RuangInvest.com – Jakarta – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menegaskan bahwa NCKL pelemahan rupiah tidak menjadi ancaman bagi kinerja keuangan perseroan. Mayoritas pendapatan perusahaan berasal dari ekspor yang menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS), sehingga fluktuasi nilai tukar justru tidak memberikan tekanan terhadap bisnis.
Manajemen perseroan menjelaskan bahwa seluruh pendapatan dari segmen pengolahan nikel diperoleh dari aktivitas ekspor. Seluruh transaksi penjualan tersebut dilakukan menggunakan mata uang dolar AS atau USD.
Selain itu, pada segmen penambangan nikel, pembayaran memang diterima dalam rupiah. Namun, penetapan harga bijih nikel tetap mengacu pada harga internasional berbasis dolar AS. Dengan mekanisme tersebut, pelemahan rupiah dinilai tidak mengurangi nilai ekonomi penjualan perusahaan.
NCKL Pelemahan Rupiah Tidak Berdampak Negatif
Manajemen NCKL menyampaikan penjelasan tersebut dalam jawaban atas permintaan klarifikasi Bursa terkait dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap operasional perusahaan.
Perseroan menyatakan bahwa seluruh pendapatan dari segmen pengolahan nikel berasal dari ekspor. Karena itu, seluruh hasil penjualan diterima dalam mata uang dolar AS.
Menurut manajemen, struktur pendapatan tersebut membuat perusahaan memiliki perlindungan alami atau natural hedge terhadap fluktuasi kurs rupiah. Ketika nilai tukar dolar menguat, penerimaan perusahaan tetap terjaga karena seluruh transaksi ekspor menggunakan mata uang yang sama.
Sementara itu, pada bisnis penambangan nikel, pembayaran memang dilakukan dalam rupiah. Meskipun begitu, harga jual bijih nikel tidak ditentukan secara tetap menggunakan rupiah.
Harga bijih nikel mengacu pada Harga Patokan Mineral (HPM). Perhitungan HPM didasarkan pada harga nikel di London Metal Exchange (LME), kemudian dikonversi ke rupiah saat proses transaksi berlangsung.
Dengan sistem tersebut, perubahan kurs rupiah terhadap dolar tidak memberikan tekanan berarti terhadap pendapatan perusahaan. Sebaliknya, eksposur terhadap dolar membuat NCKL relatif lebih terlindungi dibanding perusahaan yang seluruh pendapatannya berbasis rupiah.
Manajemen menegaskan bahwa secara keseluruhan penguatan dolar AS tidak memberikan dampak negatif terhadap kinerja perseroan.
Kinerja Keuangan NCKL Kuartal I-2026
Di tengah dinamika harga komoditas global, Harita Nickel tetap membukukan pertumbuhan laba yang kuat pada tiga bulan pertama 2026.
Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp2,71 triliun pada kuartal I-2026. Angka tersebut meningkat sekitar 63,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,65 triliun.
Namun, dari sisi pendapatan terjadi sedikit penurunan. Pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp6,81 triliun, turun sekitar 4,5 persen dibandingkan Rp7,12 triliun pada kuartal I-2025.
Meski pendapatan menurun tipis, peningkatan laba menunjukkan bahwa perusahaan mampu menjaga efisiensi operasional serta memperoleh manfaat dari pengelolaan biaya yang lebih baik.
Selain itu, struktur bisnis yang didominasi ekspor turut membantu menjaga profitabilitas ketika nilai tukar mengalami perubahan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kinerja perusahaan masih berada pada jalur yang positif meskipun industri nikel menghadapi tantangan dari sisi harga komoditas maupun kondisi ekonomi global.
Faktor Pendukung Ketahanan Bisnis Harita Nickel
Ketahanan bisnis NCKL terhadap perubahan nilai tukar didukung oleh beberapa faktor utama, antara lain:
- Mayoritas pendapatan berasal dari ekspor.
- Seluruh transaksi pengolahan nikel menggunakan dolar AS.
- Harga bijih nikel mengikuti Harga Patokan Mineral (HPM).
- HPM mengacu pada harga nikel internasional di London Metal Exchange.
- Konversi kurs dilakukan saat transaksi sehingga nilai ekonomi penjualan tetap terjaga.
- Struktur pendapatan memberikan perlindungan alami terhadap fluktuasi kurs.
Dengan kombinasi tersebut, perusahaan memiliki risiko nilai tukar yang relatif lebih rendah dibanding emiten yang bergantung pada pasar domestik.
Prospek NCKL untuk Investor
Ke depan, prospek NCKL masih menarik untuk dicermati investor, terutama karena permintaan nikel tetap didorong oleh perkembangan industri kendaraan listrik dan baterai global.
Selain itu, model bisnis yang berorientasi ekspor memberikan keuntungan ketika dolar AS berada pada level yang kuat. Kondisi ini berpotensi menjaga stabilitas arus kas perusahaan meskipun rupiah mengalami pelemahan.
Di sisi lain, investor tetap perlu memperhatikan beberapa faktor eksternal seperti pergerakan harga nikel dunia, kebijakan ekspor mineral, perkembangan ekonomi global, hingga permintaan dari industri baterai.
Meskipun begitu, capaian laba yang meningkat signifikan pada kuartal pertama 2026 menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu menghasilkan profit yang solid di tengah tantangan pasar.
Apabila tren efisiensi operasional dapat dipertahankan dan permintaan nikel kembali membaik, NCKL berpotensi melanjutkan pertumbuhan kinerja pada periode berikutnya.
Bagi investor jangka menengah hingga panjang, struktur pendapatan berbasis dolar menjadi salah satu faktor yang layak diperhatikan. Kondisi tersebut dapat membantu menjaga stabilitas kinerja perusahaan ketika volatilitas nilai tukar meningkat, sekaligus memberikan daya tahan yang lebih baik dibanding emiten yang mengandalkan pendapatan domestik.





