RuangInvest.com, Banten – Krakatau Steel cetak laba bersih semester I 2026 setelah berhasil membalikkan kinerja dari posisi rugi pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan ini menjadi sinyal positif atas hasil transformasi bisnis dan restrukturisasi keuangan yang terus dijalankan perseroan.
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) membukukan laba bersih sebesar USD9,17 juta atau sekitar Rp160 miliar hingga akhir Juni 2026. Pada semester I 2025, emiten baja pelat merah tersebut masih mencatat rugi bersih sebesar USD107,1 juta.
Pencapaian tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan, efisiensi biaya keuangan, serta optimalisasi struktur pendanaan. Manajemen optimistis momentum positif ini dapat berlanjut hingga akhir tahun seiring meningkatnya aktivitas operasional perusahaan.
Pendapatan Krakatau Steel Melonjak Lebih dari 35 Persen
Kinerja KRAS menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan sepanjang enam bulan pertama 2026.
Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar USD622,74 juta atau sekitar Rp11,15 triliun. Nilai tersebut meningkat 35,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD460,83 juta.
Manajemen menyebut peningkatan tersebut tidak lepas dari dukungan pendanaan modal kerja yang diterima dari Danantara. Pendanaan itu membantu menjaga kelancaran pasokan bahan baku sehingga utilisasi produksi meningkat.
Selain itu, dukungan tersebut juga membuat struktur pendanaan perusahaan menjadi lebih efisien. Dengan demikian, kegiatan operasional dapat berjalan lebih optimal di tengah tantangan industri baja.
“Dukungan tersebut mendorong peningkatan kinerja perseroan,” ujar manajemen PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dalam keterangan resminya.
Restrukturisasi Utang Perkuat Profitabilitas
Selain peningkatan pendapatan, restrukturisasi utang menjadi faktor penting yang mendorong perbaikan laba perseroan.
KRAS mencatat keuntungan sebesar USD27,19 juta dari penyelesaian kewajiban dipercepat melalui skema keringanan atau haircut atas utang restrukturisasi.
Langkah tersebut berdampak langsung terhadap penurunan beban keuangan perusahaan. Hingga Juni 2026, beban keuangan turun 32,7 persen menjadi USD47,35 juta dibandingkan USD70,35 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, perseroan juga memperoleh pendapatan sebesar USD14,23 juta dari divestasi entitas asosiasi dan aset keuangan. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya optimalisasi portofolio investasi sekaligus memperkuat posisi keuangan perusahaan.
Berkat kombinasi berbagai faktor tersebut, laba bersih perseroan meningkat menjadi USD10,94 juta. Angka ini berbalik dibandingkan semester I 2025 yang masih membukukan rugi bersih USD105,38 juta.
Arus Kas Masih Menjadi Tantangan
Meskipun laba berhasil dibukukan, kondisi arus kas operasional masih menjadi perhatian.
Arus kas dari aktivitas operasi tercatat negatif USD156,9 juta. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan semester I 2025 yang mencatat negatif USD32,8 juta.
Kondisi ini terjadi karena pembayaran kepada pemasok mencapai USD727,4 juta dan pembayaran kepada karyawan sebesar USD35,1 juta. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan penerimaan kas dari pelanggan yang mencapai USD631,6 juta.
Namun demikian, perusahaan masih memperoleh tambahan likuiditas dari beberapa sumber pendanaan, antara lain:
- Penerimaan utang jangka pendek sebesar USD145 juta.
- Penarikan deposito berjangka senilai USD45,4 juta.
- Hasil penjualan entitas asosiasi sebesar USD16,6 juta.
Berkat tambahan dana tersebut, posisi kas dan setara kas perseroan meningkat sebesar USD30,8 juta menjadi USD89,4 juta hingga akhir Juni 2026.
Kondisi ini menunjukkan likuiditas perusahaan masih terjaga meskipun arus kas operasional belum sepenuhnya pulih.
Fokus Semester II 2026 dan Prospek Investor
Memasuki semester II 2026, manajemen Krakatau Steel menegaskan akan terus memperkuat fundamental perusahaan.
Fokus utama yang akan dijalankan meliputi peningkatan kinerja operasional, penguatan struktur keuangan, optimalisasi aset, serta pengembangan bisnis yang berkelanjutan.
Selain itu, perseroan tetap mengedepankan penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta manajemen risiko untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Bagi investor, perbaikan kinerja KRAS menjadi perkembangan yang patut dicermati. Keberhasilan perusahaan membalikkan posisi dari rugi menjadi laba menunjukkan bahwa program transformasi mulai memberikan hasil nyata.
Meskipun begitu, investor juga perlu memperhatikan kondisi arus kas operasional yang masih negatif. Faktor tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kualitas pemulihan kinerja perusahaan ke depan.
Apabila pendapatan tetap bertumbuh, efisiensi terus berlanjut, dan restrukturisasi keuangan berhasil dipertahankan, peluang peningkatan profitabilitas pada semester II 2026 masih terbuka. Di sisi lain, keberlanjutan proyek infrastruktur nasional dan meningkatnya kebutuhan baja domestik juga dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan bisnis Krakatau Steel.
Secara keseluruhan, laporan keuangan semester I 2026 memberikan sinyal bahwa KRAS berada pada jalur pemulihan. Namun, investor tetap disarankan mencermati perkembangan arus kas, tingkat utang, serta kemampuan perusahaan mempertahankan margin laba pada kuartal-kuartal berikutnya sebelum mengambil keputusan investasi.





