Lo Kheng Hong Kembali Tambah Saham PGAS, Ini Prospeknya

Dwi Prakoso

Lo Kheng Hong tambah saham PGAS dan prospek Perusahaan Gas Negara

RuangInvest.com, Jakarta – Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan setelah menambah kepemilikan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Aksi tersebut terjadi saat harga saham PGAS masih berada jauh di bawah level yang dicapai beberapa bulan sebelumnya.

Lo Kheng Hong tambah saham PGAS dalam dua bulan berturut-turut. Kepemilikannya naik dari sekitar 196,76 juta saham pada akhir Mei 2026 menjadi 204,88 juta saham pada akhir Juni. Jumlah itu kembali meningkat menjadi sekitar 219,87 juta saham pada akhir Juli 2026.

Kenaikan kepemilikan tersebut menarik perhatian pasar. Sebab, Lo Kheng Hong dikenal sebagai investor yang mengutamakan pendekatan value investing. Ia cenderung mencari saham dengan valuasi menarik dan prospek bisnis yang masih memiliki ruang untuk berkembang.

Di sisi lain, saham PGAS sendiri mengalami tekanan setelah mencapai level lebih tinggi pada awal 2026. Kondisi itu membuat valuasi emiten gas tersebut kembali menjadi perhatian investor.

Lo Kheng Hong Tambah Saham PGAS Dua Bulan Beruntun

Data kepemilikan menunjukkan adanya peningkatan posisi Lo Kheng Hong di PGAS secara bertahap. Pada akhir Mei 2026, kepemilikannya tercatat sekitar 196,76 juta saham atau 0,81% dari saham beredar.

Memasuki akhir Juni, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 204,88 juta saham. Dengan demikian, terdapat tambahan lebih dari 8 juta saham dalam periode tersebut.

Aksi akumulasi belum berhenti. Pada akhir Juli 2026, kepemilikan Lo Kheng Hong kembali meningkat menjadi sekitar 219,87 juta saham.

Jika dibandingkan dengan posisi akhir Mei, jumlah saham yang dimilikinya bertambah sekitar 23,11 juta saham. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya penambahan posisi secara bertahap.

Berdasarkan data yang menjadi acuan pemberitaan, Lo Kheng Hong juga berada di posisi kedelapan dalam daftar pemegang saham terbesar PGAS.

Sebelumnya, laporan kepemilikan akhir Mei menunjukkan ia menguasai sekitar 196,76 juta saham PGAS. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 0,81% saham perusahaan.

Sementara itu, laporan registrasi saham PGAS untuk Juni 2026 menunjukkan jumlah saham beredar perseroan sekitar 24,24 miliar saham. Pertamina tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sekitar 56,96%.

Kenaikan posisi Lo Kheng Hong menjadi menarik karena terjadi ketika harga saham PGAS sudah terkoreksi. Kondisi itu sejalan dengan karakter investasi berbasis nilai yang selama ini melekat pada dirinya.

Dalam strategi value investing, penurunan harga tidak selalu dianggap sebagai alasan untuk menjual. Sebaliknya, koreksi dapat menjadi kesempatan apabila harga pasar dinilai sudah berada di bawah nilai intrinsik perusahaan.

Namun, pendekatan tersebut tetap membutuhkan analisis mendalam. Harga murah tidak otomatis berarti sebuah saham sudah berada di titik terendah.

Mengapa Lo Kheng Hong Terus Mengakumulasi PGAS?

Salah satu alasan yang dikaitkan dengan aksi akumulasi tersebut adalah valuasi PGAS. Setelah harga saham mengalami penurunan dari level sebelumnya, rasio valuasi perusahaan dinilai kembali menarik.

Lo Kheng Hong sebelumnya mengungkapkan pernah membeli saham PGAS di kisaran Rp1.425 per saham pada Juni 2026. Ia juga menilai valuasi PGAS relatif murah berdasarkan sejumlah rasio fundamental.

Dalam materi yang menjadi dasar artikel ini, PGAS disebut memiliki price to earnings ratio atau PER sekitar 5,87 kali. Sementara itu, price to book value atau PBV berada di sekitar 0,75 kali.

PER menggambarkan hubungan antara harga saham dengan laba per saham. Semakin rendah rasio tersebut, saham sering kali terlihat lebih murah dibandingkan perusahaan lain atau dibandingkan historisnya.

Namun, investor tidak cukup hanya melihat PER. Kualitas laba, prospek pertumbuhan, arus kas, utang, serta kondisi industrinya juga perlu diperhatikan.

Hal serupa berlaku pada PBV. Rasio di bawah satu kali dapat menunjukkan harga pasar berada di bawah nilai buku. Meski begitu, kondisi tersebut belum tentu berarti saham otomatis undervalued.

Karena itu, aksi Lo Kheng Hong lebih tepat dilihat sebagai cerminan pandangan seorang investor jangka panjang. Investor lain tetap perlu melakukan analisis sendiri sebelum mengambil keputusan.

Selain valuasi, faktor dividen juga menjadi perhatian. PGAS membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar sekitar US$172,29 juta.

Nilai tersebut setara dengan Rp125,607 per saham berdasarkan data KSEI. Dividen tersebut dibayarkan pada 24 Juni 2026 kepada pemegang saham yang tercatat pada recording date 8 Juni 2026.

Dengan kepemilikan sekitar 196,76 juta saham pada akhir Mei, nilai dividen yang diterima Lo Kheng Hong dapat menjadi salah satu faktor pendukung daya tarik investasinya.

Materi yang menjadi dasar pemberitaan menyebut penerimaan dividen Lo Kheng Hong dari PGAS pada 2026 sekitar Rp24,75 miliar.

Besarnya dividen tersebut memperlihatkan bahwa strategi investasi berbasis nilai tidak hanya mengandalkan kenaikan harga saham. Arus pendapatan dari dividen juga menjadi bagian penting dalam menghitung potensi imbal hasil.

Dividen PGAS Jadi Salah Satu Daya Tarik

PGAS memiliki sejarah pembagian dividen yang cukup diperhatikan investor. Kebijakan tersebut membuat saham PGAS tidak hanya dilihat dari potensi capital gain.

Untuk tahun buku 2025, PGAS membagikan dividen sebesar US$172,29 juta. Jumlah tersebut setara sekitar 80% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Laba bersih PGAS yang dapat diatribusikan kepada entitas induk pada 2025 tercatat sekitar US$215,36 juta. Keputusan pembagian dividen tersebut disetujui melalui RUPST pada 22 Mei 2026.

Jadwal dividen PGAS pada 2026 juga penting diperhatikan investor. Rincian utamanya sebagai berikut:

  • Cum dividen pasar reguler dan negosiasi: 4 Juni 2026.
  • Ex dividen pasar reguler dan negosiasi: 5 Juni 2026.
  • Cum dividen pasar tunai: 8 Juni 2026.
  • Recording date: 8 Juni 2026.
  • Pembayaran dividen: 24 Juni 2026.
  • Dividen per saham: sekitar Rp125,607.

Data KSEI mengonfirmasi bahwa tanggal pencatatan pemegang saham berada pada 8 Juni 2026. Sementara itu, pembayaran dividen dilakukan pada 24 Juni 2026.

Bagi investor jangka panjang, dividen dapat memberikan bantalan terhadap volatilitas harga. Namun, dividend yield tetap harus dibandingkan dengan harga beli dan keberlanjutan laba perusahaan.

Selain itu, investor perlu melihat apakah pembagian dividen tinggi dapat dipertahankan. Arus kas dan kebutuhan belanja modal perusahaan menjadi faktor penting dalam hal tersebut.

Karena itu, dividen besar pada satu tahun tidak boleh langsung dianggap sebagai jaminan untuk tahun berikutnya.

Prospek Bisnis PGAS Masih Menjadi Perhatian

Selain valuasi dan dividen, prospek operasional menjadi faktor lain yang membuat PGAS tetap menarik untuk dicermati.

PGAS memiliki posisi strategis dalam ekosistem gas bumi Indonesia. Perseroan menjalankan bisnis transmisi dan distribusi gas serta memiliki berbagai infrastruktur pendukung.

Di sisi lain, perseroan juga memiliki eksposur terhadap bisnis hulu melalui Saka Energi. Diversifikasi tersebut memberikan sumber pendapatan yang tidak hanya berasal dari aktivitas distribusi gas.

PGN Saka saat ini mengelola sejumlah blok migas di Indonesia dan memiliki satu blok shale gas di Amerika Serikat. Struktur bisnis tersebut memberikan eksposur PGAS terhadap perkembangan sektor hulu migas.

Namun, bisnis hulu juga memiliki risiko. Perubahan harga minyak dan gas dapat memengaruhi kinerja anak usaha tersebut.

Karena itu, investor perlu melihat PGAS sebagai perusahaan dengan beberapa sumber bisnis. Kinerja setiap segmen dapat bergerak berbeda mengikuti kondisi industri.

Salah satu proyek infrastruktur yang menjadi perhatian adalah pipa Cisem II. Proyek tersebut memiliki peran dalam memperkuat integrasi jaringan transmisi gas di Pulau Jawa.

Kementerian ESDM menyatakan pipa transmisi Batang-Cirebon-Kandang Haur Timur atau Cisem II siap beroperasi penuh pada Juni 2026. Integrasi tersebut ditujukan untuk memperkuat jaringan gas bumi nasional.

Sebelumnya, LEMIGAS dan Pertamina Gas juga menandatangani kerja sama pemanfaatan pipa Cisem II. Kerja sama itu diarahkan untuk mengoptimalkan infrastruktur gas dan memperkuat integrasi jaringan transmisi di Jawa.

Bagi PGAS, pengembangan infrastruktur tersebut berpotensi membuka ruang bagi peningkatan aktivitas distribusi. Namun, manfaat finansial akhirnya tetap bergantung pada volume gas, kontrak, tarif, serta tingkat utilisasi infrastruktur.

Dengan kata lain, proyek strategis tidak otomatis langsung meningkatkan laba. Pasar tetap akan melihat realisasi kinerja setelah aset tersebut digunakan.

Cisem II dan Peluang Pertumbuhan Distribusi Gas

Pengembangan infrastruktur gas menjadi penting karena pertumbuhan konsumsi gas membutuhkan jaringan distribusi yang memadai.

Cisem II menjadi salah satu proyek yang berpotensi memperkuat konektivitas jaringan gas di Pulau Jawa. Infrastruktur ini menghubungkan wilayah Batang, Cirebon, hingga Kandang Haur Timur.

Pemerintah menyebut integrasi Cisem II sebagai bagian dari upaya memperkuat jaringan transmisi gas nasional. Infrastruktur tersebut juga diharapkan mendukung ketahanan energi.

Bagi PGAS, jaringan transmisi yang semakin terintegrasi dapat memberikan peluang untuk meningkatkan fleksibilitas distribusi. Namun, tingkat permintaan dari pelanggan industri tetap menjadi faktor penentu.

Sektor industri merupakan salah satu pengguna penting gas bumi. Karena itu, pemulihan aktivitas industri dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan volume penyaluran.

Di sisi lain, perubahan kebijakan harga gas juga perlu diperhatikan. Regulasi pemerintah dapat memengaruhi keekonomian penjualan gas.

Selain itu, kondisi pasokan juga menjadi faktor penting. Ketersediaan gas dari produsen harus sejalan dengan kebutuhan pelanggan.

Karena itu, perkembangan Cisem II perlu dipantau bersama data operasional PGAS. Investor dapat memperhatikan volume penjualan, margin, pendapatan, dan kontribusi proyek terhadap kinerja perusahaan.

Saka Energi Beri Diversifikasi Bisnis

Prospek PGAS juga tidak dapat dilepaskan dari kinerja Saka Energi. Anak usaha tersebut bergerak dalam eksplorasi dan pengembangan sumber daya gas alam.

Saka Energi memiliki kegiatan operasional di sejumlah wilayah. Perusahaan tersebut juga mengelola blok migas di Indonesia dan memiliki aset shale gas di Amerika Serikat.

Keberadaan bisnis hulu memberikan diversifikasi bagi PGAS. Saat harga komoditas mendukung, segmen hulu dapat memberikan kontribusi yang lebih baik.

Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko volatilitas komoditas. Harga minyak dan gas dapat bergerak cepat mengikuti kondisi geopolitik dan ekonomi global.

Selain itu, bisnis hulu membutuhkan belanja modal yang tidak kecil. Pengembangan lapangan membutuhkan investasi, waktu, dan keberhasilan operasional.

Karena itu, kontribusi Saka Energi terhadap PGAS perlu dinilai berdasarkan kinerja nyata. Investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan asumsi kenaikan harga komoditas.

Di sisi lain, keberadaan aset hulu memberikan fleksibilitas strategis. PGAS memiliki eksposur terhadap rantai bisnis gas dari sisi hulu hingga distribusi.

Kombinasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa prospek jangka panjang PGAS tetap menarik untuk dipantau.

Apa Arti Aksi Lo Kheng Hong bagi Investor?

Lo Kheng Hong tambah saham PGAS tentu menjadi informasi menarik bagi investor. Namun, aksi tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar keputusan investasi.

Setiap investor memiliki profil risiko, modal, dan horizon investasi yang berbeda. Strategi yang cocok bagi investor jangka panjang belum tentu cocok untuk trader jangka pendek.

Lo Kheng Hong dikenal dengan pendekatan fundamental. Karena itu, penambahan saham ketika harga terkoreksi dapat menunjukkan pandangan terhadap nilai perusahaan.

Namun, investor lain perlu menguji kembali asumsi tersebut. Harga saham dapat terus turun meskipun valuasinya terlihat murah.

Karena itu, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan:

  • Perubahan kepemilikan: Pantau apakah akumulasi terus berlanjut pada bulan berikutnya.
  • Harga saham: Bandingkan aktivitas akumulasi dengan tren harga dan volume perdagangan.
  • Kinerja keuangan: Periksa pertumbuhan pendapatan, laba, arus kas, dan posisi utang.
  • Dividen: Perhatikan besaran dividen serta kemampuan perusahaan mempertahankannya.
  • Proyek strategis: Pantau kontribusi Cisem II terhadap aktivitas bisnis PGAS.
  • Bisnis hulu: Ikuti perkembangan produksi dan kinerja Saka Energi.
  • Sentimen pasar: Perhatikan kondisi sektor energi dan pergerakan harga komoditas.

Dengan pendekatan tersebut, aksi investor besar dapat menjadi salah satu sumber informasi. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan analisis yang lebih luas.

Bagaimana Trader Membaca Aksi Akumulasi Saham?

Bagi trader, perubahan kepemilikan pemegang saham besar dapat menjadi data tambahan. Informasi tersebut dapat membantu trader memahami perubahan sentimen di sekitar sebuah emiten.

Namun, trader tetap perlu melihat konfirmasi dari pergerakan harga. Akumulasi oleh investor besar tidak selalu langsung membuat harga saham naik.

Ada kondisi ketika transaksi pembelian berlangsung saat harga masih turun. Pasar juga membutuhkan waktu untuk merespons perubahan fundamental.

Karena itu, trader dapat memperhatikan beberapa indikator.

Pertama, lihat konsistensi akumulasi. Penambahan saham dalam beberapa periode lebih menarik untuk dipantau dibandingkan transaksi tunggal.

Kedua, perhatikan volume perdagangan. Kenaikan volume yang disertai penguatan harga dapat memberikan konfirmasi berbeda dibandingkan akumulasi saat harga terus melemah.

Ketiga, lihat level teknikal. Area support dan resistance dapat membantu menentukan risiko serta skenario perdagangan.

Keempat, perhatikan berita fundamental. Perubahan kinerja, proyek, dividen, atau regulasi dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat.

Dengan demikian, informasi kepemilikan sebaiknya dipadukan dengan analisis teknikal dan fundamental.

Cara Memantau Aktivitas Pemegang Saham Besar

Investor saat ini memiliki berbagai cara untuk memantau perubahan kepemilikan saham. Salah satunya melalui data keterbukaan informasi dan laporan registrasi pemegang efek.

Selain itu, materi yang menjadi dasar artikel ini menyebut fitur Insider di aplikasi Ajaib sebagai salah satu sarana untuk memantau aktivitas pemegang saham.

Fitur tersebut dapat membantu pengguna melihat transaksi yang dilakukan oleh direksi, komisaris, maupun pemegang saham utama.

