Prospek Saham MAPA Tetap Menarik Meski Target Harga Dipangkas

Dwi Prakoso

RuangInvest.com – JakartaProspek Saham MAPA masih dinilai cukup tangguh meski kondisi ekonomi menghadapi berbagai tantangan. Analis melihat emiten ritel olahraga tersebut tetap memiliki daya tahan berkat basis konsumen menengah atas yang relatif lebih kuat dibanding segmen lainnya.

Meski demikian, sejumlah penyesuaian dilakukan terhadap proyeksi kinerja perseroan. Perlambatan ekspansi gerai, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya risiko makroekonomi membuat estimasi laba dan target harga saham mengalami revisi.

Di sisi lain, analis tetap mempertahankan pandangan positif terhadap saham PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA). Valuasi yang masih lebih murah dibanding perusahaan sejenis di kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu alasan rekomendasi positif tersebut tetap dipertahankan.

Prospek Saham MAPA Dinilai Masih Tangguh

Dalam riset yang diterbitkan pada 2 Juli 2026, analis CGS Internasional Sekuritas Indonesia (CGSI), Baruna Arkasatyo dan Edward Halim, menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum tentu memberikan dampak besar terhadap kinerja MAPA.

Menurut mereka, mayoritas pelanggan MAPA berasal dari kelompok masyarakat berpendapatan menengah atas. Karena itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi maupun solar diperkirakan tidak akan mengurangi daya beli konsumen utama perseroan secara signifikan.

Pemerintah diketahui menaikkan harga Pertamax sebesar 32 persen pada 10 Juni 2026. Sementara itu, harga solar juga naik sekitar 10 hingga 17 persen sejak 4 Mei 2026.

Namun, berdasarkan pengalaman pada 2019 maupun 2022, kenaikan harga BBM tidak menyebabkan perlambatan berarti terhadap pertumbuhan pendapatan peritel yang menyasar segmen menengah atas maupun jaringan minimarket.

Bahkan, selama periode 2022 hingga 2023, sektor ritel sempat menikmati peningkatan penjualan akibat fenomena revenge spending. Kondisi tersebut terjadi meskipun harga energi global meningkat karena konflik Rusia-Ukraina.

Risiko Terbesar Berasal dari Mobilitas Masyarakat

Selain faktor ekonomi, CGSI menilai gangguan mobilitas masyarakat justru menjadi risiko terbesar bagi MAPA.

Pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan pembatasan aktivitas dan penutupan pusat perbelanjaan mampu menekan pendapatan perusahaan ritel secara signifikan.

Karena itu, investor perlu mencermati berbagai kebijakan pemerintah yang berpotensi mengurangi aktivitas masyarakat di pusat perbelanjaan. Misalnya, penerapan kembali pola kerja dari rumah atau work from home (WFH).

Selain itu, potensi gangguan keamanan maupun kerusuhan yang menghambat aktivitas pusat perbelanjaan juga dinilai dapat memengaruhi penjualan MAPA.

Di sisi lain, analis juga mengingatkan adanya tantangan struktural berupa berkurangnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi membatasi pertumbuhan konsumsi dalam jangka panjang.

Meskipun begitu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat diperkirakan tetap menjadi peluang bagi MAPA. Portofolio produk olahraga dan gaya hidup yang dimiliki perseroan dinilai mampu menjawab kebutuhan konsumen yang mulai memilih produk dengan harga lebih terjangkau atau down-trading.

Proyeksi Laba dan Target Harga Direvisi

Sejalan dengan kondisi tersebut, CGSI memangkas proyeksi kinerja MAPA untuk periode 2026 hingga 2028.

Untuk tahun 2026, proyeksi penjualan diturunkan sekitar 8 persen. Sementara itu, estimasi laba per saham atau earnings per share (EPS) dipangkas sekitar 5 persen agar sesuai dengan panduan manajemen.

Manajemen memperkirakan pertumbuhan penjualan toko yang sama atau same store sales growth (SSSG) hanya berada pada kisaran satu digit rendah. Sementara pertumbuhan penjualan diproyeksikan mencapai satu digit tinggi dengan margin laba kotor sekitar 46 hingga 47 persen dan margin EBIT sekitar 12 persen.

Untuk periode 2027 hingga 2028, CGSI kembali menurunkan proyeksi penjualan sekitar 9 hingga 11 persen. Estimasi EPS juga direvisi turun sebesar 14 hingga 19 persen.

Penyesuaian tersebut didorong oleh target pembukaan gerai baru yang kini diperkirakan hanya sekitar 300 toko setiap tahun. Sebelumnya, perseroan menargetkan pembukaan sekitar 380 hingga 450 gerai baru per tahun.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga membuat proyeksi margin laba kotor disesuaikan menjadi sekitar 46,0 hingga 46,5 persen.

Di sisi lain, laju ekspansi yang lebih lambat diperkirakan mampu menahan kenaikan beban operasional sehingga memberikan keseimbangan terhadap tekanan margin.

Valuasi Saham MAPA Masih Menarik

Walaupun proyeksi laba dan target harga diturunkan, CGSI tetap mempertahankan rekomendasi Add terhadap saham MAPA.

Target harga saham direvisi menjadi Rp750 per saham dari sebelumnya Rp1.010 per saham.

Dalam metodologi CGSI, rekomendasi Add menunjukkan potensi total imbal hasil atau total return lebih dari 10 persen dalam periode 12 bulan ke depan.

Menurut analis, valuasi MAPA masih tergolong menarik karena saat ini diperdagangkan pada sekitar 9,2 kali proyeksi price-to-earnings (P/E) tahun 2026. Angka tersebut sekitar 38 persen lebih rendah dibanding perusahaan sejenis di kawasan Asia Pasifik.

Selain valuasi yang relatif murah, ketahanan bisnis di segmen konsumen menengah atas juga menjadi faktor pendukung utama prospek perusahaan.

Ke depan, disiplin fiskal pemerintah dan berbagai stimulus konsumsi berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja saham MAPA. Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang masih membayangi.

Beberapa faktor yang layak diperhatikan antara lain:

  • Ketidakpastian kebijakan pemerintah.
  • Pelemahan nilai tukar rupiah.
  • Kenaikan biaya produksi.
  • Perlambatan pembukaan gerai baru.
  • Gangguan mobilitas masyarakat dan pusat perbelanjaan.
  • Penurunan jumlah masyarakat kelas menengah.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Prospek Saham MAPA masih dinilai positif dalam jangka menengah. Meskipun estimasi laba dan target harga mengalami revisi, fundamental bisnis perseroan dinilai tetap mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi. Investor pun disarankan terus mencermati perkembangan kondisi makroekonomi serta strategi ekspansi perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu