai investasi tetap setara secara teoritis. Perubahan baru akan terjadi jika harga saham bergerak setelah perdagangan dengan nilai nominal baru dimulai.
Sebagai ilustrasi, investor yang memiliki saham dengan nilai tertentu sebelum stock split akan mendapatkan jumlah lembar dua kali lipat. Namun, harga teoritis per saham juga menyesuaikan menjadi sekitar setengahnya.
Karena itu, investor perlu membedakan antara jumlah saham dan nilai investasi. Bertambahnya jumlah lembar saham bukan berarti kekayaan investor otomatis meningkat.
Di sisi lain, harga yang lebih terjangkau dapat membuat saham lebih mudah dibeli investor dengan modal terbatas. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan emiten melakukan stock split.
Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan risiko. Investor tidak sebaiknya membeli saham hanya karena harga terlihat lebih murah setelah stock split.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan investor antara lain:
- Kinerja keuangan perusahaan.
- Prospek bisnis dan proyek perseroan.
- Likuiditas perdagangan saham.
- Pergerakan harga sebelum dan sesudah stock split.
- Jadwal pelaksanaan aksi korporasi.
- Persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB.
- Kondisi pasar modal secara keseluruhan.
Dengan mencermati faktor tersebut, investor dapat melihat stock split secara lebih objektif. Aksi korporasi sebaiknya dipahami sebagai bagian dari strategi perseroan, bukan sebagai jaminan kenaikan harga saham.
Likuiditas Jadi Fokus Utama Perseroan
Salah satu alasan utama PBSA stock split adalah meningkatkan likuiditas perdagangan. Perseroan ingin menciptakan struktur saham yang lebih mudah diakses oleh investor.
Semakin rendah harga teoritis saham, semakin kecil pula dana yang diperlukan untuk membeli satu lot. Kondisi ini berpotensi memperluas partisipasi investor ritel.
Selain itu, jumlah saham yang lebih besar dapat memberikan ruang bagi peningkatan aktivitas transaksi. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada minat pasar.
Perseroan juga ingin memperluas kepemilikan saham. Basis investor yang lebih besar dapat membuat kepemilikan saham menjadi lebih tersebar.
Meskipun begitu, investor perlu memahami bahwa likuiditas tidak hanya ditentukan oleh jumlah saham beredar. Minat beli dan jual serta aktivitas transaksi juga menjadi faktor penting.
Karena itu, perkembangan volume perdagangan PBSA setelah stock split akan menjadi salah satu indikator yang menarik untuk diamati. Jika aktivitas transaksi meningkat secara konsisten, tujuan likuiditas perseroan berpotensi tercapai.
Investor Perlu Menunggu Tahapan Berikutnya
Rencana PBSA stock split masih memiliki sejumlah tahapan sebelum resmi berlaku. RUPSLB pada 18 September 2026 menjadi agenda penting yang akan menentukan kelanjutan aksi tersebut.
Setelah memperoleh persetujuan pemegang saham, perseroan akan menjalankan proses sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Perdagangan saham dengan nilai nominal baru dijadwalkan mulai 14 Oktober 2026.
Sementara itu, investor dapat mencermati perkembangan keterbukaan informasi PBSA. Perubahan jadwal maupun ketentuan pelaksanaan dapat terjadi sesuai proses yang berlangsung.
Respons pasar terhadap rencana ini memang terlihat positif. Harga saham PBSA melonjak 21,6 persen menjadi Rp900 pada sesi II Kamis (13/8/2026).
Namun, kenaikan tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi. Investor tetap perlu melihat kondisi bisnis dan fundamental perusahaan secara menyeluruh.
Pada akhirnya, stock split merupakan langkah untuk menyesuaikan struktur saham dan meningkatkan keterjangkauan harga. Keberhasilan aksi tersebut akan terlihat dari respons investor dan perkembangan likuiditas perdagangan setelah pelaksanaan.
Dengan rasio 1:2, PBSA akan menggandakan jumlah saham dari 3 miliar menjadi 6 miliar lembar. Nilai nominalnya juga berubah dari Rp50 menjadi Rp25 per saham.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, saham PBSA dengan nilai nominal baru akan mulai diperdagangkan pada 14 Oktober 2026. Investor pun memiliki waktu untuk mencermati keputusan RUPSLB dan perkembangan perseroan sebelum tanggal tersebut.




