RuangInvest.com, JAKARTA – Reli saham bank besar kembali menjadi motor penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Penguatan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar berhasil menopang indeks sekaligus meredakan tekanan jual yang sempat membayangi pasar saham domestik.
Pergerakan positif tersebut terjadi di tengah kondisi investor asing yang masih membukukan aksi jual bersih atau net sell. Meski demikian, derasnya pembelian dari investor domestik mampu menjaga momentum kenaikan saham-saham unggulan, khususnya sektor perbankan.
Kondisi ini memberikan sinyal bahwa kepercayaan pelaku pasar dalam negeri masih cukup kuat terhadap fundamental emiten perbankan. Selain itu, valuasi sejumlah saham bank dinilai semakin menarik setelah mengalami koreksi cukup dalam sejak awal tahun.
IHSG Menguat Berkat Reli Saham Bank Besar
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Selasa (7/7/2026) pukul 14.38 WIB, IHSG naik 0,96 persen ke level 5.972.
Nilai transaksi mencapai Rp7,01 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 15,45 miliar saham. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 404 saham menguat, 243 saham melemah, sedangkan 314 saham bergerak stagnan.
Secara mingguan, IHSG telah menguat 2,60 persen. Sementara itu, dalam satu bulan terakhir indeks berhasil mencatat kenaikan sebesar 6,70 persen.
Namun, jika dihitung sejak awal tahun atau year to date (YtD), IHSG masih terkoreksi sekitar 30,94 persen dibandingkan posisi awal 2026. Artinya, ruang pemulihan pasar masih terbuka apabila sentimen positif terus berlanjut.
Di sisi lain, investor asing masih membukukan jual bersih sebesar Rp2,26 triliun di pasar reguler selama sepekan terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan pasar saat ini lebih banyak didorong oleh investor domestik.
BBCA dan Saham Himbara Memimpin Penguatan
Salah satu kontributor terbesar terhadap penguatan IHSG berasal dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Pada perdagangan Selasa, saham BBCA naik 2,04 persen ke level Rp6.250 per saham. Penguatan tersebut sekaligus memperpanjang reli selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Meski harga saham terus menguat, investor asing masih melakukan aksi jual bersih pada saham BBCA sebesar Rp125,54 miliar dalam sepekan terakhir.
Bahkan, secara akumulatif sejak awal tahun, net sell asing di saham BBCA telah mencapai Rp32,27 triliun. Angka tersebut menjadi yang terbesar di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026.
Sementara itu, saham-saham bank milik Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) juga menunjukkan kinerja yang positif.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melonjak 4,27 persen ke level Rp3.420 per saham.
Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 3,23 persen menjadi Rp2.880 per saham.
Adapun PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menguat 0,74 persen ke posisi Rp4.060 per saham.
Penguatan saham-saham tersebut memperlihatkan bahwa minat beli investor domestik terhadap sektor perbankan masih cukup tinggi. Selain itu, sektor ini kembali menjadi pilihan utama ketika pasar mulai memasuki fase pemulihan.
Prospek Sektor Perbankan Masih Positif
Meski terdapat tekanan pada kualitas kredit konsumen, prospek sektor perbankan nasional dinilai masih cukup menjanjikan.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan pada 3 Juli 2026 tetap mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor perbankan.
Menurut analis, koreksi harga saham yang terjadi sepanjang tahun telah membuat valuasi bank-bank besar menjadi lebih menarik dibandingkan beberapa waktu lalu.
Selain itu, fundamental industri perbankan masih relatif kuat. Tingkat permodalan yang sehat memberikan ruang bagi bank untuk tetap menjaga ekspansi bisnis di tengah tantangan ekonomi.
Dalam riset tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) menjadi pilihan utama atau top picks.
Kedua emiten tersebut dinilai memiliki kualitas aset yang lebih baik serta profitabilitas yang lebih stabil dibandingkan sebagian besar bank lainnya.
Meski begitu, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor.
Beberapa risiko utama meliputi potensi penurunan kualitas aset yang lebih besar dari perkiraan serta penyusutan net interest margin (NIM) apabila persaingan bunga semakin ketat.
Prospek Investor Masih Terbuka
Bagi investor, penguatan IHSG yang didorong oleh reli saham bank besar menjadi sinyal positif bahwa sektor perbankan masih berperan sebagai penopang utama pasar modal Indonesia.
Namun, investor tetap perlu mencermati arah aliran dana asing. Selama net sell asing masih berlangsung, volatilitas pasar diperkirakan tetap akan terjadi dalam jangka pendek.
Di sisi lain, dominasi pembelian investor domestik menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap fundamental bank-bank besar masih cukup tinggi. Kondisi ini berpotensi menjaga stabilitas harga saham selama tidak muncul sentimen negatif yang signifikan.
Untuk investor jangka panjang, valuasi saham perbankan yang saat ini relatif lebih murah dibandingkan awal tahun dapat menjadi peluang akumulasi secara bertahap. Strategi tersebut tetap perlu disertai dengan seleksi emiten berdasarkan kualitas aset, pertumbuhan laba, serta kemampuan menjaga margin keuntungan.
Apabila kondisi ekonomi nasional terus membaik dan kualitas kredit tetap terjaga, sektor perbankan berpeluang menjadi salah satu motor utama pemulihan IHSG pada paruh kedua 2026. Karena itu, saham-saham bank besar masih layak masuk dalam daftar pantauan investor yang berorientasi pada investasi jangka menengah hingga panjang.





