RuangInvest.com, Jakarta – Net Foreign Sell MSCI menjadi sorotan utama pasar modal Indonesia setelah rebalancing indeks MSCI efektif pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Penyesuaian portofolio investor global memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar dari sejumlah saham berkapitalisasi jumbo.
Tekanan jual asing terlihat jelas pada beberapa emiten unggulan yang selama ini menjadi penghuni indeks MSCI. Sejumlah saham bahkan mencatat nilai penjualan bersih asing atau net sell hingga triliunan rupiah dalam sepekan terakhir.
Meski demikian, dampak rebalancing tidak sepenuhnya negatif. Beberapa saham yang keluar dari indeks MSCI justru mampu mencatatkan kenaikan harga signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar telah lebih dahulu mengantisipasi perubahan komposisi indeks tersebut.
Net Foreign Sell MSCI Dominasi Saham Big Cap
Efektifnya rebalancing indeks MSCI mendorong investor institusi global dan exchange traded fund (ETF) melakukan penyesuaian portofolio. Akibatnya, sejumlah saham big cap menjadi sasaran aksi jual asing dalam jumlah besar.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi emiten dengan net sell asing terbesar selama sepekan. Nilai penjualan bersih asing mencapai Rp2,44 triliun.
Tekanan tersebut membuat saham TPIA turun 10,75 persen dan ditutup pada level Rp1.785 per saham. Penurunan ini menjadi salah satu yang terbesar di antara saham-saham yang terdampak rebalancing MSCI.
Di posisi berikutnya terdapat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham bank swasta terbesar di Indonesia itu mencatat net sell asing sebesar Rp2,24 triliun.
Selain mengalami arus keluar dana asing yang besar, harga saham BBCA juga terkoreksi 3,39 persen dalam sepekan menjadi Rp5.700 per saham.
Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat net sell asing sebesar Rp1,99 triliun. Namun, berbeda dengan saham lainnya, harga saham AMMN justru melonjak 13,79 persen ke level Rp3.300 per saham.
Daftar Saham dengan Arus Keluar Dana Asing Terbesar
Selain TPIA dan BBCA, beberapa saham besar lainnya juga mengalami tekanan jual yang cukup signifikan.
Berikut daftar saham dengan net foreign sell terbesar selama sepekan:
- TPIA: Rp2,44 triliun
- BBCA: Rp2,24 triliun
- AMMN: Rp1,99 triliun
- BBRI: Rp855,37 miliar
- BMRI: Rp813,26 miliar
- AMRT: Rp635,46 miliar
- BREN: Rp532,07 miliar
- ANTM: Rp373,80 miliar
- DSSA: Rp340,72 miliar
- CUAN: Rp266,64 miliar
- BRPT: Rp235,46 miliar
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell asing sebesar Rp855,37 miliar. Harga sahamnya melemah 3,28 persen ke posisi Rp2.950 per saham.
Selain itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mengalami net sell Rp813,26 miliar. Saham BMRI turun 0,97 persen dan ditutup pada level Rp4.080 per saham.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga terkena tekanan cukup besar. Saham ini mencatat net sell Rp635,46 miliar dan anjlok 19,30 persen menjadi Rp1.150 per saham.
Saham Keluar MSCI Justru Menguat
Menariknya, tidak semua saham yang keluar dari indeks MSCI mengalami penurunan harga.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi contoh paling mencolok. Meskipun mencatat net sell Rp532,07 miliar, harga sahamnya melesat 34,69 persen menjadi Rp3.300 per saham.
Kondisi serupa terjadi pada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Saham ini mengalami net sell Rp266,64 miliar, tetapi masih mampu naik 22,33 persen ke level Rp630 per saham.
Sementara itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat kenaikan harga 20,87 persen menjadi Rp1.940 per saham meskipun dibayangi net sell asing sebesar Rp235,46 miliar.
Saham yang Keluar dari Indeks MSCI
Menurut Phintraco Sekuritas, beberapa saham resmi keluar dari MSCI Global Standard Index dalam rebalancing terbaru.
Saham-saham tersebut meliputi:
- AMMN
- BREN
- TPIA
- CUAN
- DSSA
Selain itu, AMRT mengalami penurunan klasifikasi dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Small Cap Index.
Di sisi lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) termasuk dalam daftar saham yang keluar dari MSCI Small Cap Index. Bersama ANTM, sejumlah emiten lain yang keluar antara lain AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.
Phintraco Sekuritas menilai derasnya arus keluar dana asing pada saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI kemungkinan terkait dengan penyesuaian bobot atau downweight dalam indeks MSCI.
IHSG dan Rupiah Hadapi Dampak Rebalancing
Di tengah tingginya Net Foreign Sell MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya melemah tipis. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), IHSG ditutup turun 0,05 persen ke level 6.127,38.
Sebelumnya, indeks sempat bergerak positif dan menyentuh level 6.230. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar relatif mampu menyerap tekanan jual akibat rebalancing MSCI.
Menurut Phintraco Sekuritas, koreksi pasar yang terbatas mengindikasikan bahwa investor telah mengantisipasi perubahan komposisi indeks sejak beberapa waktu lalu.
Selain itu, sentimen positif dari bursa Asia turut membantu menjaga stabilitas pasar. Penguatan saham-saham teknologi di Wall Street memberikan dorongan tambahan bagi pergerakan pasar regional.
Namun, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan. Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.881 per dolar AS di pasar spot. Posisi tersebut menjadi level terendah pada perdagangan Jumat (29/5/2026).
Secara sektoral, saham kesehatan menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah turun 1,49 persen. Sementara itu, sektor infrastruktur tampil sebagai penopang utama IHSG dengan penguatan mencapai 2,89 persen.
Perkembangan Net Foreign Sell MSCI dalam beberapa hari ke depan masih akan menjadi perhatian pelaku pasar. Investor akan mencermati apakah arus keluar dana asing mulai mereda atau justru berlanjut setelah proses rebalancing indeks selesai dilakukan.





