RuangInvest.com – Jakarta – Big banks jadi sasaran asing kembali menjadi sorotan pasar modal Indonesia. Dalam sepekan terakhir, investor asing melakukan aksi jual bersih atau net foreign sell senilai Rp2,95 triliun di Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga akumulasi penjualan bersih sepanjang tahun 2026 mencapai sekitar Rp74 triliun.
Tekanan jual tersebut paling besar terjadi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks. Padahal, kelompok saham ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai pilihan utama investor institusi asing karena fundamental yang kuat dan likuiditas tinggi.
Selain menekan harga saham sektor perbankan, aksi jual asing juga berdampak pada melemahnya aktivitas perdagangan di Bursa. Nilai transaksi harian pun mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan pekan sebelumnya, menandakan investor masih memilih bersikap hati-hati.
Big Banks Jadi Sasaran Asing dalam Sepekan
Aksi jual investor asing sepanjang periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026 didominasi oleh saham-saham bank besar. Tiga emiten perbankan menyumbang sekitar 84 persen dari total net foreign sell di pasar saham Indonesia selama sepekan.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing. Nilai penjualan bersih mencapai sekitar Rp1,1 triliun.
Selanjutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net sell sebesar Rp717,3 miliar. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyusul dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp363,1 miliar.
Besarnya aksi jual tersebut menunjukkan bahwa investor global masih melakukan penyesuaian portofolio pada aset-aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, kondisi ini belum tentu mencerminkan penurunan fundamental perusahaan. Banyak analis menilai aksi jual lebih dipengaruhi sentimen global dibandingkan kinerja masing-masing emiten.
Rekor Net Sell Asing Sejak Awal Tahun
Jika dihitung sejak awal tahun 2026, tekanan jual asing terhadap saham-saham perbankan semakin terlihat jelas.
BBCA menjadi saham dengan akumulasi net foreign sell terbesar, yakni mencapai Rp32,4 triliun. Angka tersebut menjadi yang paling tinggi dibandingkan emiten lainnya.
Di posisi berikutnya terdapat BBRI dengan nilai penjualan bersih sekitar Rp12,9 triliun. Sementara itu, BMRI mencatat net sell sebesar Rp12,4 triliun.
Selain sektor perbankan, beberapa saham unggulan lain juga mengalami tekanan jual dari investor asing.
Beberapa di antaranya meliputi:
- BBRI : Rp1,1 triliun
- BBCA : Rp717,3 miliar
- BMRI : Rp363,1 miliar
- MAPI : Rp227,5 miliar
- ASII : Rp195,2 miliar
- TLKM : Rp136,7 miliar
- BBNI : Rp108,3 miliar
- BRMS : Rp99,3 miliar
- AADI : Rp94,5 miliar
- AMRT : Rp84,4 miliar
Distribusi penjualan yang cukup merata menunjukkan bahwa investor asing tidak hanya mengurangi eksposur pada sektor perbankan, tetapi juga pada sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya.
Likuiditas IHSG Ikut Tertekan
Aksi jual yang berlangsung secara berkelanjutan turut memengaruhi likuiditas perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Sepanjang pekan tersebut, rata-rata nilai transaksi harian turun sekitar 36 persen menjadi Rp11,3 triliun. Sebelumnya, rata-rata transaksi harian masih berada di kisaran Rp17,6 triliun.
Penurunan aktivitas perdagangan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar cenderung menunggu arah baru sebelum kembali melakukan akumulasi saham.
Di sisi lain, investor domestik masih menjadi penopang utama pergerakan IHSG. Meskipun begitu, derasnya arus keluar dana asing tetap menjadi faktor yang membatasi penguatan indeks.
Pelaku pasar kini juga mencermati perkembangan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arah kebijakan bank sentral yang dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham Indonesia.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Meski big banks jadi sasaran asing, investor tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa prospek sektor perbankan memburuk.
Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:
- Perhatikan laporan keuangan emiten pada kuartal berikutnya.
- Amati perkembangan arus dana asing setiap pekan.
- Fokus pada fundamental perusahaan dibandingkan sentimen jangka pendek.
- Hindari mengambil keputusan hanya karena tekanan jual sementara.
- Gunakan strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Selain itu, volatilitas pasar sering kali menghadirkan peluang bagi investor jangka panjang untuk memperoleh valuasi yang lebih menarik.
Pandangan Prospek untuk Investor
Dalam jangka pendek, pasar saham Indonesia masih berpotensi bergerak fluktuatif selama arus keluar dana asing belum mereda. Sentimen global, kebijakan suku bunga, serta pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah IHSG.
Namun, untuk jangka menengah hingga panjang, saham-saham perbankan besar tetap memiliki daya tarik berkat fundamental yang relatif solid, tingkat profitabilitas yang baik, serta posisi dominan dalam industri keuangan nasional. Jika kinerja keuangan tetap tumbuh sesuai ekspektasi, tekanan jual asing dapat menjadi momentum bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
Investor tetap disarankan menerapkan prinsip diversifikasi portofolio, memperhatikan valuasi saham, dan tidak mudah terpengaruh oleh pergerakan pasar dalam jangka pendek. Pendekatan investasi yang disiplin akan membantu memanfaatkan peluang ketika volatilitas masih tinggi.





