RuangInvest.com, Jakarta – Rights Issue SINI tetap dilanjutkan meski saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) sedang disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan memastikan proses penambahan modal melalui mekanisme Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) tetap berjalan sesuai jadwal setelah memperoleh pernyataan efektif.
Suspensi perdagangan saham SINI mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Langkah tersebut dilakukan BEI sebagai tindak lanjut penerapan Peraturan Bursa Nomor I-X mengenai Papan Pemantauan Khusus.
Di sisi lain, perseroan tetap menerbitkan informasi tambahan prospektus HMETD I. Melalui aksi korporasi ini, SINI menargetkan penghimpunan dana hingga Rp3,61 triliun untuk mendukung ekspansi usaha, memperkuat struktur keuangan, serta memenuhi kebutuhan modal kerja.
Rights Issue SINI Tetap Berjalan Meski Saham Disuspensi
Bursa Efek Indonesia menjelaskan bahwa suspensi saham SINI dilakukan karena perusahaan telah berada di Papan Pemantauan Khusus selama lebih dari satu tahun berturut-turut. Masa pengecualian bagi emiten yang hanya memenuhi kriteria memiliki ekuitas negatif juga telah berakhir pada 30 Juni 2026.
Karena itu, BEI memutuskan menghentikan sementara perdagangan saham SINI mulai sesi perdagangan 1 Juli 2026. Langkah tersebut bertujuan menjaga perdagangan efek agar tetap berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.
Namun, penghentian sementara perdagangan saham tidak menghentikan rencana perusahaan untuk menggelar rights issue. Perseroan tetap melanjutkan proses HMETD setelah memperoleh pernyataan efektif pada 30 Juni 2026.
Dalam aksi korporasi tersebut, SINI akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 721,5 juta saham baru. Jumlah itu setara dengan 60 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah rights issue selesai dilaksanakan.
Dengan harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, nilai dana yang berpotensi dihimpun mencapai sekitar Rp3,61 triliun. Dana tersebut akan menjadi salah satu sumber pendanaan penting bagi strategi bisnis perseroan ke depan.
Alokasi Dana Rights Issue SINI
Perseroan telah menjelaskan secara rinci penggunaan dana hasil rights issue setelah dikurangi biaya emisi. Sebagian besar dana akan diarahkan untuk mendukung pengembangan usaha dan memperkuat kondisi keuangan perusahaan.
Rencana penggunaan dana tersebut meliputi:
- Sekitar Rp1,51 triliun untuk mengakuisisi 99,995 persen saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk (PTRO).
- Sekitar Rp900 miliar untuk pelunasan lebih awal utang perseroan.
- Sekitar Rp1,18 triliun disalurkan sebagai pinjaman kepada dua perusahaan anak.
- Sekitar Rp10 miliar digunakan sebagai tambahan modal kerja hingga akhir 2027.
Selain memperkuat struktur permodalan, langkah ini juga diharapkan mendukung aktivitas operasional dan ekspansi bisnis perseroan dalam jangka menengah.
Sementara itu, akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti menjadi salah satu agenda terbesar dalam penggunaan dana hasil rights issue. Transaksi tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap pengembangan bisnis perusahaan.
Jadwal HMETD dan Potensi Dilusi Pemegang Saham
Berdasarkan ketentuan yang telah diumumkan, setiap pemegang dua saham lama yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 10 Juli 2026 akan memperoleh tiga HMETD.
Setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp5.000 per saham.
HMETD dijadwalkan mulai diperdagangkan pada periode 14 hingga 20 Juli 2026. Selama periode tersebut, pemegang saham dapat melaksanakan haknya ataupun mengalihkan HMETD sesuai ketentuan yang berlaku.
Perseroan juga mengingatkan adanya potensi dilusi kepemilikan apabila pemegang saham tidak menggunakan haknya. Tingkat dilusi maksimal dapat mencapai sekitar 60 persen setelah seluruh saham baru diterbitkan.
Karena itu, pemegang saham diharapkan memperhatikan jadwal pelaksanaan HMETD agar dapat menentukan keputusan investasi sesuai kepentingannya masing-masing.
PTRO Menjadi Pembeli Siaga Utama
Untuk memastikan pelaksanaan rights issue berjalan optimal, PT Petrosea Tbk (PTRO) ditunjuk sebagai pembeli siaga utama.
PTRO tidak hanya akan melaksanakan seluruh HMETD yang dimilikinya. Perusahaan tersebut juga siap menyerap hak yang dialihkan kepadanya.
Selain itu, PTRO berkomitmen membeli sisa saham yang tidak diambil oleh pemegang HMETD hingga sebanyak-banyaknya 116,18 juta saham.
Sementara itu, PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk juga bertindak sebagai pembeli siaga tambahan. Kedua perusahaan tersebut akan menyerap sisa saham apabila setelah seluruh proses HMETD masih terdapat saham yang belum terserap.
Perseroan juga menegaskan bahwa pelaksanaan Rights Issue SINI tidak akan mengakibatkan perubahan pengendali perusahaan.
Sejumlah pemegang saham utama telah menyampaikan komitmen untuk melaksanakan maupun mengalihkan HMETD yang dimiliki. Beberapa di antaranya adalah PT Autum Prima Indonesia, Batubara Development Pte. Ltd., PT Kreasi Jasa Persada, serta Hapsoro.
Dengan adanya komitmen dari para pemegang saham utama dan pembeli siaga, pelaksanaan rights issue diharapkan dapat berlangsung sesuai rencana meskipun saham SINI masih berada dalam masa suspensi perdagangan di Bursa Efek Indonesia.





