RuangInvest.com, Jakarta – Dampak komisi ojol 8 persen terhadap PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dinilai tidak seberat kekhawatiran yang sempat berkembang di pasar. Sejumlah analis menilai tekanan terhadap kinerja perusahaan masih dapat dikelola apabila kebijakan tersebut hanya diterapkan pada layanan transportasi roda dua.
Penilaian tersebut muncul setelah GoTo mengumumkan penerapan tarif komisi baru sebesar 8 persen untuk layanan GoRide mulai 1 Juli 2026. Sebelumnya, perusahaan menerapkan skema komisi sekitar 20 persen pada layanan tersebut.
Meski demikian, ketidakpastian regulasi masih menjadi perhatian utama investor. Pasar masih menunggu kejelasan terkait cakupan aturan yang akan dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 mengenai transportasi daring.
Dampak Komisi Ojol 8 Persen Dinilai Terbatas
Dalam riset yang diterbitkan pada 30 Juni 2026, analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus dan Audrey Celia, menilai kebijakan komisi 8 persen saat ini hanya berlaku untuk layanan e-hailing roda dua atau GoRide.
Menurut analis, kebijakan tersebut belum mencakup layanan roda empat maupun layanan pengiriman yang menjadi kontributor besar bagi pendapatan perusahaan. Karena itu, dampak komisi ojol 8 persen terhadap pendapatan GoTo diperkirakan masih relatif terbatas.
Analis memperkirakan kontribusi layanan roda dua hanya sekitar 7 persen terhadap total pendapatan perusahaan. Sementara itu, segmen mobilitas secara keseluruhan menyumbang sekitar 14 persen terhadap pendapatan bersih GoTo pada kuartal pertama 2026.
Di sisi lain, layanan berdasarkan permintaan atau on-demand service (ODS) memberikan kontribusi sekitar 62 persen terhadap total pendapatan. Sebagian besar pendapatan ODS berasal dari layanan pengiriman dan layanan terkait lainnya.
Karena itu, apabila pembatasan komisi hanya berlaku pada layanan roda dua, tekanan terhadap kinerja keuangan perusahaan diperkirakan masih dapat dikelola dengan baik.
Risiko Jika Aturan Diperluas ke Segmen Lain
Meskipun dampaknya saat ini dinilai ringan, analis mengingatkan bahwa risiko terbesar muncul apabila aturan komisi 8 persen diperluas ke layanan lain.
Jika kebijakan tersebut mencakup layanan roda empat dan pengiriman makanan, maka dampaknya terhadap pendapatan perusahaan akan jauh lebih besar. Hal ini mengingat layanan tersebut memiliki kontribusi yang signifikan terhadap total pendapatan GoTo.
UOB Kay Hian memperkirakan pembatasan komisi yang hanya berlaku pada roda dua akan menekan pendapatan bersih sekitar 3 persen pada 2026 dan sekitar 7 persen pada 2027.
Sebaliknya, apabila aturan diperluas ke seluruh layanan mobilitas dan pengiriman, pendapatan bersih perusahaan berpotensi turun sekitar 29 persen pada 2026 dan 36 persen pada 2027.
Karena itu, pasar masih menunggu kepastian mengenai cakupan regulasi yang akan diterapkan pemerintah dalam beberapa waktu ke depan.
Strategi GoTo Menjaga Profitabilitas
Untuk menghadapi potensi tekanan tersebut, GoTo dinilai masih memiliki sejumlah opsi strategis guna menjaga profitabilitas.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan antara lain:
- Mengurangi insentif pada segmen layanan berdasarkan permintaan.
- Meningkatkan skala bisnis fintech.
- Mengoptimalkan biaya operasional.
- Menaikkan biaya layanan pada bisnis e-commerce.
- Memperkuat fokus operasional di wilayah dengan permintaan tinggi.
- Meningkatkan efisiensi pendapatan dan pengelolaan biaya.
Selain itu, bisnis teknologi keuangan atau fintech dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan yang cukup baik. Segmen ini diharapkan dapat membantu menopang kinerja perusahaan di tengah tekanan pada bisnis mobilitas.
Namun, analis tetap mengingatkan bahwa perlambatan ekonomi menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Jika kondisi ekonomi memburuk, dampaknya dapat merembet ke bisnis fintech melalui peningkatan risiko kredit dan penurunan kualitas aset.
Meski begitu, kemampuan GoTo dalam mengelola data dan risiko pelanggan dinilai menjadi salah satu keunggulan yang dapat membantu perusahaan menghadapi tantangan tersebut.
Saham GOTO Masih Dibayangi Isu Likuiditas
Tekanan terhadap saham GOTO masih berlanjut meskipun perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih kuartalan untuk pertama kalinya pada kuartal I-2026.
Sentimen positif tersebut langsung tertutup oleh kekhawatiran pasar mengenai kebijakan pembatasan komisi maksimal 8 persen. Akibatnya, saham GOTO mengalami koreksi tajam hingga menyentuh batas bawah harga saham di Bursa Efek Indonesia, yakni Rp50 per saham.
Saham tersebut kemudian bertahan di level tersebut dengan likuiditas yang dinilai cukup tipis. Kondisi ini juga berdampak pada evaluasi indeks oleh MSCI.
MSCI diketahui menunda perubahan terkait jumlah saham beredar, faktor free float, serta sejumlah faktor pembatas lainnya dalam peninjauan indeks Mei 2026.
Sementara itu, perusahaan masih memiliki amunisi yang cukup kuat untuk menjaga kepercayaan investor. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 18 Juni 2026, pemegang saham menyetujui program pembelian kembali saham atau buyback senilai Rp3,5 triliun.
Program tersebut akan berlangsung dari Juni 2026 hingga Juni 2027. Selain itu, GoTo juga memiliki posisi kas bersih yang mencapai Rp21,8 triliun.
Meski demikian, manajemen belum menjalankan aksi buyback karena masih mempertimbangkan tekanan jual yang terjadi di pasar.
Dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, UOB Kay Hian tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham GOTO dengan target harga Rp78 per saham. Analis menilai kejelasan regulasi, peningkatan profitabilitas yang berkelanjutan, serta pelaksanaan buyback secara bertahap akan menjadi katalis utama bagi pergerakan saham GOTO dalam jangka menengah hingga panjang.





