RuangInvest.com – Jakarta – IPO JELI menjadi perhatian pelaku pasar setelah PT Niramas Utama Tbk mengungkapkan peningkatan laba bersih yang signifikan menjelang pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan dijadwalkan resmi melantai di bursa pada 7 Juli 2026.
Meski pendapatan mengalami penurunan sepanjang 2025, perusahaan mampu mencatat lonjakan laba bersih hingga sekitar 220 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja tersebut menunjukkan strategi efisiensi yang mulai memberikan hasil positif.
Selain itu, manajemen menilai transformasi operasional dan evaluasi portofolio produk menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan profitabilitas. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari persiapan Perseroan memasuki pasar modal.
IPO JELI Catat Lonjakan Laba Meski Pendapatan Turun
PT Niramas Utama Tbk, produsen makanan dan minuman yang dikenal melalui merek INACO, memaparkan kondisi keuangan terbaru dalam paparan publik bersama PT Sucor Sekuritas pada Rabu (24/6/2026).
Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp39,4 miliar sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp12,3 miliar. Dengan demikian, pertumbuhan laba mencapai sekitar 220 persen.
Di sisi lain, pendapatan perusahaan justru turun 4,49 persen menjadi Rp753,01 miliar dari Rp788,4 miliar pada tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi karena perusahaan melakukan penyesuaian terhadap sejumlah lini bisnis.
Direktur PT Niramas Utama Tbk, Adhi S. Lukman, mengatakan perusahaan melakukan evaluasi terhadap portofolio produk sebagai bagian dari strategi peningkatan efisiensi.
Menurutnya, sejumlah SKU dengan produktivitas dan margin yang kurang optimal dihentikan. Kebijakan tersebut memang berdampak terhadap pendapatan, namun memberikan perbaikan terhadap struktur profitabilitas perusahaan menjelang IPO JELI.
Evaluasi Produk Tingkatkan Efisiensi
Adhi menjelaskan bahwa perusahaan melakukan penyesuaian terhadap unit usaha yang dinilai kurang produktif. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan kualitas pendapatan sekaligus memperbaiki margin keuntungan.
Selain itu, strategi efisiensi tersebut dinilai mampu memperkuat fondasi bisnis sehingga perusahaan lebih siap memasuki fase pertumbuhan setelah menjadi emiten.
Kinerja Operasional Terus Menguat
Tidak hanya laba bersih yang meningkat, indikator operasional perusahaan juga menunjukkan tren positif.
EBITDA tercatat naik 28,14 persen menjadi Rp102,3 miliar pada 2025. Sementara itu, Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 26,82 persen dibandingkan 9,81 persen pada tahun sebelumnya.
Perbaikan juga terlihat pada struktur permodalan perusahaan. Debt to Equity Ratio (DER) berhasil ditekan menjadi 2,79 kali pada 2025. Sebelumnya, rasio tersebut mencapai 3,82 kali pada 2023.
Peningkatan indikator keuangan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya fokus mengejar pertumbuhan penjualan, tetapi juga memperkuat efisiensi dan kesehatan keuangan secara menyeluruh.
Karena itu, IPO JELI diharapkan memperoleh respons positif dari investor yang memperhatikan kualitas fundamental perusahaan.
Dana IPO JELI Difokuskan untuk Ekspansi
Manajemen mengungkapkan sekitar 51,04 persen dana hasil penawaran umum perdana saham akan dialokasikan untuk ekspansi bisnis.
Dana tersebut akan disalurkan melalui penyertaan modal kepada anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS). Fokus utama investasi adalah meningkatkan kapasitas produksi lini gummy candy.
Perusahaan melihat segmen tersebut memiliki prospek pertumbuhan yang menarik, baik di pasar domestik maupun internasional. Selain itu, produk gummy candy dinilai memiliki peluang ekspor yang cukup besar.
Manajemen menyebut kajian terhadap sejumlah pasar luar negeri telah dilakukan. Produk dengan diferensiasi untuk berbagai kelompok usia menjadi salah satu strategi utama dalam memperluas pangsa pasar.
Sementara itu, sebagian dana IPO juga akan digunakan untuk mendukung modernisasi operasional perusahaan.
Fokus Efisiensi dan Ekspansi Global
Didirikan pada 1990, PT Niramas Utama Tbk kini mengoperasikan empat fasilitas produksi yang berada di Bekasi, Pontianak, Pandaan, dan Sukabumi.
Perusahaan memiliki lebih dari 115 SKU aktif yang dipasarkan melalui 251 titik distribusi di Indonesia. Selain itu, produk INACO telah diekspor ke lebih dari 30 negara.
Di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak pada biaya bahan baku impor, perusahaan tetap menjalankan berbagai langkah efisiensi.
Beberapa strategi yang telah diterapkan meliputi:
- Reformulasi produk untuk meningkatkan efisiensi bahan baku.
- Digitalisasi proses produksi melalui implementasi sistem SAP sejak 2017.
- Penggunaan panel surya pada fasilitas produksi mulai 2025.
- Peningkatan otomatisasi manufaktur guna meningkatkan produktivitas.
- Optimalisasi efisiensi operasional sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Meskipun begitu, perusahaan tetap melihat peluang pertumbuhan yang cukup besar pada pasar makanan olahan dan produk berbasis nata de coco maupun confectionery.
Dengan kombinasi efisiensi operasional, penguatan struktur keuangan, serta rencana ekspansi kapasitas produksi, IPO JELI menjadi salah satu aksi korporasi yang menarik untuk dicermati investor menjelang pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.