Untuk menggunakan fitur tersebut, langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Cari saham yang ingin dianalisis, misalnya PGAS.
  • Buka halaman saham tersebut.
  • Pilih tab Insider di sekitar area informasi pergerakan saham.
  • Perhatikan tanggal pelaporan transaksi.
  • Lihat nama pihak yang melakukan transaksi.
  • Periksa jenis transaksi, seperti Buy atau Sell.
  • Amati jumlah saham yang ditransaksikan.
  • Periksa perubahan persentase kepemilikan.
  • Klik nama pemegang saham untuk melihat riwayat transaksi apabila tersedia.

Data tersebut dapat membantu investor melihat apakah aktivitas akumulasi masih berlangsung.

Namun, informasi insider tidak seharusnya digunakan sebagai sinyal otomatis untuk membeli atau menjual saham. Data tersebut hanya menjadi salah satu bahan pertimbangan.

Investor tetap perlu membandingkannya dengan laporan keuangan, valuasi, prospek industri, dan kondisi pasar.

Risiko yang Tetap Perlu Diperhatikan

Meskipun Lo Kheng Hong tambah saham PGAS memberikan sentimen positif, risiko investasi tetap ada.

Pertama, harga saham dapat bergerak berlawanan dengan ekspektasi. Valuasi murah tidak menjamin harga langsung mengalami rebound.

Kedua, kinerja PGAS dipengaruhi kondisi industri gas. Perubahan permintaan dan pasokan dapat berdampak terhadap volume bisnis.

Ketiga, regulasi energi juga menjadi faktor penting. Perubahan kebijakan harga gas dapat memengaruhi margin perusahaan.

Keempat, bisnis hulu menghadapi risiko harga komoditas. Pelemahan harga minyak dan gas dapat memberikan tekanan terhadap kinerja Saka Energi.

Kelima, proyek infrastruktur membutuhkan investasi besar. Kenaikan biaya atau keterlambatan proyek dapat memengaruhi ekspektasi investor.

Karena itu, investor perlu membedakan antara potensi dan kepastian. Proyek strategis dapat menjadi katalis, tetapi dampaknya harus dibuktikan melalui kinerja.

Akumulasi Lo Kheng Hong Bukan Jaminan Harga PGAS Naik

Aksi Lo Kheng Hong tambah saham PGAS memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana investor value investing melihat valuasi emiten gas tersebut.

Kepemilikannya meningkat dari sekitar 196,76 juta saham pada akhir Mei menjadi 204,88 juta saham pada akhir Juni. Jumlah tersebut kemudian kembali naik menjadi sekitar 219,87 juta saham pada akhir Juli.

Kenaikan itu berlangsung ketika harga PGAS sudah terkoreksi cukup dalam dibandingkan level sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan aksi akumulasi mendapat perhatian.

Dari sisi fundamental, PGAS memiliki sejumlah faktor yang dapat menjadi katalis. Dividen yang menarik, jaringan infrastruktur gas, proyek Cisem II, dan bisnis Saka Energi menjadi beberapa di antaranya.

PGAS juga telah membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar sekitar Rp125,607 per saham. Pembayaran dilakukan pada 24 Juni 2026.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko. Pergerakan harga saham tidak hanya ditentukan oleh valuasi dan aksi pemegang saham besar.

Sentimen pasar, kondisi ekonomi, regulasi, permintaan gas, harga komoditas, dan kinerja keuangan dapat mengubah prospek saham.

Karena itu, aksi akumulasi Lo Kheng Hong sebaiknya dipandang sebagai informasi pendukung. Investor dapat menjadikannya bahan untuk menggali lebih dalam fundamental PGAS.

Pada akhirnya, yang paling penting bukan sekadar siapa yang membeli saham. Hal yang lebih penting adalah alasan pembelian tersebut dan apakah fundamental perusahaan mampu mendukung tesis investasi.

Dengan perkembangan kepemilikan yang masih perlu dipantau pada bulan-bulan berikutnya, PGAS berpotensi tetap menjadi salah satu saham yang menarik perhatian investor. Terutama bagi mereka yang mencari kombinasi antara valuasi, dividen, dan prospek bisnis energi dalam jangka panjang.

Catatan: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Investor perlu melakukan analisis mandiri serta mempertimbangkan profil risiko masing-masing.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
GTSI Menangkan Tender LNG BP, Danaputri 1 Siap Perkuat Distribusi Energi

GTSI Menangkan Tender LNG BP, Danaputri 1 Siap Perkuat Distribusi Energi

Kunjungi Artikel