RuangInvest.com, Jakarta – IPO Juli 2026 diperkirakan menjadi salah satu momentum penting bagi pasar modal Indonesia setelah aktivitas penawaran umum perdana saham sepanjang semester pertama tahun ini relatif terbatas. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan terdapat lima calon emiten yang dijadwalkan melaksanakan IPO pada Juli 2026.
Tiga dari lima perusahaan tersebut berasal dari sektor healthcare. Kondisi ini menunjukkan masih tingginya minat pelaku usaha kesehatan untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan ekspansi bisnis.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, maka jumlah perusahaan yang melantai di BEI sejak awal 2026 berpotensi mencapai enam emiten. Sebelumnya, hanya satu perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di bursa, yakni BSA Logistics Indonesia (WBSA) pada April 2026.
IPO Juli 2026 Didominasi Emiten Healthcare
Kehadiran tiga perusahaan kesehatan dalam daftar IPO Juli 2026 menjadi sorotan utama. Fenomena ini menunjukkan sektor healthcare masih memiliki prospek pertumbuhan yang menarik di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan dan alat medis di Indonesia.
Selain itu, keberadaan perusahaan kesehatan dalam pipeline IPO juga memberikan alternatif investasi baru bagi pelaku pasar yang ingin mendapatkan eksposur terhadap sektor defensif.
Berikut lima calon emiten yang dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia berdasarkan urutan jadwal pencatatan sahamnya.
Niramas Utama (JELI)
Niramas Utama merupakan produsen makanan dan minuman penutup yang dikenal melalui merek INACO. Perusahaan berdiri sejak 1990 dan saat ini menjadi pemimpin pasar kategori jelly di saluran modern trade.
Pada 2025, pangsa pasar perusahaan mencapai 49,57 persen. Melalui IPO, JELI berpotensi meraih dana hingga Rp392 miliar.
Sebagian besar dana tersebut akan digunakan untuk:
- Penyertaan modal kepada anak usaha.
- Penambahan kapasitas produksi gummy candy.
- Peningkatan kapasitas produksi produk jelly.
- Pengembangan bisnis dan ekspansi operasional.
Perusahaan juga tercatat sebagai emiten syariah, sehingga dapat menarik minat investor yang berfokus pada instrumen investasi berbasis syariah.
Nitrasanata Dharma (JECX)
Nitrasanata Dharma merupakan operator jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics yang telah beroperasi sejak 1984. Hingga 2025, perusahaan mengelola lima rumah sakit dan sebelas klinik utama.
Salah satu pemegang saham penting perseroan adalah Sarana Meditama Metropolitan (SAME), yang merupakan anak usaha Elang Mahkota Teknologi (EMTK).
Setelah IPO, SAME diperkirakan masih memiliki sekitar 25 persen kepemilikan saham di JECX. Perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp683 miliar dari aksi korporasi ini.
Dana hasil IPO akan digunakan untuk:
- Modal kerja operasional.
- Pengembangan layanan kesehatan mata.
- Peningkatan kapasitas bisnis.
- Mendukung ekspansi jaringan layanan.
Sekitar Rp358 miliar atau 52 persen dari total dana yang diperoleh akan dialokasikan sebagai modal kerja.
Bach Multi Global (BACH)
Bach Multi Global bergerak di bidang penjualan dan penyewaan genset. Selain itu, perusahaan juga menyediakan jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.
BACH merupakan bagian dari ekosistem grup Djarum melalui Sarana Menara Nusantara (TOWR) yang dimiliki keluarga Hartono.
Menariknya, PT Global Telekomunikasi Prima memiliki perjanjian opsi untuk membeli saham BACH setelah IPO. Jika opsi tersebut dieksekusi, kepemilikannya berpotensi meningkat dari sekitar 25 persen menjadi 51 persen.
Perseroan menargetkan dana IPO sebesar Rp308 miliar. Sekitar Rp213 miliar atau 69 persen dana tersebut akan digunakan sebagai modal kerja.
Esa Medika Mandiri (EMMI)
Esa Medika Mandiri memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun dalam perdagangan alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran.
Perusahaan memegang hak eksklusif sembilan merek teknologi kesehatan global, termasuk Air Liquide Healthcare dan Medicon.
EMMI melayani lebih dari 200 rumah sakit dan institusi kesehatan di Indonesia. Sebagian besar pendapatannya berasal dari rumah sakit pemerintah yang berkontribusi sekitar 96 persen sepanjang 2025.
Potensi dana yang dapat dihimpun mencapai Rp269 miliar. Hingga 69 persen dana hasil IPO akan dimanfaatkan sebagai modal kerja untuk mendukung pertumbuhan usaha.
Prodia Diagnostic Line Lengkapi Daftar IPO Juli 2026
Calon emiten terakhir dalam daftar IPO Juli 2026 adalah Prodia Diagnostic Line (PRDL). Perusahaan ini merupakan entitas asosiasi Prodia Widyahusada (PRDA).
Didirikan pada 2010, PRDL bergerak di bidang produksi alat kesehatan in-vitro diagnostic (IVD). Perseroan memproduksi alat kesehatan dengan merek sendiri, merek distributor, maupun merek prinsipal.
Melalui penawaran umum perdana saham, perusahaan berpotensi memperoleh dana sekitar Rp63 miliar.
Sebagian dana tersebut akan digunakan untuk:
- Pelunasan pokok fasilitas kredit bank.
- Penguatan struktur permodalan.
- Mendukung kebutuhan operasional perusahaan.
Sekitar Rp36 miliar atau 57 persen dari total dana IPO akan dialokasikan untuk pelunasan pinjaman bank.
Sinyal Positif bagi Pasar Modal Indonesia
Munculnya lima calon emiten pada IPO Juli 2026 memberikan sinyal positif bagi pasar modal Indonesia. Aktivitas IPO yang mulai meningkat menunjukkan kepercayaan perusahaan terhadap kondisi pasar yang semakin kondusif.
Selain itu, langkah reformasi yang dilakukan regulator dinilai mulai memberikan dampak terhadap kualitas perusahaan yang masuk ke pipeline pencatatan saham.
Sebelumnya, sepanjang semester pertama 2026 hanya terdapat satu perusahaan yang berhasil melaksanakan IPO. Namun, pada awal Juni 2026, BEI menyebut terdapat 12 calon emiten yang berada dalam antrean pipeline hingga akhir tahun.
Karena itu, jika seluruh rencana IPO Juli 2026 terealisasi, pasar modal Indonesia berpotensi memasuki fase yang lebih aktif pada semester kedua tahun ini. Kehadiran emiten baru dari sektor kesehatan, konsumsi, hingga infrastruktur telekomunikasi juga dapat memperluas pilihan investasi bagi pelaku pasar sekaligus memperkuat daya tarik Bursa Efek Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.





