Saham Grup Bakrie Menguat, VKTR Melonjak 21 Persen

Dwi Prakoso

Pergerakan saham Grup Bakrie menguat dipimpin VKTR pada perdagangan Bursa Efek Indonesia.

RuangInvest.com, JakartaSaham Grup Bakrie menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Reli dipimpin PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang kembali melesat lebih dari 20 persen setelah sehari sebelumnya ditutup menyentuh auto rejection atas (ARA).

Penguatan tersebut menarik perhatian pelaku pasar. Selain VKTR, sejumlah saham lain di bawah Grup Bakrie juga bergerak di zona hijau dengan kenaikan yang cukup signifikan sejak awal perdagangan.

Kinerja positif tersebut tidak hanya didorong sentimen teknikal. Di sisi lain, prospek bisnis kendaraan listrik, ekspansi usaha, serta aksi korporasi berupa rights issue menjadi faktor yang ikut meningkatkan optimisme investor terhadap emiten-emiten Grup Bakrie.

Saham Grup Bakrie Menguat Dipimpin VKTR

Hingga pukul 09.58 WIB, saham VKTR melonjak 21,54 persen ke level Rp790 per saham. Kenaikan ini memperpanjang reli setelah sehari sebelumnya saham emiten kendaraan listrik tersebut ditutup di level ARA.

Selain VKTR, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 11,55 persen ke Rp1.400 per saham. Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 8,49 persen ke level Rp575.

Pergerakan positif juga terjadi pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang naik 5,20 persen. Kemudian PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bertambah 4,76 persen, sedangkan PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALLI) menguat 1,97 persen.

Kompaknya penguatan saham-saham tersebut menunjukkan minat beli investor masih cukup tinggi. Meskipun begitu, volatilitas tetap berpotensi meningkat mengingat sebagian saham telah mencatat kenaikan tajam dalam waktu singkat.

Prospek VKTR Didukung Bisnis Kendaraan Listrik

Dari sisi fundamental, VKTR memperoleh dukungan sentimen positif melalui prospek bisnis kendaraan listrik yang semakin berkembang.

Dalam riset Samuel Sekuritas pada 26 Juni 2026, VKTR dinilai menjadi salah satu kandidat terkuat untuk memenangkan tender sekitar 350 unit bus listrik TransJakarta tahun 2026.

Tender tersebut diperkirakan terdiri atas sekitar 200 unit bus listrik berukuran 12 meter dan 150 unit bus listrik berukuran 8 meter. Jumlah tersebut meningkat sekitar 20 persen dibandingkan pengadaan tahun sebelumnya.

Samuel Sekuritas memperkirakan VKTR berpeluang memperoleh kontrak sekitar 90 hingga 100 unit bus listrik. Angka tersebut setara dengan pangsa pasar sekitar 25 hingga 30 persen.

Optimisme itu semakin kuat karena perseroan memiliki kemitraan strategis dengan produsen kendaraan listrik asal China, BYD. Selain itu, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) produk VKTR telah mencapai sekitar 40 persen sehingga menjadi nilai tambah dalam proses pengadaan.

Pada tender TransJakarta 2025, VKTR berhasil memperoleh kontrak pengadaan 80 unit bus listrik. Sebanyak 50 unit telah diakui sebagai penjualan, sedangkan 30 unit sisanya dikirim pada kuartal pertama 2026.

Samuel Sekuritas memperkirakan bisnis bus listrik mampu menyumbang pendapatan sekitar Rp268 miliar sepanjang 2026 dengan asumsi penjualan sekitar 70 unit.

Hingga saat ini, sekitar 165 unit bus listrik VKTR telah beroperasi. Rata-rata jarak tempuh armada tersebut mencapai sekitar 210 kilometer per hari.

Selain itu, perseroan juga menyiapkan peluncuran bus listrik berukuran 8 meter pada tahun ini. Produk baru tersebut diharapkan memperluas peluang VKTR dalam mengikuti tender sekaligus memenuhi kebutuhan operator transportasi perkotaan.

Di sisi lain, prospek bisnis truk listrik atau e-truck juga dinilai semakin menarik. Permintaan diperkirakan meningkat seiring upaya sektor pertambangan dan perkebunan menjalankan program dekarbonisasi.

Rights Issue Jadi Perhatian Investor

VKTR juga bersiap menggelar rights issue dengan menerbitkan hingga 25 miliar saham baru melalui skema tujuh saham lama memperoleh empat HMETD.

Apabila seluruh saham baru diterbitkan, pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 36,36 persen.

Adapun jadwal rights issue yang telah diumumkan meliputi:

  • Cum rights di pasar reguler dan negosiasi: 28 Juli 2026
  • Perdagangan HMETD: 3-7 Agustus 2026
  • Pelaksanaan HMETD: 3-7 Agustus 2026

Sekitar 80 persen dana hasil rights issue akan disalurkan kepada PT Sarana Ekomobilitas Indonesia. Dana tersebut digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis kendaraan listrik melalui pembelian kendaraan dari VKTR sepanjang 2026 hingga 2027.

Sementara itu, sekitar 20 persen dana akan digunakan sebagai tambahan modal kerja perseroan.

Di sisi lain, ENRG juga akan melakukan rights issue dengan menerbitkan hingga 13,28 miliar saham baru Seri B.

Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp310 per saham. Dengan skema tersebut, perseroan berpotensi menghimpun dana sekitar Rp4,12 triliun.

Setiap pemegang dua saham ENRG akan memperoleh satu HMETD yang dapat ditebus menjadi satu saham baru. Namun, pemegang saham yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 33,33 persen.

Prospek untuk Investor

Kenaikan saham Grup Bakrie menunjukkan sentimen pasar yang sedang positif. Namun, investor tetap perlu memperhatikan keseimbangan antara peluang dan risiko.

Beberapa faktor yang layak dicermati antara lain:

  • Prospek tender bus listrik TransJakarta yang berpotensi meningkatkan pendapatan VKTR.
  • Peluncuran produk bus listrik 8 meter yang dapat memperluas pasar perseroan.
  • Peluang pertumbuhan bisnis truk listrik seiring tren dekarbonisasi industri.
  • Rights issue VKTR dan ENRG yang berpotensi memperkuat struktur permodalan perusahaan.
  • Risiko dilusi bagi investor yang tidak mengeksekusi HMETD.

Dalam jangka menengah hingga panjang, VKTR masih memiliki katalis positif apabila mampu merealisasikan kontrak baru serta meningkatkan penjualan kendaraan listrik. Sementara itu, ENRG berpeluang memperoleh tambahan ruang ekspansi setelah rights issue berhasil terlaksana.

Meski demikian, investor tetap disarankan mencermati valuasi saham setelah kenaikan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Selain memperhatikan sentimen pasar, keputusan investasi sebaiknya juga didasarkan pada perkembangan fundamental perusahaan, realisasi proyek, serta hasil aksi korporasi yang akan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu