Harga Komoditas Melemah, Prospek Saham Tambang Masih Menarik

Dwi Prakoso

harga komoditas melemah di tengah tekanan dolar AS dan kebijakan The Fed terhadap sektor pertambangan.

RuangInvest.com, JakartaHarga komoditas melemah sepanjang Juni 2026 setelah pasar menghadapi kombinasi sentimen global yang kurang bersahabat. Sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (The Fed), penguatan dolar AS, hingga meredanya ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang membebani hampir seluruh komoditas.

Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan oleh komoditas energi, tetapi juga logam industri. Harga minyak, batu bara, aluminium, hingga nikel sama-sama mengalami koreksi sehingga memengaruhi prospek emiten pertambangan dalam jangka pendek.

Meski demikian, sejumlah analis menilai pelemahan tersebut belum mengubah prospek sektor logam dan energi dalam jangka menengah hingga panjang. Investor justru diminta mencermati peluang yang muncul setelah valuasi sejumlah saham tambang kembali menarik.

Harga Komoditas Melemah Dipicu Sentimen Global

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam riset yang diterbitkan pada 3 Juli 2026 menyebut hampir seluruh harga komoditas melemah sekitar 1 hingga 19 persen sepanjang Juni 2026.

Menurut mereka, faktor terbesar berasal dari sikap The Fed yang masih mempertahankan kebijakan moneter ketat. Data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat yang tetap kuat membuat peluang penurunan suku bunga semakin terbatas dalam waktu dekat.

Akibatnya, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) kembali menembus level 100. Penguatan dolar biasanya membuat harga komoditas global menjadi lebih mahal bagi negara pengguna mata uang lain sehingga permintaan cenderung melemah.

Selain itu, kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran turut mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga energi. Karena itu, harga minyak Brent kembali turun ke kisaran USD70 per barel.

Sementara itu, harga batu bara Newcastle maupun Indonesian Coal Index (ICI) juga mulai bergerak turun sejak akhir Juni. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Aluminium, Batu Bara, dan Nikel Ikut Tertekan

Pelemahan tidak hanya terjadi pada minyak dan batu bara. Harga aluminium bahkan tercatat mengalami penurunan sekitar 19 persen secara bulanan.

Kondisi tersebut diperkirakan membuat rata-rata harga jual atau average selling price (ASP) aluminium PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk berada pada kisaran bawah proyeksi tahun 2026, yakni sekitar USD3.000 per ton. Angka tersebut jauh di bawah posisi tertinggi yang sebelumnya sempat mendekati USD3.700 per ton.

Di sisi lain, biaya sulfur untuk industri High Pressure Acid Leach (HPAL) diperkirakan masih bertahan tinggi. Berbeda dengan komoditas lain, harga sulfur bergerak lebih lambat karena belum memiliki pasar finansial yang aktif sebagai acuan harga.

Berdasarkan diskusi Indo Premier dengan pelaku industri HPAL, hanya sebagian kecil transaksi yang berlangsung pada harga puncak sekitar USD1.200 per ton. Rata-rata biaya sulfur pada kuartal II-2026 diperkirakan berada di kisaran USD900 hingga USD1.000 per ton.

Kondisi tersebut membuat margin sejumlah perusahaan pengolahan nikel masih menghadapi tantangan meskipun harga energi mulai menurun.

Investor Menunggu Keputusan Kuota RKAB

Selain sentimen global, perhatian pelaku pasar kini juga tertuju pada kebijakan pemerintah terkait tambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan.

Menurut Indo Premier, isu mengenai skema gross split maupun kenaikan tarif royalti sebagian besar telah tercermin dalam harga saham emiten tambang. Karena itu, fokus investor kini bergeser pada keputusan Kementerian ESDM mengenai tambahan kuota produksi.

Beberapa perusahaan telah mengajukan tambahan kuota produksi. PT Vale Indonesia Tbk mengusulkan peningkatan produksi bijih nikel seiring proyek HPAL Pomalaa yang diperkirakan mulai beroperasi pada kuartal III-2026.

Sementara itu, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk, PT United Tractors Tbk, serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk juga mengajukan tambahan kuota produksi batu bara.

Indo Premier memperkirakan Kementerian ESDM hanya akan menaikkan kuota RKAB bijih nikel menjadi sekitar 320 hingga 330 juta wet metric ton (wmt). Angka tersebut masih berada di bawah rumor pasar yang sempat menyebutkan kuota hingga 360 juta wmt.

Jika skenario tersebut terealisasi, keseimbangan pasokan dan permintaan bijih nikel diperkirakan membaik. Namun, di sisi lain kondisi tersebut juga berpotensi menekan harga bijih nikel domestik maupun harga nikel di London Metal Exchange (LME).

Prospek Investor Masih Positif

Walaupun harga komoditas melemah dalam beberapa pekan terakhir, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor logam dan energi.

Menurut analis, sebagian besar ketidakpastian regulasi sudah tercermin dalam valuasi saham saat ini. Selain itu, tekanan inflasi di Amerika Serikat diperkirakan hanya bersifat sementara sehingga peluang pemulihan harga komoditas masih terbuka ketika kebijakan moneter mulai lebih longgar.

Untuk pilihan saham, Indo Premier tetap mengunggulkan PT Merdeka Copper Gold Tbk dan PT Vale Indonesia Tbk.

Merdeka Copper Gold dinilai memiliki prospek pemulihan profitabilitas yang kuat setelah berbagai proyek strategis mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan. Sementara itu, Vale Indonesia dipandang menawarkan pertumbuhan laba per saham yang menarik seiring ekspansi bisnis dan mulai beroperasinya proyek-proyek baru.

Pandangan Prospek untuk Investor

Bagi investor, pelemahan harga komoditas saat ini dapat menjadi periode konsolidasi sebelum memasuki fase pemulihan berikutnya. Selama permintaan global tetap bertumbuh dan siklus suku bunga mulai berbalik dalam beberapa kuartal mendatang, sektor logam dan energi masih memiliki potensi mencatatkan kinerja yang lebih baik.

Namun, investor tetap perlu mencermati beberapa faktor utama, antara lain:

  • Arah kebijakan suku bunga The Fed.
  • Pergerakan indeks dolar AS.
  • Keputusan pemerintah mengenai tambahan kuota RKAB.
  • Perkembangan proyek hilirisasi nikel di Indonesia.
  • Tren harga minyak, batu bara, dan logam industri di pasar global.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, strategi investasi yang selektif masih menjadi pilihan yang tepat. Emiten dengan fundamental kuat, biaya produksi yang kompetitif, serta prospek pertumbuhan jangka panjang dinilai berpeluang memberikan kinerja lebih baik ketika siklus komoditas kembali menguat.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu