Saham Dividen Tinggi Jadi Incaran Saat Pasar Bergejolak

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Saham dividen tinggi kembali menjadi sorotan di tengah tekanan yang membayangi pasar keuangan domestik. Pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga, sentimen rebalancing indeks global, hingga ketidakpastian geopolitik mendorong investor mencari instrumen yang mampu memberikan pendapatan stabil.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah analis menilai saham dengan dividend yield tinggi dapat menjadi alternatif menarik. Selain berpotensi memberikan keuntungan dari kenaikan harga saham, investor juga berpeluang memperoleh pendapatan rutin melalui pembagian dividen.

Namun, para analis mengingatkan bahwa dividend yield yang besar tidak selalu menjadi jaminan kualitas sebuah emiten. Investor tetap perlu memperhatikan kondisi fundamental, keberlanjutan laba, serta prospek bisnis perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

Saham Dividen Tinggi Menarik di Tengah Ketidakpastian

Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut kondisi pasar saat ini justru membuka peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas yang menawarkan dividend yield menarik.

Menurut analis BRI Danareksa, harga sejumlah saham masih berada pada level yang menarik. Selain itu, beberapa emiten juga masih mampu mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada kuartal I-2026 meskipun pasar menghadapi berbagai tantangan.

“Harga saham masih menarik, dividend yield tetap tinggi, dan beberapa emiten masih mencatatkan kinerja yang solid di kuartal I-2026,” tulis analis BRI Danareksa dalam riset tertanggal 5 Juni 2026.

Karena itu, investor disarankan untuk tidak hanya mengejar yield tinggi semata. Evaluasi terhadap kesehatan bisnis perusahaan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan investasi jangka panjang.

Daftar Saham Dividen Tinggi Pilihan Analis

BRI Danareksa menempatkan beberapa emiten sebagai pilihan utama karena menawarkan kombinasi antara dividend yield tinggi dan fundamental yang relatif kuat.

PTBA Pimpin Estimasi Dividend Yield

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi emiten dengan estimasi dividend yield tertinggi dalam daftar tersebut. Yield yang diperkirakan mencapai 12,82 persen didukung lonjakan laba kuartal I-2026 sebesar 104,8 persen secara tahunan menjadi Rp801,8 miliar.

Selain PTBA, sektor perbankan juga mendominasi daftar saham dividen pilihan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menawarkan estimasi dividend yield sebesar 12,63 persen. Perseroan masih mampu membukukan laba sekitar Rp13 triliun hingga Rp14 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) diperkirakan memberikan dividend yield sebesar 10,45 persen. Kinerja laba yang mencapai sekitar Rp1,77 triliun serta rasio dana murah atau CASA yang kuat menjadi faktor pendukung utama.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga masuk dalam daftar unggulan. Bank pelat merah tersebut menawarkan estimasi yield sebesar 8,91 persen. Selain itu, laba perusahaan tumbuh 16,6 persen menjadi Rp15,4 triliun pada kuartal I-2026 dengan kualitas aset yang tetap terjaga.

Beberapa saham dividen tinggi yang menjadi pilihan analis meliputi:

  • PT Bukit Asam Tbk (PTBA) – Yield 12,82 persen
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) – Yield 12,63 persen
  • PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) – Yield 10,45 persen
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) – Yield 8,91 persen

Yield Tinggi Belum Tentu Didukung Fundamental Kuat

Di sisi lain, BRI Danareksa juga mencatat sejumlah emiten masih menawarkan dividend yield yang menarik. Namun, kinerja keuangan terbaru menunjukkan adanya pelemahan.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) misalnya diperkirakan membukukan dividend yield sebesar 10,25 persen. Meskipun demikian, laba perusahaan pada kuartal I-2026 turun 16 persen menjadi USD54,5 juta.

Kondisi serupa terlihat pada PT Astra International Tbk (ASII). Emiten konglomerasi tersebut mencatat penurunan laba sebesar 16 persen menjadi Rp5,85 triliun. Meski begitu, estimasi dividend yield ASII masih mencapai 8,53 persen.

Sementara itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) yang merupakan bagian dari Grup Astra diperkirakan menawarkan yield sebesar 7,83 persen. Namun, laba perusahaan turun cukup tajam hingga berada di kisaran Rp640 miliar.

Penurunan laba pada sejumlah emiten tersebut menjadi pengingat bahwa dividend yield tinggi perlu dianalisis bersama faktor fundamental lainnya. Investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka yield yang besar.

TLKM Tetap Menarik Sebagai Saham Defensif

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) masih masuk dalam radar investor yang mencari saham defensif. Emiten telekomunikasi terbesar di Indonesia tersebut diperkirakan menawarkan dividend yield sebesar 5,22 persen.

Meskipun menjadi yang terendah dalam daftar, TLKM tetap dinilai menarik karena memiliki model bisnis yang relatif stabil. Namun, estimasi yield tersebut juga mencerminkan adanya penurunan laba pada tahun buku 2025.

Sementara itu, investor yang mengutamakan kestabilan biasanya tetap mempertimbangkan saham defensif seperti TLKM sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.

Dengan kondisi pasar yang masih bergejolak, saham dividen tinggi memang menawarkan daya tarik tersendiri. Namun, investor perlu tetap selektif dan memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Kombinasi antara yield menarik, pertumbuhan laba yang sehat, serta prospek bisnis yang kuat akan menjadi faktor penting dalam menjaga potensi keuntungan investasi dalam jangka panjang.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu