RuangInvest.com, Jakarta – Prospek saham AMMN kembali menjadi sorotan setelah sejumlah analis memperkirakan kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Peningkatan produksi tambang dan percepatan operasional smelter menjadi faktor utama yang mendorong optimisme tersebut.
Perusahaan tambang tembaga dan emas itu dinilai berada pada fase pertumbuhan baru. Selain didukung peningkatan kapasitas produksi, harga komoditas yang masih relatif kuat juga memberikan sentimen positif terhadap kinerja keuangan perseroan.
Di tengah berbagai tantangan industri pertambangan global, AMMN justru menunjukkan perbaikan operasional yang cukup solid. Karena itu, sejumlah lembaga riset tetap mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham perusahaan tersebut.
Prospek Saham AMMN Didukung Lonjakan Produksi
Analis UOB Kay Hian, Benyamin Mikael, menilai AMMN berpotensi memasuki siklus puncak laba baru dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, perusahaan diperkirakan mampu mencatatkan laba tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2026.
Optimisme tersebut berasal dari pemulihan produksi yang diperkirakan berlangsung agresif. UOB Kay Hian memproyeksikan produksi tembaga dalam konsentrat akan melonjak hingga 124 persen secara tahunan pada 2026.
Sementara itu, produksi emas diperkirakan tumbuh lebih tinggi lagi. Produksi logam mulia tersebut berpotensi meningkat hingga 565 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan produksi tersebut didukung oleh peningkatan kapasitas pengolahan bijih atau mill throughput. Selain itu, transisi Tambang Batu Hijau menuju Fase 8 juga menjadi faktor penting karena memiliki kadar bijih yang lebih tinggi.
Atas dasar proyeksi tersebut, UOB Kay Hian memulai peliputan saham AMMN dengan rekomendasi beli. Target harga yang diberikan mencapai Rp7.000 per saham.
Kinerja Operasional AMMN Terus Menguat
Performa operasional perusahaan selama kuartal pertama 2026 menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Produksi konsentrat tembaga mencapai 167.792 dry metric ton (dmt).
Angka tersebut melonjak sekitar 110 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan efektivitas strategi operasional yang dijalankan perusahaan.
Selain memproduksi konsentrat tembaga, AMMN juga menghasilkan 27.670 ton katoda tembaga selama tiga bulan pertama tahun ini.
Di sisi penjualan, volume katoda tembaga mencapai 28.764 ton. Capaian tersebut menjadi indikator bahwa permintaan pasar terhadap produk perusahaan masih terjaga dengan baik.
Hingga akhir Maret 2026, AMMN juga telah mengekspor sebanyak 181.366 dmt konsentrat tembaga. Volume tersebut berasal dari total kuota ekspor sebesar 480.000 dmt yang diperoleh perusahaan pada Oktober tahun lalu.
Pengembangan Smelter Jadi Katalis Penting
Selain produksi tambang, perkembangan fasilitas smelter juga menjadi perhatian investor. Perseroan saat ini masih melanjutkan proses pengujian smelter tembaga dan fasilitas pemurnian logam mulia.
Manajemen menargetkan seluruh proses pengujian dapat rampung pada Juli 2026. Jika berjalan sesuai rencana, fasilitas tersebut akan memperkuat rantai nilai bisnis perusahaan.
Meski memiliki kuota ekspor yang cukup besar, AMMN memperkirakan tidak akan menggunakan seluruh kuota tersebut hingga masa berlaku berakhir pada April 2026.
Sebagian konsentrat diproyeksikan dialihkan untuk mendukung peningkatan kapasitas smelter domestik. Langkah ini dinilai dapat memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi perusahaan dalam jangka panjang.
Untuk tahun 2026, perseroan menargetkan produksi konsentrat mencapai 900.000 dmt. Dari jumlah tersebut, sekitar 220.000 ton diperkirakan berasal dari kandungan tembaga.
Target Produksi Tahun 2026
Beberapa target operasional yang disampaikan perusahaan antara lain:
- Produksi konsentrat mencapai 900.000 dmt.
- Produksi tembaga sekitar 220.000 ton.
- Penyelesaian pengujian smelter pada Juli 2026.
- Optimalisasi pengolahan bijih melalui peningkatan kapasitas pabrik.
Risiko yang Perlu Dicermati Investor
Meskipun prospek saham AMMN dinilai menarik, sejumlah risiko tetap perlu diperhatikan oleh investor. Maybank Sekuritas Indonesia menilai masih terdapat beberapa faktor yang berpotensi membatasi pertumbuhan laba perusahaan.
Salah satu risiko utama adalah proses peningkatan kapasitas smelter yang kemungkinan berlangsung lebih lambat dibandingkan perkiraan awal. Jika hal tersebut terjadi, kontribusi pendapatan dari produk hilir dapat tertunda.
Selain itu, harga emas juga menjadi faktor penting. Penurunan harga jual rata-rata emas berpotensi memengaruhi profitabilitas perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Maybank juga menyoroti penghapusan saham AMMN dari indeks standar global MSCI. Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi arus dana dari investor institusi yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan investasi.
Akibat berbagai pertimbangan tersebut, Maybank memangkas proyeksi laba bersih AMMN sebesar 28,4 persen untuk 2026. Sementara itu, proyeksi laba tahun 2027 dan 2028 masing-masing diturunkan sebesar 27,5 persen dan 25 persen.
Meski menurunkan target harga saham menjadi Rp5.500 dari sebelumnya Rp11.000 per saham, Maybank tetap mempertahankan rekomendasi beli. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pertumbuhan jangka panjang AMMN masih dianggap menarik.
Pada perdagangan reguler Selasa (9/6/2026) pukul 09.35 WIB, saham AMMN tercatat naik 1,27 persen ke level Rp3.190 per saham. Kenaikan tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap prospek bisnis dan pemulihan operasional perusahaan.
Dengan dukungan peningkatan produksi, pengembangan smelter, serta prospek harga komoditas yang masih solid, prospek saham AMMN tetap menjadi salah satu tema yang menarik untuk dicermati investor dalam beberapa tahun ke depan.





