Fundamental Ekonomi Indonesia Solid, IHSG Lanjut Reli 10 Hari

Dwi Prakoso

Fundamental ekonomi Indonesia solid menopang penguatan IHSG pada semester I-2026.

RuangInvest.com, JakartaFundamental ekonomi Indonesia solid pada semester I-2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang kuat, defisit APBN yang tetap terkendali, hingga arus modal asing yang kembali mengalir ke pasar keuangan domestik.

Sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan ketahanan ekonomi nasional masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade menjadi sinyal positif bagi investor dan pelaku usaha.

Selain itu, stabilitas fiskal, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang tetap tinggi memberikan ruang bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.

Fundamental Ekonomi Indonesia Solid Ditopang APBN dan Pertumbuhan Ekonomi

Kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak 2014.

Di sisi lain, inflasi Juni 2026 tetap terkendali di level 3,34 persen yoy. Kondisi tersebut memperlihatkan daya beli masyarakat masih terjaga meski tekanan global belum sepenuhnya mereda.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia mencapai USD145,6 miliar. Nilai tersebut setara dengan 5,5 bulan kebutuhan impor sehingga dinilai cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah apabila terjadi gejolak pasar global.

Kondisi tersebut menjadi fondasi penting bagi stabilitas pasar keuangan nasional. Selain menjaga kepercayaan investor, indikator tersebut juga memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia terhadap berbagai risiko eksternal.

APBN Tetap Sehat dan Defisit Berhasil Dijaga

Dari sisi fiskal, pemerintah mencatat pendapatan negara sepanjang semester I-2026 sebesar Rp1.459,4 triliun. Nilai itu setara 46,3 persen dari target APBN dan tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penerimaan pajak menjadi penyumbang terbesar. Realisasinya meningkat 24,6 persen secara tahunan sehingga memperkuat kapasitas fiskal pemerintah dalam menjalankan berbagai program pembangunan.

Selain itu, belanja negara juga meningkat 17,8 persen yoy. Kenaikan tersebut mencerminkan APBN tetap menjalankan fungsi produktif untuk mendukung pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, hingga berbagai program prioritas nasional.

Meskipun belanja meningkat, defisit APBN tetap terjaga pada level 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan defisit semester I-2025 yang mencapai 0,84 persen terhadap PDB.

Kondisi tersebut memperlihatkan keseimbangan antara belanja negara dan kemampuan pemerintah dalam mengelola penerimaan tetap terjaga. Karena itu, kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal Indonesia masih relatif kuat.

Arus Modal Asing Kembali Masuk dan Rating Indonesia Tetap Terjaga

Berdasarkan riset MNC Sekuritas yang dirilis Rabu (22/7/2026), arus modal asing atau net foreign inflow mencapai Rp108,1 triliun hingga 20 Juli 2026.

Mayoritas dana asing tersebut masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Utang Negara (SUN). Kondisi itu menunjukkan minat investor global terhadap aset keuangan Indonesia mulai meningkat kembali.

Selain itu, peringkat utang Indonesia juga tetap berada pada kategori investment grade. Standard & Poor’s (S&P) mempertahankan rating BBB dengan outlook stabil.

Di sisi lain, lembaga pemeringkat asal China juga memberikan peringkat AAA dengan outlook stabil terhadap penerbitan Panda Bonds Indonesia. Penilaian tersebut semakin memperkuat persepsi positif investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

Menurut MNC Sekuritas, meskipun harga minyak Brent masih bertahan di kisaran USD85 per barel akibat ketegangan geopolitik, tekanan jual investor asing di pasar saham mulai berkurang dalam jangka pendek.

Dalam risetnya, MNC Sekuritas menyebut fundamental ekonomi dan fiskal yang solid berperan sebagai shock absorber. Kondisi tersebut dinilai mampu menstabilkan rupiah, menjaga imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta menjadi katalis positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

IHSG Menguat 10 Hari Beruntun, Rupiah Ikut Menguat

Optimisme investor tercermin dari pergerakan pasar keuangan domestik. Hingga Rabu (22/7/2026) pukul 10.33 WIB, IHSG menguat 0,23 persen ke level 6.354.

Penguatan tersebut sekaligus memperpanjang reli menjadi 10 hari perdagangan berturut-turut. Dalam sepekan terakhir, IHSG juga telah naik sekitar 5,26 persen dan mencapai posisi tertinggi dalam kurang lebih satu bulan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah juga mulai menunjukkan pemulihan. Mata uang Garuda terapresiasi sekitar 0,21 persen dalam sepekan menjadi Rp17.916 per dolar Amerika Serikat.

Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga menyentuh level Rp18.128 per dolar AS pada 9 Juli 2026. Namun, masuknya arus modal asing serta membaiknya sentimen pasar membantu mendorong penguatan nilai tukar.

Ke depan, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan ekonomi global, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia dan dinamika geopolitik. Namun, selama fundamental ekonomi Indonesia solid tetap terjaga melalui APBN yang sehat, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang kuat, peluang stabilitas pasar keuangan domestik diperkirakan tetap terbuka. Kondisi tersebut juga diharapkan mampu menjaga momentum penguatan IHSG dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia sepanjang 2026.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
DEWA Masuk IDX30, Gantikan PTBA Mulai Agustus 2026

DEWA Masuk IDX30, Gantikan PTBA Mulai Agustus 2026

Kunjungi Artikel