Rating Danantara Investment Management Masih Investment Grade

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Jakarta – Rating Danantara Investment Management menjadi perhatian pelaku pasar setelah dua lembaga pemeringkat global, S&P Global dan Moody’s, untuk pertama kalinya memberikan penilaian terhadap lembaga tersebut. Meski muncul sejumlah catatan terkait tata kelola dan kebijakan, hasil pemeringkatan itu masih berada dalam kategori investment grade.

Penilaian tersebut memicu berbagai respons dari investor dan pengamat pasar modal. Namun, sejumlah pihak menilai rating yang diberikan belum mencerminkan adanya pelemahan signifikan pada kondisi ekonomi nasional.

Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana Hans Kwee menegaskan bahwa rating Danantara Investment Management yang diterbitkan oleh Moody’s dan S&P Global masih menunjukkan kemampuan lembaga tersebut dalam memenuhi kewajiban finansialnya. Karena itu, ia menilai pasar tidak perlu menafsirkan hasil pemeringkatan tersebut secara berlebihan.

Rating Danantara Investment Management Dapat Penilaian Investment Grade

Danantara Investment Management (DIM) baru-baru ini memperoleh peringkat kredit jangka panjang BBB dan jangka pendek A-2 dari S&P Global dengan outlook stabil. Sementara itu, Moody’s memberikan peringkat Baa2 dengan outlook negatif.

Menurut Hans Kwee, kedua rating tersebut masih termasuk kategori investment grade. Dengan demikian, lembaga pemeringkat global masih melihat kemampuan DIM dalam memenuhi kewajiban keuangannya.

“Peringkat tersebut menunjukkan Moody’s dan S&P Global tetap melihat DIM memiliki kapasitas dalam memenuhi kewajiban finansialnya,” ujar Hans dalam pernyataan tertulis, Jumat (5/6/2026).

Penilaian tersebut juga menunjukkan bahwa risiko kredit DIM masih berada pada level yang dapat diterima oleh investor institusi maupun pelaku pasar global.

Outlook Negatif Lebih Terkait Tata Kelola

Hans menjelaskan bahwa outlook negatif yang diberikan Moody’s tidak secara langsung menggambarkan lemahnya kondisi ekonomi Indonesia. Sebaliknya, perhatian utama lebih tertuju pada aspek tata kelola dan kepastian kebijakan.

Beberapa faktor yang menjadi perhatian meliputi:

  • Konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah.
  • Tata kelola perusahaan BUMN.
  • Kejelasan strategi investasi Danantara.
  • Pengelolaan APBN dalam jangka panjang.
  • Kepastian arah kebijakan ekonomi nasional.

Menurut Hans, penempatan rating DIM yang sejajar dengan pemerintah Indonesia menunjukkan keyakinan bahwa negara akan memberikan dukungan apabila terjadi tekanan terhadap lembaga tersebut.

Selain itu, lembaga pemeringkat melihat hubungan yang sangat erat antara Danantara dan pemerintah. Karena itu, tingkat risiko keduanya dinilai memiliki keterkaitan yang kuat.

Faktor Governance Jadi Sorotan Investor

Hans menilai persoalan utama yang menjadi perhatian bukanlah kondisi keuangan Danantara saat ini. Investor justru lebih fokus pada faktor governance atau tata kelola.

“Persoalan utama yang disoroti bukanlah kemampuan finansial Danantara saat ini, melainkan faktor governance dan kepastian kebijakan,” kata Hans.

Ia menambahkan bahwa persepsi investor global saat ini sangat dipengaruhi oleh transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi arah kebijakan pemerintah.

Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Kuat

Meski muncul outlook negatif dari Moody’s, Hans melihat fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif baik.

Ia menilai Indonesia tidak sedang berada dalam fase resesi. Pertumbuhan ekonomi nasional juga masih mampu bertahan di kisaran 5,6 persen.

Selain itu, inflasi masih terkendali meskipun harga energi global mengalami tekanan. Kondisi tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi domestik yang cukup kuat menghadapi tantangan eksternal.

Di sisi lain, posisi fiskal pemerintah juga dinilai relatif sehat. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menjaga kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Hans juga menyoroti neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatatkan surplus. Walaupun surplus tersebut mengalami penyusutan akibat meningkatnya impor energi, kondisinya tetap memberikan dukungan terhadap stabilitas ekonomi.

Sementara itu, sektor komoditas masih menjadi penopang penting pertumbuhan nasional. Ketika harga komoditas global berada pada level yang menguntungkan, penerimaan negara dan aktivitas ekonomi turut memperoleh manfaat.

“Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia tidak seburuk yang dikhawatirkan pasar. Pertumbuhan masih terjaga, inflasi terkendali, dan kondisi fiskal relatif baik,” ujarnya.

Pemerintah Perlu Perkuat Kepercayaan Investor

Hans menilai pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang. Langkah tersebut penting agar outlook kredit dapat membaik pada masa mendatang.

Beberapa upaya yang disarankan antara lain:

  • Memperkuat komunikasi kebijakan kepada pasar.
  • Menjaga pengelolaan APBN secara prudent.
  • Memastikan transparansi tata kelola BUMN.
  • Memperjelas strategi investasi Danantara.
  • Menjaga konsistensi kebijakan ekonomi nasional.

Menurutnya, investor global membutuhkan kepastian dan arah kebijakan yang jelas. Karena itu, komunikasi yang efektif menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar.

Meskipun terdapat catatan dari Moody’s, Hans menegaskan bahwa rating Danantara Investment Management masih berada dalam kategori investment grade. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap kemampuan finansial DIM masih tetap terjaga. Ke depan, penguatan tata kelola dan konsistensi kebijakan akan menjadi kunci untuk meningkatkan persepsi positif investor terhadap Indonesia maupun Danantara Investment Management.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu