Net Sell Asing Tekan IHSG, Saham Bank Jadi Korban Utama

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, JakartaNet sell asing tekan IHSG sepanjang perdagangan sepekan terakhir. Tekanan jual dari investor asing membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah dan mencatat pelemahan cukup dalam hingga akhir pekan.

Aksi jual asing paling besar terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. Kondisi tersebut menunjukkan investor global masih berhati-hati terhadap prospek pasar keuangan Indonesia di tengah meningkatnya tekanan eksternal.

Selain faktor domestik, sentimen global juga ikut membebani pasar. Meningkatnya risiko geopolitik, ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat, hingga pelemahan nilai tukar rupiah membuat aliran dana asing belum kembali masuk ke pasar saham Indonesia.

Net Sell Asing Tekan IHSG Sepanjang Pekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.896,13 pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Posisi tersebut turun 1,72 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Secara mingguan, IHSG terkoreksi hingga 4,55 persen. Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya aksi jual investor asing di pasar reguler.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp3,19 triliun selama sepekan.

Tekanan jual paling besar terjadi pada saham-saham sektor perbankan. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi emiten dengan nilai jual bersih asing terbesar.

BMRI mencatat net sell mencapai Rp951,08 miliar. Sementara itu, harga sahamnya ditutup di level Rp3.990 per saham atau melemah 7,42 persen sepanjang pekan.

Posisi berikutnya ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Investor asing melepas saham BBRI senilai Rp405,35 miliar.

Harga saham BBRI ikut turun menjadi Rp2.870 per saham atau melemah 2,05 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Daftar Saham Paling Banyak Dijual Asing

Selain saham perbankan, sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya juga mengalami tekanan jual cukup tinggi.

Berikut daftar saham dengan net sell asing terbesar sepanjang pekan:

  • BMRI: Rp951,08 miliar
  • BBRI: Rp405,35 miliar
  • TPIA: Rp272,81 miliar
  • EMAS: Rp219,25 miliar
  • AADI: Rp202,21 miliar
  • AMMN: Rp199,07 miliar
  • TLKM: Rp183,76 miliar
  • BBNI: Rp158,90 miliar
  • ASII: Rp153,89 miliar
  • KLBF: Rp144,12 miliar

Saham Komoditas dan Konglomerasi Ikut Tertekan

Selain sektor perbankan, tekanan jual asing juga menyasar saham sektor komoditas dan konglomerasi.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat net sell Rp272,81 miliar. Harga sahamnya terkoreksi hingga 12,86 persen menjadi Rp1.795 per saham.

Sementara itu, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi salah satu yang mengalami penurunan terdalam. Saham tersebut turun 16,38 persen ke level Rp6.125 per saham setelah mencatat jual bersih asing Rp219,25 miliar.

Di sisi lain, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga mengalami net sell sebesar Rp202,21 miliar. Namun, berbeda dari mayoritas saham lainnya, harga AADI justru naik 2,22 persen menjadi Rp8.050 per saham.

Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga tidak luput dari tekanan jual. Investor asing melepas saham senilai Rp199,07 miliar sehingga harga saham turun 12,57 persen menjadi Rp3.340 per saham.

Tekanan serupa terjadi pada saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), serta PT Astra International Tbk (ASII).

Menariknya, saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menjadi pengecualian. Meski mencatat net sell Rp144,12 miliar, harga sahamnya justru menguat 12,86 persen menjadi Rp790 per saham.

Sentimen Global Masih Membatasi Pergerakan IHSG

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, tekanan jual masih membayangi pergerakan IHSG setelah indeks gagal menembus area resistance 6.100.

Karena itu, peluang konsolidasi dalam jangka pendek masih cukup besar. Area support diperkirakan berada pada kisaran 5.730 hingga 5.850.

Sementara itu, level resistance berikutnya berada di rentang 6.000 hingga 6.130.

Dari sisi eksternal, meningkatnya risiko geopolitik kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Laporan mengenai serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap distribusi energi global.

Selain itu, data Core Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat menunjukkan inflasi masih bertahan tinggi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Di sisi lain, sentimen positif datang dari sektor teknologi global. Laporan keuangan Micron Technology yang lebih baik dari perkiraan kembali meningkatkan optimisme terhadap industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Investor Mencermati Rupiah dan Agenda IPO

Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat menjadi perhatian utama investor.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi membatasi arus masuk dana asing ke pasar saham domestik dalam waktu dekat.

Selain itu, investor juga mulai mengalihkan perhatian pada sejumlah penawaran umum perdana saham (IPO) yang dijadwalkan berlangsung pada awal Juli.

Rangkaian aksi korporasi tersebut diperkirakan akan menyerap sebagian likuiditas pasar. Akibatnya, pergerakan IHSG masih berpotensi bergerak terbatas selama sentimen eksternal belum menunjukkan perbaikan.

Pelaku pasar kini menunggu perkembangan kondisi global serta arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat sebagai penentu pergerakan pasar pada pekan-pekan berikutnya. Selama tekanan eksternal masih tinggi, volatilitas di pasar saham Indonesia diperkirakan tetap akan berlangsung.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Harga Saham Turun Jadi Rp 705, Emiten Ini Siap Bagi Dividen Rp 3.500 per Lot

Harga Saham Turun Jadi Rp 705, Emiten Ini Siap Bagi Dividen Rp 3.500 per Lot

Kunjungi Artikel