Harga Emas Dunia Menguat, Catat Kenaikan Mingguan Usai Rebound

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, New York – Harga emas dunia menguat pada perdagangan Jumat (29/5/2026) dan berhasil mencatat kenaikan mingguan setelah bangkit dari posisi terendah dalam dua bulan yang sempat disentuh sehari sebelumnya. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta harapan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran menjadi pendorong utama penguatan logam mulia tersebut.

Harga emas spot tercatat naik 0,99 persen menjadi USD4.540,53 per troy ons. Kenaikan ini menandai pemulihan signifikan setelah emas sempat menyentuh level terendah dua bulan di USD4.365,76 per troy ons pada Kamis.

Secara mingguan, harga emas berhasil membukukan kenaikan sekitar 0,68 persen. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset safe haven masih cukup kuat di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Harga Emas Dunia Menguat Ditopang Pelemahan Dolar AS

Penguatan emas terjadi seiring melemahnya indeks dolar AS yang berada di jalur penurunan mingguan. Kondisi ini membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar.

Selain itu, sentimen pasar turut membaik setelah muncul laporan mengenai peluang perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan tersebut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa keputusan terkait kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir. Pernyataan itu memberikan optimisme baru bagi pelaku pasar global.

Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, Phillip Streible, mengatakan bahwa emas berhasil memantul dari area support teknikal yang penting. Menurutnya, kombinasi pelemahan dolar dan turunnya harga minyak menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan harga emas dalam beberapa hari terakhir.

Harapan Gencatan Senjata Dorong Sentimen Investor

Perkembangan hubungan antara AS dan Iran menjadi perhatian utama pasar sepanjang pekan ini. Investor menilai perpanjangan gencatan senjata berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan energi global.

Di sisi lain, harga minyak juga bergerak menuju penurunan mingguan. Turunnya harga energi membantu meredakan sebagian tekanan inflasi dan meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai seperti emas.

Faktor Geopolitik Masih Menjadi Perhatian

Meski sentimen pasar membaik, pelaku pasar tetap mencermati berbagai risiko geopolitik yang masih membayangi. Gangguan pada jalur pelayaran maupun infrastruktur energi dapat kembali meningkatkan volatilitas harga komoditas global.

Phillip Streible menilai bahwa potensi gangguan tersebut dapat menjaga harga energi tetap tinggi dalam jangka menengah. Karena itu, investor masih mempertahankan sebagian portofolio mereka pada aset safe haven termasuk emas.

Sementara itu, pasar juga menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan moneter AS yang diperkirakan masih menjadi faktor dominan bagi arah harga emas ke depan.

Suku Bunga Tinggi Batasi Kenaikan Harga Emas

Meskipun harga emas dunia menguat dalam sepekan terakhir, ruang kenaikan masih dibatasi oleh prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Data terbaru menunjukkan inflasi AS pada April meningkat dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh lonjakan harga energi yang berkaitan dengan konflik Iran.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kebijakan itu biasanya menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Akibatnya, meskipun berhasil mencatat penguatan mingguan, harga emas masih mengalami penurunan lebih dari 1 persen sepanjang Mei 2026.

Investor kini terus mencermati setiap data ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan mendatang.

Permintaan Fisik Emas Asia Masih Lemah

Di pasar fisik, permintaan emas di India masih menunjukkan tren lemah. Harga yang tinggi serta bea impor yang besar membuat konsumen cenderung menunda pembelian.

Sementara itu, pasar emas China juga belum menunjukkan peningkatan signifikan. Premi emas di negara tersebut menyempit karena pelaku pasar masih mengambil sikap hati-hati terhadap pergerakan harga global.

Kondisi permintaan fisik yang belum pulih sepenuhnya menjadi salah satu faktor yang membatasi laju kenaikan harga emas meskipun sentimen eksternal sedang membaik.

Adapun logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak spot relatif stabil di USD75,62 per ons dan masih berada di jalur kenaikan bulanan.

Di sisi lain, platinum turun 0,3 persen menjadi USD1.917,65 per ons. Sementara itu, paladium melemah 1,1 persen menjadi USD1.352,24 per ons dan telah kehilangan lebih dari 11 persen sepanjang bulan ini.

Dengan kombinasi pelemahan dolar AS, perkembangan geopolitik Timur Tengah, dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat, pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih akan menjadi fokus utama investor global dalam waktu dekat.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu