RuangInvest.com, Jakarta – Top losers BEI pekan ini menjadi sorotan pelaku pasar setelah sejumlah saham mencatat penurunan tajam selama periode perdagangan 25-29 Mei 2026. Tekanan jual yang terjadi di berbagai sektor membuat sejumlah emiten masuk dalam daftar saham dengan koreksi terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Pergerakan pasar saham selama sepekan terakhir berlangsung cukup menantang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0,56 persen dan ditutup di level 6.127. Koreksi indeks tersebut turut memengaruhi kinerja sejumlah saham yang mengalami penurunan signifikan.
Di tengah pelemahan pasar, saham PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) menjadi emiten dengan penurunan terdalam. Saham ASPR terjun bebas hingga 37,85 persen dalam sepekan, menjadikannya penghuni posisi pertama dalam daftar top losers BEI pekan ini.
Top Losers BEI Pekan Ini Dipimpin ASPR
Berdasarkan statistik perdagangan Bursa Efek Indonesia per Sabtu, 30 Mei 2026, saham ASPR mencatat penurunan terbesar dibandingkan emiten lainnya. Harga saham perusahaan tersebut turun dari Rp288 menjadi Rp179 per saham.
Penurunan tajam ASPR menunjukkan tingginya tekanan jual yang terjadi selama sepekan. Selain itu, pelemahan juga terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi kecil hingga menengah yang bergerak di berbagai sektor usaha.
Posisi kedua ditempati oleh saham PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC). Emiten ini mengalami penurunan sebesar 27,14 persen dan ditutup pada level Rp980 per saham.
Sementara itu, saham PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) berada di posisi ketiga setelah melemah 24,82 persen ke level Rp106. Pelemahan tersebut menambah daftar saham yang terkoreksi lebih dari 20 persen selama pekan berjalan.
Daftar Lengkap 10 Saham Top Losers
Berikut daftar lengkap top losers BEI pekan ini berdasarkan persentase penurunan harga saham:
- PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) turun 37,85 persen menjadi Rp179.
- PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) melemah 27,14 persen menjadi Rp980.
- PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) merosot 24,82 persen menjadi Rp106.
- PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) turun 24,07 persen menjadi Rp410.
- PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) terkoreksi 23,57 persen menjadi Rp107.
- PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) melemah 22,10 persen menjadi Rp705.
- PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) turun 21,71 persen menjadi Rp238.
- PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) merosot 20,91 persen menjadi Rp87.
- PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) melemah 20 persen menjadi Rp700.
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) turun 19,30 persen menjadi Rp1.150.
Mayoritas saham dalam daftar tersebut mencatat koreksi di atas 20 persen. Kondisi ini menunjukkan tingginya volatilitas pasar yang terjadi selama pekan perdagangan terakhir Mei 2026.
AMRT Menjadi Saham Dengan Koreksi Paling Ringan
Di antara sepuluh saham yang masuk daftar top losers, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatat pelemahan paling kecil. Meskipun demikian, koreksi yang dialami tetap cukup dalam, yakni mencapai 19,30 persen.
Harga saham AMRT turun dari Rp1.425 menjadi Rp1.150 per saham. Penurunan tersebut membuat saham emiten ritel modern terbesar di Indonesia itu masuk dalam daftar saham dengan pelemahan terbesar selama sepekan.
Namun, dibandingkan saham lain dalam daftar, tekanan jual pada AMRT masih lebih rendah. Karena itu, posisi AMRT berada di urutan kesepuluh dalam daftar top losers pekan ini.
IHSG Terkoreksi di Tengah Tekanan Pasar
Koreksi yang terjadi pada sejumlah saham sejalan dengan pergerakan IHSG yang masih berada di zona merah. Selama periode 25-29 Mei 2026, indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut turun 0,56 persen ke level 6.127.
Pelemahan indeks mencerminkan adanya aksi jual yang cukup dominan di pasar. Selain itu, investor juga terlihat lebih selektif dalam memilih saham di tengah berbagai sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar.
Di sisi lain, tidak semua sektor mengalami tekanan yang sama. Beberapa saham masih mampu bertahan, sementara sejumlah emiten lainnya mengalami koreksi tajam hingga lebih dari 30 persen dalam waktu singkat.
Bagi investor, daftar top losers BEI pekan ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk memantau saham-saham yang sedang mengalami tekanan. Meskipun harga saham turun signifikan, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaan, prospek bisnis, serta risiko pasar yang ada.
Dengan berakhirnya perdagangan pekan ini, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada pergerakan IHSG dan kinerja emiten pada awal Juni 2026. Investor akan mencermati apakah tekanan jual masih berlanjut atau justru terjadi peluang rebound pada sejumlah saham yang mengalami koreksi dalam selama beberapa hari terakhir.





