RuangInvest.com – Jakarta – INAF ungkap pemulihan keuangan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui laporan perkembangan restrukturisasi dan transformasi bisnis yang sedang dijalankan. Perseroan menyatakan berbagai langkah efisiensi mulai memberikan hasil positif meski sahamnya masih berada dalam status suspensi perdagangan.
Saham PT Indofarma Tbk (INAF) telah disuspensi sejak 2 Juli 2024 akibat memburuknya kondisi keuangan perusahaan. Selain itu, posisi ekuitas yang masih negatif membuat emiten farmasi pelat merah tersebut masuk dalam daftar perusahaan yang berpotensi mengalami delisting dari Bursa Efek Indonesia.
Meski menghadapi tantangan besar, manajemen optimistis proses pemulihan berjalan sesuai rencana. Berbagai indikator keuangan menunjukkan perbaikan sepanjang 2025 hingga memasuki kuartal pertama 2026. Perusahaan juga menargetkan pertumbuhan pendapatan sekaligus kembali mencetak laba kotor positif pada tahun ini.
Perbaikan Kinerja Jadi Sinyal Positif
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada BEI, manajemen menjelaskan bahwa kondisi likuiditas masih menjadi tantangan sepanjang 2025. Penjualan bersih tercatat sebesar Rp151,5 miliar.
Namun, program efisiensi yang diterapkan berhasil menekan berbagai beban operasional perusahaan. Beban pokok penjualan turun 31,1 persen sehingga rasio harga pokok penjualan terhadap penjualan membaik dari 117,8 persen menjadi 112,7 persen.
Selain itu, beban penjualan serta beban umum dan administrasi (SG&A) berhasil ditekan hingga 55,7 persen. Langkah tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membantu memperbaiki kondisi keuangan perseroan.
Efisiensi tersebut berdampak langsung terhadap penurunan rugi kotor. Pada 2025, rugi kotor turun menjadi Rp19,2 miliar dari Rp37,5 miliar pada tahun sebelumnya atau membaik sebesar 48,8 persen.
Sementara itu, rugi bersih juga menyusut signifikan. Nilainya turun 76,7 persen menjadi Rp77,9 miliar dibandingkan rugi bersih Rp334,5 miliar pada 2024.
Restrukturisasi Utang dan Modal Mulai Membuahkan Hasil
Manajemen menjelaskan bahwa penurunan rugi bersih tidak hanya berasal dari efisiensi operasional. Perbaikan tersebut juga didukung oleh dekonsolidasi PT Indofarma Global Medika (IGM) yang telah dinyatakan pailit.
Di sisi lain, restrukturisasi utang pemegang saham turut memberikan dampak terhadap struktur permodalan perusahaan. Posisi ekuitas negatif yang sebelumnya mencapai Rp1,14 triliun berhasil ditekan menjadi negatif Rp707 miliar pada akhir 2025.
Perbaikan tersebut menunjukkan bahwa proses restrukturisasi mulai berjalan sesuai target. Meskipun demikian, perusahaan masih harus menyelesaikan sejumlah kewajiban agar kondisi keuangan benar-benar kembali sehat.
Manajemen juga menegaskan komitmennya menjalankan seluruh kewajiban dalam putusan homologasi restrukturisasi utang. Sepanjang 2025, seluruh pembayaran kepada kreditur dilakukan sesuai jadwal, termasuk pembayaran kepada Kreditur Tipe B pada September 2025.
Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan kreditur sekaligus mempercepat proses pemulihan perusahaan.
Target Pertumbuhan INAF pada 2026
Memasuki kuartal I-2026, tren perbaikan diklaim terus berlanjut. Perseroan mencatat peningkatan laba kotor yang berasal dari beberapa strategi operasional.
Fokus perusahaan kini diarahkan pada pengembangan produk ethical yang memiliki margin lebih baik. Selain itu, utilisasi fasilitas produksi juga terus dioptimalkan agar kapasitas pabrik dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Untuk tahun 2026, INAF menargetkan pendapatan sebesar Rp187,3 miliar. Angka tersebut tumbuh sekitar 23,6 persen dibandingkan realisasi penjualan sepanjang 2025.
Perseroan juga membidik laba kotor positif sebesar Rp32,5 miliar. Target ini menjadi titik balik setelah sebelumnya masih mencatat rugi kotor Rp19,2 miliar.
Agar target tersebut tercapai, perusahaan telah menetapkan empat strategi utama, yaitu:
- meningkatkan efisiensi melalui penerapan lean manufacturing;
- mengoptimalkan kapasitas produksi;
- memperkuat pasar pemerintah dan institusi melalui e-catalog serta kontrak jangka panjang;
- mengembangkan bisnis produk injeksi steril untuk mendukung substitusi impor;
- memperkuat posisi sebagai produsen Obat Bahan Alam (OBA) nasional melalui diversifikasi produk dan kemitraan dari hulu hingga hilir.
Strategi tersebut diharapkan mampu memperkuat fundamental perusahaan sekaligus meningkatkan daya saing di industri farmasi nasional.
Prospek INAF bagi Investor
INAF ungkap pemulihan keuangan dengan sejumlah indikator yang mulai membaik. Penurunan rugi bersih, membaiknya ekuitas, serta efisiensi biaya menjadi sinyal bahwa transformasi perusahaan mulai menunjukkan hasil.
Namun demikian, investor masih perlu mencermati sejumlah risiko. Status suspensi saham sejak Juli 2024 masih berlaku dan hingga 30 Juni 2026 perseroan tetap masuk dalam daftar emiten yang berpotensi mengalami delisting apabila belum memenuhi persyaratan Bursa Efek Indonesia.
Di sisi lain, target pertumbuhan pendapatan sebesar 23,6 persen pada 2026 menjadi tantangan yang harus dibuktikan melalui realisasi kinerja. Keberhasilan meningkatkan produksi, memperluas pasar pemerintah, serta menjaga arus kas akan menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.
Bagi investor jangka panjang, perkembangan restrukturisasi utang dan perbaikan fundamental layak terus dipantau. Apabila perusahaan mampu mencapai target operasional sekaligus memperbaiki struktur modal secara berkelanjutan, peluang keluar dari tekanan keuangan akan semakin terbuka.
Meski begitu, selama status suspensi belum dicabut dan ekuitas masih negatif, saham INAF tetap memiliki tingkat risiko yang tinggi. Oleh karena itu, investor disarankan menunggu perkembangan lanjutan terkait proses restrukturisasi, evaluasi Bursa Efek Indonesia, serta realisasi target kinerja sepanjang 2026 sebelum mengambil keputusan investasi.





