RuangInvest.com, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sejumlah saham mengalami tekanan jual sepanjang perdagangan 18-21 Agustus 2026. Daftar saham top losers tersebut menunjukkan penurunan yang cukup tajam.
Kinerja saham-saham tersebut bergerak berlawanan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam periode yang sama, IHSG justru mencatat penguatan sebesar 1,93 persen ke level 6.525.
PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) menjadi saham dengan penurunan paling dalam. Berdasarkan statistik BEI, harga TCPI anjlok 35,56 persen dalam sepekan, dari Rp3.600 menjadi Rp2.320 per saham.
Saham Top Losers Dipimpin TCPI
Pergerakan pasar saham tidak selalu bergerak seragam. Ketika IHSG menguat, sejumlah saham tetap dapat mengalami tekanan jual yang besar.
Kondisi tersebut terlihat pada perdagangan pekan pendek 18-21 Agustus 2026. BEI mencatat sepuluh saham dengan pelemahan terbesar dari berbagai sektor.
TCPI menjadi perhatian karena penurunannya mencapai 35,56 persen. Harga saham perseroan turun Rp1.280 dibandingkan posisi pada pekan sebelumnya.
Tekanan tersebut membuat TCPI berada jauh di atas saham lain dalam daftar top losers. Selisih penurunannya juga cukup besar dibandingkan saham yang berada di posisi kedua.
PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) menempati posisi kedua. Saham BAIK turun 23,08 persen menjadi Rp300 per saham.
Sementara itu, PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) berada di posisi ketiga. Harga saham DWGL melemah 18,29 persen menjadi Rp286.
Berikut daftar lengkap saham top losers sepanjang perdagangan 18-21 Agustus 2026:
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) turun 35,56 persen menjadi Rp2.320.
- PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) turun 23,08 persen menjadi Rp300.
- PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) turun 18,29 persen menjadi Rp286.
- PT Tempo Intimedia Tbk (TMPO) turun 15,38 persen menjadi Rp165.
- PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) turun 13,25 persen menjadi Rp3.470.
- PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun 10,55 persen menjadi Rp1.060.
- PT Citra Buana Prasida Tbk (CBPE) turun 10,34 persen menjadi Rp520.
- PT MD Entertainment Tbk (FILM) turun 10 persen menjadi Rp810.
- PT Calculus Global Ventures Tbk (STAR) turun 9,91 persen menjadi Rp418.
- PT LinkNet Tbk (LINK) turun 9,37 persen menjadi Rp1.500.
IHSG Menguat, Sejumlah Saham Tetap Tertekan
Penguatan IHSG menjadi salah satu gambaran penting dalam melihat kinerja pasar selama sepekan. Indeks naik 1,93 persen ke level 6.525.
Namun, penguatan indeks tidak berarti seluruh saham ikut naik. Pergerakan setiap emiten tetap dipengaruhi oleh sentimen dan aktivitas perdagangan masing-masing.
Karena itu, investor perlu melihat kinerja saham secara lebih spesifik. Perbedaan performa antara indeks dan saham individual dapat terlihat cukup lebar.
Dalam daftar BEI, seluruh saham yang masuk sepuluh besar mengalami penurunan lebih dari 9 persen. Angka tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat pada saham-saham terkait.
Di sisi lain, LINK menjadi saham dengan pelemahan paling terbatas dalam daftar tersebut. Saham perusahaan turun 9,37 persen dari Rp1.655 menjadi Rp1.500.
Meskipun berada di posisi terakhir, penurunan LINK tetap menunjukkan adanya tekanan terhadap harga saham. Namun, persentasenya lebih kecil dibandingkan sembilan saham lain dalam daftar.
Tekanan Jual Terjadi di Berbagai Sektor
Daftar saham top losers pekan ini juga memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada satu sektor.
Sejumlah emiten dalam daftar berasal dari sektor dan bidang usaha yang berbeda. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan saham dapat dipengaruhi oleh faktor spesifik emiten maupun sentimen pasar.
TCPI, misalnya, bergerak dalam bisnis yang berkaitan dengan jasa transportasi dan logistik. Sementara itu, ARTO merupakan emiten perbankan yang juga masuk dalam daftar sepuluh saham dengan pelemahan terbesar.
Selain itu, terdapat emiten dari sektor media, hiburan, properti, hingga energi. Keragaman tersebut membuat investor perlu mencermati kondisi masing-masing perusahaan.
Pergerakan harga saham juga tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menilai kinerja perusahaan. Investor perlu mempertimbangkan laporan keuangan, prospek bisnis, valuasi, serta kondisi industrinya.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Penurunan tajam sebuah saham tidak otomatis berarti perusahaan tersebut memiliki prospek buruk. Sebaliknya, kenaikan harga juga tidak selalu menunjukkan kondisi fundamental yang kuat.
Investor perlu membedakan antara penurunan karena faktor fundamental dan penurunan akibat sentimen atau aktivitas perdagangan. Langkah tersebut penting sebelum mengambil keputusan investasi.
Beberapa hal yang dapat menjadi perhatian investor antara lain:
- Kinerja keuangan, termasuk pendapatan, laba, arus kas, dan tingkat utang.
- Volume transaksi, untuk melihat tingkat aktivitas perdagangan saham.
- Sentimen pasar, baik dari industri maupun kondisi ekonomi secara umum.
- Valuasi saham, seperti price to earnings ratio dan price to book value.
- Prospek bisnis, terutama terkait pertumbuhan pendapatan dan laba.
- Keterbukaan informasi, termasuk aksi korporasi dan informasi material perusahaan.
Selain itu, investor sebaiknya tidak terburu-buru membeli saham hanya karena harganya sudah turun. Harga yang melemah belum tentu langsung menjadi murah secara fundamental.
Sebaliknya, investor yang sudah memiliki saham dalam daftar top losers perlu mengevaluasi kembali alasan penurunan tersebut. Evaluasi dapat membantu menentukan apakah posisi investasi masih sesuai dengan strategi awal.
TCPI Jadi Perhatian Utama Pekan Ini
Penurunan TCPI menjadi sorotan utama dalam daftar saham top losers periode 18-21 Agustus 2026. Pelemahan 35,56 persen membuat saham tersebut menjadi yang paling tertekan di antara sepuluh saham yang dicatat BEI.
Sementara itu, BAIK dan DWGL juga mencatat penurunan dua digit yang cukup besar. Keduanya masing-masing turun 23,08 persen dan 18,29 persen.
Saham lain seperti TMPO, CTBN, ARTO, CBPE, dan FILM juga mengalami pelemahan dua digit. STAR dan LINK menjadi dua saham dengan penurunan di bawah 10 persen.
Meskipun begitu, daftar ini sebaiknya dipandang sebagai informasi mengenai performa harga dalam periode tertentu. Daftar tersebut bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham.
Investor tetap perlu melakukan analisis secara mandiri sebelum mengambil keputusan. Kondisi harga saham juga dapat berubah cepat pada sesi perdagangan berikutnya.
Dengan demikian, penguatan IHSG sebesar 1,93 persen tidak serta-merta mencerminkan seluruh saham berada dalam tren positif. Daftar saham top losers pekan ini menjadi bukti bahwa pergerakan indeks dan saham individual dapat sangat berbeda.
Data BEI tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya melihat pasar secara lebih luas. Investor perlu memperhatikan indeks, sektor, fundamental perusahaan, dan dinamika perdagangan sebelum menentukan strategi investasi.










