Rupiah Melemah ke Rp18.187 per USD, Dipicu Geopolitik dan Sentimen Global

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Rupiah melemah ke Rp18.187 per USD pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026). Mata uang Garuda ditutup turun 151 poin atau sekitar 0,84 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

Pelemahan nilai tukar rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar setelah muncul laporan serangan terbaru yang melibatkan Israel dan Iran.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik juga turut menekan pergerakan rupiah. Kekhawatiran terhadap defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor energi, serta penurunan cadangan devisa menjadi faktor yang memengaruhi persepsi investor terhadap aset Indonesia.

Konflik Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi salah satu penyebab utama pelemahan rupiah pada awal pekan ini.

Menurut Ibrahim, harapan pasar terhadap berakhirnya konflik di Timur Tengah kembali memudar setelah muncul laporan ledakan di sejumlah wilayah Iran. Suara ledakan dilaporkan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan pada Senin pagi.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global. Pasar juga menilai risiko terhadap jalur distribusi minyak mentah melalui Selat Hormuz masih sangat tinggi.

Israel dilaporkan melakukan serangan terhadap fasilitas petrokimia di wilayah barat daya Iran. Serangan tersebut berlangsung bersamaan dengan operasi militer lain yang menyasar sejumlah target strategis.

Di sisi lain, Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke sejumlah target di Israel. Meskipun demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka.

Harga Minyak dan Dolar AS Menguat

Meningkatnya tensi geopolitik membuat harga minyak dunia bergerak naik. Situasi ini biasanya mendorong penguatan dolar AS karena investor mencari aset yang dianggap lebih aman.

Selain itu, potensi gangguan pasokan energi global dapat meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara. Akibatnya, pasar memperkirakan bank sentral utama dunia akan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.

Data Ekonomi AS Perkuat Posisi Dolar

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan pasar.

Ekonomi AS tercatat menambah 172 ribu lapangan kerja sepanjang Mei 2026. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar yang berada di kisaran 85 ribu pekerjaan.

Sementara itu, data April direvisi naik menjadi 179 ribu pekerjaan dari sebelumnya 115 ribu. Tingkat pengangguran juga tetap stabil di level 4,3 persen.

Data ketenagakerjaan yang solid memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve atau The Fed belum memiliki urgensi untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat apabila tekanan inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.

Karena itu, perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS yang dijadwalkan terbit pada Rabu pekan ini. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Sentimen Domestik Masih Membebani Rupiah

Dari dalam negeri, pasar masih mencermati berbagai agenda belanja pemerintah yang dinilai berpotensi meningkatkan tekanan fiskal.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi sorotan karena membutuhkan anggaran yang besar. Sebagian pelaku pasar khawatir kebijakan tersebut dapat memperlebar defisit transaksi berjalan.

Selain itu, surplus perdagangan Indonesia terus menunjukkan tren penyusutan. Kondisi tersebut membuat pasokan devisa dari sektor perdagangan tidak sebesar sebelumnya.

Kekhawatiran juga muncul terkait potensi meningkatnya subsidi bahan bakar minyak apabila harga minyak dunia terus naik. Jika kebutuhan impor energi bertambah, permintaan dolar AS di dalam negeri ikut meningkat.

Akibatnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Cadangan Devisa Turun, Namun Masih Aman

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai USD144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Angka tersebut turun dibandingkan posisi April 2026 yang sebesar USD146,2 miliar.

Penurunan ini menjadi perhatian pasar karena merupakan posisi terendah dalam hampir dua tahun terakhir. Secara historis, level tersebut mendekati posisi cadangan devisa pada Juni 2024.

Meski begitu, Bank Indonesia menegaskan bahwa cadangan devisa saat ini masih berada pada level yang memadai.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu juga masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di sekitar tiga bulan impor.

Bank Indonesia menilai posisi cadangan devisa saat ini masih mampu menjaga ketahanan sektor eksternal serta mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.

Proyeksi Rupiah Perdagangan Berikutnya

Berdasarkan berbagai sentimen yang berkembang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan.

Ia memprediksi nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya. Namun, kecenderungan pelemahan masih cukup dominan seiring tingginya ketidakpastian global.

Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp18.180 hingga Rp18.230 per USD.

Investor diperkirakan akan tetap mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, arah kebijakan The Fed, serta kondisi fiskal dan eksternal Indonesia. Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu