IPO PRDL Segera Melantai, Simak 4 Fakta Menariknya

Dwi Prakoso

IPO PRDL PT Prodia Diagnostic Line akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2026.

RuangInvest.com, Jakarta – IPO PRDL menjadi salah satu penawaran saham perdana yang menarik perhatian investor menjelang pertengahan tahun 2026. PT Prodia Diagnostic Line dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2026 dengan menawarkan saham baru kepada publik.

Saat ini, proses IPO PRDL masih berada pada tahap penawaran awal atau bookbuilding yang berlangsung sejak 18 Juni hingga 23 Juni 2026. Perseroan menawarkan kisaran harga Rp100 hingga Rp120 per saham dalam periode tersebut.

Melalui aksi korporasi ini, PT Prodia Diagnostic Line menargetkan perolehan dana segar hingga Rp62,74 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung pengembangan bisnis di sektor alat kesehatan diagnostik yang terus berkembang di Indonesia.

IPO PRDL Tawarkan Saham Baru ke Publik

PT Prodia Diagnostic Line merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri alat kesehatan diagnostik. Perseroan juga merupakan entitas asosiasi dari PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), salah satu perusahaan layanan laboratorium kesehatan terbesar di Indonesia.

Dalam IPO PRDL, perusahaan akan menerbitkan sebanyak 522,90 juta saham baru atau setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum selesai dilaksanakan.

Jadwal penawaran umum berlangsung pada 1 hingga 7 Juli 2026. Sementara itu, penjatahan efek dijadwalkan pada 7 Juli, distribusi saham pada 8 Juli, dan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juli 2026.

Dengan harga penawaran awal Rp100-Rp120 per saham, investor masih memiliki waktu untuk mempelajari prospektus dan menilai potensi bisnis perusahaan sebelum masa penawaran umum dimulai.

Bisnis Utama dan Prospek Pertumbuhan PRDL

Bisnis utama PT Prodia Diagnostic Line berfokus pada produksi alat kesehatan diagnostik. Selain itu, perusahaan juga menjalankan kegiatan usaha pendukung seperti jasa kalibrasi, perdagangan alat laboratorium, alat farmasi, serta alat kedokteran untuk manusia.

Perseroan memiliki merek produk sendiri bernama Proline. Produk-produknya telah digunakan oleh berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia untuk kebutuhan pemeriksaan laboratorium.

Saat ini, perusahaan memiliki lebih dari 1.083 SKU aktif yang mencakup berbagai kategori diagnostik, antara lain:

  • Hematologi
  • Imunologi
  • Biomolekular
  • Urinalisis
  • Kimia klinik
  • Berbagai kebutuhan laboratorium lainnya

Tidak hanya itu, PRDL juga telah melayani lebih dari 7.000 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Jangkauan pasar yang luas ini menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan bisnis perusahaan.

Dukungan Program Pemerintah

Prospek IPO PRDL juga didukung oleh kebijakan pemerintah di sektor kesehatan. Salah satunya adalah Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang terus dijalankan secara konsisten.

Program tersebut mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp3,4 triliun pada tahun 2025. Karena itu, kebutuhan alat kesehatan dan produk diagnostik berpotensi meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Perseroan juga berencana mengikuti pengadaan berbagai kebutuhan pemeriksaan kesehatan yang sesuai dengan portofolio produk yang telah diproduksi secara rutin. Kondisi ini membuka peluang tambahan bagi pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Selain itu, industri In Vitro Diagnostics (IVD) di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Peningkatan akses layanan kesehatan dan kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan menjadi faktor pendorong utama.

Struktur Kepemilikan Saham Sebelum dan Sesudah IPO

Berdasarkan prospektus, PT Prodia Diagnostic Line didirikan oleh beberapa pihak yang memiliki hubungan erat dengan grup Prodia.

Sebelum IPO, struktur kepemilikan saham perusahaan terdiri dari:

  • PT Prodia Utama: 622,20 juta saham (51 persen)
  • PT Prodia Widyahusada Tbk: 475,80 juta saham (39 persen)
  • Diasys Diagnostic System GmbH: 122 juta saham (10 persen)

Setelah IPO PRDL selesai dilaksanakan, komposisi kepemilikan saham akan berubah menjadi:

  • PT Prodia Utama: 35,70 persen
  • PT Prodia Widyahusada Tbk: 27,30 persen
  • Diasys Diagnostic System GmbH: 7 persen
  • Publik: 30 persen

Perubahan ini terjadi karena perusahaan menerbitkan saham baru sebanyak 522,90 juta lembar kepada masyarakat.

Meski kepemilikan publik meningkat menjadi 30 persen, kelompok pemegang saham lama masih tetap menjadi pengendali utama perusahaan.

Penggunaan Dana Hasil IPO PRDL

Dana yang diperoleh dari IPO PRDL akan digunakan untuk beberapa kebutuhan strategis perusahaan.

Porsi terbesar dana, yaitu sekitar Rp35,66 miliar, akan dialokasikan untuk pelunasan pokok fasilitas kredit yang dimiliki perusahaan pada sejumlah perbankan.

Pelunasan tersebut ditujukan kepada:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
  • PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN)

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat struktur permodalan dan menurunkan beban keuangan perusahaan di masa mendatang.

Sementara itu, sekitar 28,92 persen dana IPO akan digunakan untuk belanja modal. Alokasi tersebut mencakup pembelian mesin, alat kalibrasi, kendaraan operasional, pengembangan sistem perangkat lunak, serta peningkatan fasilitas laboratorium biomolekuler.

Adapun sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja. Dana tersebut antara lain dipakai untuk pembelian bahan baku, biaya produksi, kegiatan pemasaran, serta pengembangan usaha.

Dengan kombinasi pelunasan utang, investasi peralatan, dan tambahan modal kerja, perusahaan berharap dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing bisnisnya.

Bagi investor yang sedang mempertimbangkan IPO PRDL, faktor prospek industri kesehatan, dukungan program pemerintah, serta posisi perusahaan dalam pasar alat kesehatan diagnostik menjadi beberapa aspek penting yang layak dicermati sebelum mengambil keputusan investasi.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Bank Sentral Global Kompak Borong Emas Demi Hapus Ketergantungan Dolar AS

Bank Sentral Global Kompak Borong Emas Demi Hapus Ketergantungan Dolar AS

Kunjungi Artikel