IHSG Melemah 0,12 Persen, 10 Saham Jadi Top Losers Pekan Ini

Dwi Prakoso

IHSG melemah 0,12 persen dan daftar saham top losers pekan 10-14 Agustus 2026

RuangInvest.com, Jakarta – IHSG melemah 0,12 persen sepanjang perdagangan 10-14 Agustus 2026. Tekanan pasar terjadi ketika investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih atau net sell.

Berdasarkan data perdagangan pekan tersebut, investor asing membukukan net sell hingga Rp1,58 triliun. Kondisi ini menjadi perhatian karena berbalik dari pekan sebelumnya.

Pada pekan sebelumnya, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp695,17 miliar atau sekitar USD38,76 juta. Sementara itu, IHSG pada Jumat (14/8/2026) ditutup di level 6.401,888.

Posisi tersebut turun 7,766 poin atau 0,12 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di level 6.409,654. Pergerakan indeks menunjukkan pasar masih menghadapi tekanan meski koreksinya relatif terbatas.

IHSG Melemah di Tengah Aksi Jual Investor Asing

IHSG melemah tipis selama sepekan perdagangan. Namun, perubahan arah transaksi investor asing menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar.

Aksi jual bersih asing mencapai Rp1,58 triliun. Nilai tersebut menunjukkan adanya tekanan jual yang cukup besar pada sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia.

Kondisi ini berbeda dengan pekan sebelumnya. Saat itu, investor asing masih membukukan pembelian bersih sebesar Rp695,17 miliar.

Perubahan dari net buy menjadi net sell menunjukkan sentimen investor asing belum sepenuhnya stabil. Selain itu, tekanan jual dapat memengaruhi pergerakan saham dengan kapitalisasi besar.

Meski begitu, pelemahan IHSG masih terbatas. Indeks hanya turun 0,12 persen dari posisi akhir pekan sebelumnya.

Investor juga masih mencermati perkembangan ekonomi dan kondisi pasar global. Karena itu, pergerakan IHSG pada pekan berikutnya tetap menarik untuk diperhatikan.

BAIK Jadi Top Losers dengan Koreksi 49,35 Persen

Di tengah IHSG melemah, sejumlah saham justru mengalami tekanan lebih dalam. PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) menjadi saham dengan penurunan terbesar pada pekan ini.

Saham BAIK terkoreksi 49,35 persen. Harganya turun dari Rp770 menjadi Rp390 per saham.

Koreksi tersebut terjadi setelah saham BAIK sebelumnya mencatat reli yang cukup kuat. Tekanan jual kemudian membawa harga saham turun tajam dari level tertingginya.

Meski mengalami penurunan besar dalam sepekan, kinerja BAIK sejak awal tahun masih mencatat kenaikan signifikan. Saham tersebut disebut telah naik hampir 200 persen sejak 1 Januari 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa koreksi tajam tidak serta-merta menghapus seluruh kenaikan yang telah terjadi sebelumnya. Investor tetap perlu melihat kinerja saham secara lebih menyeluruh.

Selain itu, pergerakan harga setelah reli panjang dapat meningkatkan risiko aksi ambil untung. Karena itu, investor perlu memperhatikan volume transaksi dan perkembangan fundamental perusahaan.

BACH Turun 18,25 Persen Setelah IPO

Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menempati posisi kedua dalam daftar top losers pekan ini. Saham tersebut turun 18,25 persen dari Rp570 menjadi Rp466.

BACH merupakan perusahaan penyedia genset yang berada dalam ekosistem Djarum Group. Saham tersebut juga tergolong pendatang baru di pasar modal setelah melaksanakan penawaran umum perdana saham atau IPO.

Penurunan BACH terjadi di tengah aksi ambil untung atau profit taking. Setelah mencatat pergerakan harga yang menarik perhatian pasar, investor mulai merealisasikan keuntungan.

Sementara itu, karakter saham yang baru melantai di bursa dapat membuat pergerakannya lebih fluktuatif. Investor perlu memperhatikan perkembangan harga dan likuiditas sebelum mengambil keputusan.

Di sisi lain, koreksi harga tidak selalu menunjukkan perubahan fundamental perusahaan. Namun, penurunan yang besar tetap perlu menjadi perhatian, terutama bagi investor yang memiliki saham tersebut.

Daftar 10 Saham Top Losers Pekan Ini

Selain BAIK dan BACH, terdapat sejumlah saham lain yang mengalami koreksi cukup dalam sepanjang perdagangan 10-14 Agustus 2026.

Berikut daftar saham yang masuk jajaran top losers pekan ini:

  • PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK): turun 49,35 persen, dari Rp770 menjadi Rp390.
  • PT Bach Multi Global Tbk (BACH): turun 18,25 persen, dari Rp570 menjadi Rp466.
  • PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK): turun 18,06 persen.
  • PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS): turun 17,70 persen.
  • PT Voksel Electric Tbk (VOKS): turun 15,56 persen.
  • PT Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI): turun 14,62 persen.
  • PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN): turun 13,55 persen.
  • PT Pikko Land Development Tbk (RODA): turun 13,51 persen.
  • PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID): turun 13,01 persen.
  • PT Nusatama Berkah Tbk (NTBK): turun 12,90 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terjadi pada satu saham. Beberapa emiten dari sektor berbeda juga mengalami koreksi cukup signifikan.

Investor Perlu Mencermati Risiko Setelah Reli

Pergerakan saham top losers pekan ini memberikan gambaran mengenai tingginya risiko pada saham yang sebelumnya mengalami kenaikan tajam. Koreksi dapat terjadi ketika investor memilih mengamankan keuntungan.

Kasus BAIK menjadi salah satu contoh. Saham tersebut turun hampir separuh dalam sepekan, tetapi masih membukukan kenaikan besar sejak awal tahun.

Sementara itu, BACH menunjukkan dinamika berbeda karena merupakan saham yang relatif baru di bursa. Fluktuasi harga setelah IPO perlu dicermati dengan pendekatan yang lebih hati-hati.

Namun, daftar top losers tidak otomatis berarti seluruh saham tersebut buruk. Penurunan harga perlu dilihat bersama kinerja keuangan, prospek bisnis, valuasi, likuiditas, dan sentimen pasar.

Investor juga sebaiknya tidak hanya melihat persentase kenaikan atau penurunan. Volume transaksi dapat menjadi informasi tambahan untuk memahami kekuatan tekanan jual.

Arah IHSG dan Sentimen Asing Jadi Perhatian

IHSG melemah 0,12 persen pada pekan 10-14 Agustus 2026. Pelemahan tersebut tergolong terbatas, tetapi arus dana asing menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Net sell asing sebesar Rp1,58 triliun menunjukkan adanya perubahan sentimen dibandingkan pekan sebelumnya. Saat itu, investor asing masih membukukan net buy Rp695,17 miliar.

Karena itu, arah transaksi investor asing dapat menjadi salah satu indikator yang dipantau pelaku pasar. Namun, pergerakan IHSG tetap dipengaruhi banyak faktor.

Selain itu, investor perlu mencermati kinerja emiten dan perkembangan ekonomi secara keseluruhan. Setiap saham memiliki karakter risiko yang berbeda.

Dengan demikian, koreksi IHSG dan daftar top losers pekan ini menjadi pengingat bahwa pergerakan pasar saham dapat berubah dengan cepat. Investor perlu mengedepankan analisis dan manajemen risiko.

Bagi investor ritel, momentum koreksi juga perlu dihadapi dengan disiplin. Hindari keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga dalam satu atau dua sesi perdagangan.

Sementara itu, perkembangan IHSG pada pekan berikutnya akan menjadi perhatian. Pelaku pasar akan melihat apakah tekanan jual asing berlanjut atau kembali berbalik menjadi aksi beli.

Jika arus dana asing mulai kembali positif, sentimen pasar berpotensi membaik. Namun, apabila net sell berlanjut, tekanan terhadap sejumlah saham masih perlu diwaspadai.

Dengan kondisi tersebut, investor sebaiknya tetap mencermati data perdagangan terbaru sebelum menentukan strategi investasi. Pergerakan indeks memang penting, tetapi kondisi setiap emiten tetap menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Indosat ISAT Bukukan Laba Bersih Rp4,3 Triliun Semester I-2026

Indosat ISAT Bukukan Laba Bersih Rp4,3 Triliun Semester I-2026

Kunjungi Artikel