RuangInvest.com, Jakarta – Prospek sektor teknologi menghadapi tantangan yang semakin besar sepanjang 2026. Kenaikan harga minyak dunia, suku bunga global yang diperkirakan bertahan tinggi, serta lonjakan harga chip memori akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diproyeksikan menekan kinerja emiten teknologi di Indonesia.
Tekanan tersebut terutama dirasakan perusahaan yang masih bergantung pada impor perangkat keras. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut meningkatkan biaya pengadaan sehingga margin keuntungan berpotensi tergerus.
Meski menghadapi kondisi yang tidak mudah, analis masih melihat peluang jangka panjang sektor ini tetap menarik. Hal itu didukung tren transformasi digital yang terus berkembang di berbagai sektor industri.
Prospek Sektor Teknologi Dibayangi Tekanan Global
Pandangan tersebut disampaikan analis Sucor Sekuritas Dicky Susilo Adi dalam riset yang diterbitkan pada 7 Juli 2026. Dalam laporannya, ia menjelaskan bahwa kondisi makroekonomi global kini menjadi tantangan utama bagi perusahaan teknologi.
Lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah mendorong tekanan inflasi di berbagai negara. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga Amerika Serikat kembali bergeser.
Sementara itu, suku bunga acuan AS diperkirakan masih bertahan pada kisaran 3,50-3,75 persen hingga akhir 2026. Kondisi tersebut meningkatkan imbal hasil obligasi global sekaligus memperbesar premi risiko di pasar negara berkembang.
Selain itu, biaya modal perusahaan atau cost of capital ikut meningkat. Dampaknya, valuasi saham teknologi mengalami penyesuaian karena investor menjadi lebih selektif terhadap aset berisiko.
Namun, tantangan tidak hanya berasal dari faktor makro. Industri teknologi juga menghadapi kenaikan biaya komponen yang cukup tajam akibat tingginya permintaan infrastruktur AI di seluruh dunia.
Harga Chip AI Meningkat Tajam, Margin Berpotensi Menyusut
Booming investasi AI membuat permintaan chip memori terus meningkat. Akibatnya, pasokan semakin terbatas dan harga berbagai komponen teknologi ikut melonjak.
Mengacu pada proyeksi Gartner, harga DRAM diperkirakan meningkat hingga 125 persen secara tahunan selama 2026. Sementara itu, harga NAND bahkan berpotensi melonjak hingga 234 persen sebelum diperkirakan mulai mereda pada akhir 2027.
Kondisi tersebut memberikan tekanan besar terhadap perusahaan yang mengandalkan impor perangkat keras. Server, penyimpanan data, hingga berbagai perangkat teknologi informasi mengalami kenaikan biaya produksi.
Bagi PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) dan PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI), tekanan semakin besar karena sebagian besar biaya pengadaan menggunakan dolar AS. Sebaliknya, mayoritas pendapatan kedua perusahaan masih diperoleh dalam rupiah.
Dengan kurs dolar AS terhadap rupiah yang masih berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS, ruang perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan menjadi semakin terbatas.
Karena itu, margin laba kotor diperkirakan mengalami tekanan. Selain itu, pelanggan juga cenderung menunda belanja modal karena harga perangkat keras semakin mahal.
Sucor Pangkas Target Harga, Tetapi Tetap Rekomendasikan Beli
Melihat kondisi tersebut, Sucor Sekuritas melakukan revisi terhadap proyeksi laba kedua emiten.
Estimasi laba MTDL dipangkas sekitar 6-7 persen untuk periode 2026 hingga 2027. Sementara itu, proyeksi laba MSTI dipotong lebih dalam, yakni sekitar 10-12 persen.
Revisi tersebut mempertimbangkan beberapa faktor penting, antara lain:
- Penurunan margin bisnis perangkat keras.
- Perlambatan pertumbuhan volume penjualan akibat kenaikan harga memori.
- Realisasi proyek pemerintah yang lebih lambat.
- Penundaan investasi pelanggan di sektor yang diatur regulator.
- Ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Meski memangkas proyeksi laba, Dicky tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor teknologi.
Target harga saham MTDL direvisi menjadi Rp560 per saham. Sementara itu, target harga MSTI diturunkan menjadi Rp1.450 per saham.
MTDL Dinilai Lebih Defensif Dibanding MSTI
Menurut Dicky, MTDL memiliki struktur bisnis yang lebih beragam dibandingkan MSTI. Perseroan tidak hanya mengandalkan distribusi perangkat keras, tetapi juga memperoleh pendapatan dari solusi teknologi, layanan konsultasi TI, hingga berbagai layanan digital lainnya.
Diversifikasi bisnis tersebut dinilai mampu membantu menjaga kualitas laba ketika margin distribusi mengalami tekanan.
Di sisi lain, MSTI masih memiliki ketergantungan yang lebih besar terhadap bisnis perangkat keras dan proyek teknologi. Oleh sebab itu, kenaikan biaya komponen maupun penundaan belanja pelanggan diperkirakan memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Meskipun begitu, MSTI tetap menawarkan potensi kenaikan harga saham yang menarik. Selain itu, potensi imbal hasil dividen juga dinilai lebih tinggi dibandingkan MTDL, meski dengan tingkat volatilitas yang lebih besar.
Secara keseluruhan, Sucor Sekuritas menilai sebagian besar risiko makro saat ini telah tercermin dalam pergerakan harga saham kedua emiten.
Sementara itu, prospek jangka panjang sektor teknologi masih ditopang oleh pertumbuhan layanan cloud, keamanan siber, transformasi digital perusahaan, serta pembangunan infrastruktur AI yang diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Karena itu, MTDL tetap menjadi pilihan utama berkat kualitas laba yang lebih defensif. Adapun MSTI masih menarik bagi investor yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi dan mengincar potensi pertumbuhan serta imbal hasil dividen yang lebih besar.





