Peluang Investasi Saham Indonesia Muncul Saat Valuasi IHSG Murah

Dwi Prakoso

Peluang investasi saham Indonesia saat valuasi IHSG berada di level krisis menurut UOB Kay Hian.

RuangInvest.com, Jakarta — Peluang investasi saham Indonesia kembali menjadi sorotan setelah tekanan panjang yang membayangi pasar modal justru dinilai mulai membuka ruang akumulasi bagi investor. Sejumlah analis melihat pelemahan tajam harga saham telah membuat valuasi pasar berada pada level yang sangat menarik.

Berdasarkan riset UOB Kay Hian yang diterbitkan pada 26 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini diperdagangkan pada valuasi yang mendekati periode krisis keuangan global 2008-2009. Kondisi tersebut dinilai menciptakan rasio risiko dan potensi keuntungan (risk-reward) yang semakin menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Meski demikian, perusahaan sekuritas tersebut mengingatkan bahwa pemulihan pasar belum sepenuhnya ditopang oleh perbaikan fundamental ekonomi. Oleh karena itu, investor tetap perlu mencermati perkembangan kebijakan pemerintah, kondisi fiskal, hingga stabilitas ekonomi makro sebelum mengambil keputusan investasi.

Peluang Investasi Saham Indonesia Dinilai Semakin Menarik

Dalam riset yang disusun analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus bersama Indonesia Research Team, disebutkan bahwa IHSG menjadi salah satu indeks saham dengan performa terburuk di dunia sepanjang 2026.

Sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd), IHSG telah terkoreksi sekitar 32 persen. Selain itu, indeks diperdagangkan hanya pada rasio price to earnings (PE) sekitar 10 kali berdasarkan estimasi laba 2026 dan 8,6 kali untuk proyeksi 2027.

Level valuasi tersebut merupakan yang terendah sejak pandemi Covid-19. Bahkan, posisinya tidak jauh berbeda dibandingkan valuasi saat krisis keuangan global 2008-2009. Dibandingkan dengan pasar saham regional, valuasi IHSG juga berada pada tingkat diskon yang cukup besar.

Menurut UOB Kay Hian, sebagian besar risiko yang selama ini membebani pasar sudah tercermin dalam harga saham. Dengan demikian, ruang penurunan dinilai semakin terbatas apabila kondisi ekonomi mulai membaik secara bertahap.

Namun, perusahaan sekuritas tersebut menilai kenaikan IHSG dari titik terendah pada Juni masih lebih banyak dipengaruhi sentimen positif dibandingkan peningkatan fundamental emiten.

Faktor yang Masih Membayangi IHSG

Optimisme pasar muncul setelah adanya harapan terhadap reformasi kebijakan pemerintah, meredanya kekhawatiran regulasi, ekspektasi positif mengenai evaluasi MSCI, hingga berkurangnya risiko geopolitik global.

Meskipun begitu, penguatan yang lebih berkelanjutan masih membutuhkan bukti nyata berupa konsistensi pelaksanaan kebijakan serta stabilitas ekonomi nasional.

Risiko yang Perlu Dicermati Investor

Beberapa faktor yang masih menjadi perhatian pasar antara lain:

  • Tekanan terhadap kondisi fiskal pemerintah.
  • Pelemahan nilai tukar rupiah.
  • Risiko kenaikan inflasi.
  • Kekhawatiran terhadap kemampuan pembayaran utang pemerintah.
  • Prospek negatif dari Fitch Ratings dan Moody’s Ratings.
  • Evaluasi status Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index.

Sementara itu, bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index terus mengalami penurunan. Dalam satu dekade terakhir, porsinya turun dari hampir 3 persen menjadi sekitar 0,5 persen.

Jumlah saham Indonesia yang masuk dalam indeks tersebut juga menyusut menjadi 11 emiten, jauh lebih sedikit dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 20 perusahaan.

Meski demikian, UOB Kay Hian masih memperkirakan Indonesia tetap akan mempertahankan statusnya sebagai emerging market. Otoritas pasar modal Indonesia juga masih memiliki waktu hingga November 2026 untuk menunjukkan efektivitas reformasi dalam aspek transparansi dan tata kelola.

Saham Perbankan Dinilai Sudah Murah

Sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang paling mencerminkan tekanan pasar saat ini. Menurut UOB Kay Hian, harga saham bank-bank besar sudah menggambarkan skenario perlambatan ekonomi yang cukup berat.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) kini diperdagangkan mendekati level price to book value (PBV) terendah saat krisis global 2008.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) bahkan berada di bawah valuasi yang pernah terjadi pada 2018.

Di sisi lain, saham-saham perbankan tersebut masih menawarkan dividend yield yang cukup menarik, yakni berkisar antara 6 persen hingga 10 persen. Kondisi itu dinilai menjadi daya tarik tambahan bagi investor yang mengincar pendapatan dividen.

Namun, UOB Kay Hian menegaskan bahwa pemulihan sektor perbankan tetap bergantung pada kembalinya likuiditas ke ekonomi riil. Kebijakan Bank Indonesia melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta penyaluran kredit yang lebih selektif masih membatasi pertumbuhan kredit.

Strategi Investasi dan Target IHSG 2026

Untuk jangka menengah, UOB Kay Hian menetapkan target IHSG pada akhir 2026 di level 7.500.

Target tersebut menggunakan asumsi valuasi sebesar 12 kali PE 2026 atau setara rata-rata tiga tahun terakhir, dengan estimasi pertumbuhan laba perusahaan sebesar 8,3 persen.

Karena itu, perusahaan sekuritas tersebut menyarankan investor melakukan akumulasi secara selektif melalui portofolio yang seimbang.

Beberapa sektor yang dinilai menarik meliputi:

  • Perbankan.
  • Komoditas.
  • Saham defensif.

Adapun sejumlah saham pilihan UOB Kay Hian meliputi AMMN, ASII, BBCA, BMRI, BULL, BRMS, CMRY, DEWA, JPFA, MDKA, dan TLKM.

Meskipun peluang investasi saham Indonesia dinilai semakin terbuka, investor tetap diminta mewaspadai sejumlah risiko. Risiko tersebut mencakup pelemahan rupiah yang berpotensi mendorong pengetatan kebijakan Bank Indonesia, kemungkinan penurunan peringkat utang pemerintah, pelebaran defisit fiskal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan subsidi energi, kenaikan harga minyak dunia, hingga hasil evaluasi MSCI yang dapat memengaruhi persepsi investor global.

Dengan valuasi yang berada di level rendah dan sebagian besar sentimen negatif telah tercermin pada harga saham, pasar modal Indonesia dinilai mulai menawarkan peluang menarik. Namun, keberhasilan strategi investasi tetap bergantung pada disiplin investor dalam memilih emiten berkualitas serta mencermati perkembangan fundamental ekonomi ke depan.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu