Harga CPO Naik Dua Pekan Beruntun Meski Ekspor Masih Lemah

Dwi Prakoso

RuangInvest.com, Kuala Lumpur – Harga CPO naik untuk minggu kedua berturut-turut meskipun perdagangan pada akhir pekan ditutup melemah tipis. Kenaikan tersebut menunjukkan pasar minyak sawit masih mampu bertahan di tengah berbagai tekanan yang memengaruhi permintaan global.

Pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sepanjang pekan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Pelaku pasar mencermati perkembangan harga minyak nabati pesaing, kondisi ekspor, hingga prospek permintaan dari negara-negara pengimpor utama.

Selain itu, sentimen menjelang libur panjang di Malaysia turut memberikan dukungan terhadap perdagangan kontrak berjangka minyak sawit. Namun, berbagai tantangan masih membayangi pasar sehingga pelaku usaha tetap berhati-hati dalam mengambil posisi.

Harga CPO Naik Meski Ditutup Melemah

Kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 0,04 persen menjadi 4.535 ringgit Malaysia per ton pada Jumat (29/5/2026).

Meski demikian, secara mingguan kontrak tersebut masih mencatat kenaikan sebesar 1,09 persen. Capaian ini memperpanjang tren positif setelah harga minyak sawit juga menguat pada pekan sebelumnya.

Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan pergerakan perdagangan pada hari terakhir pekan lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal. Harga minyak nabati di Bursa Dalian dan pergerakan minyak kedelai menjadi perhatian utama investor.

Selain itu, pasar juga mendapatkan dorongan dari sentimen menjelang libur panjang. Perdagangan futures minyak sawit dijadwalkan tutup pada 1 hingga 2 Juni dan kembali dibuka pada 3 Juni.

Faktor Global Masih Membayangi Pasar

Walaupun harga CPO naik dalam sepekan, kondisi permintaan global masih menjadi perhatian. Data terbaru menunjukkan konsumsi dan impor sejumlah komoditas minyak nabati belum sepenuhnya pulih.

Komisi Eropa melaporkan impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2025-2026 yang dimulai sejak Juli mencapai 11,95 juta ton hingga 24 Mei. Angka tersebut turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, impor minyak sawit Uni Eropa juga mengalami penurunan. Volume impor tercatat sebesar 2,55 juta ton atau turun 4 persen dibandingkan tahun lalu.

Penurunan impor tersebut menunjukkan bahwa permintaan dari kawasan Eropa masih bergerak hati-hati. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang kenaikan harga minyak sawit dalam jangka pendek.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia diperkirakan mencatat penurunan bulanan yang cukup tajam. Pasar merespons laporan mengenai perpanjangan sementara gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Perkembangan tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Karena itu, tekanan terhadap harga energi global juga ikut memengaruhi sentimen di pasar komoditas.

Ekspor Minyak Sawit Masih Menurun

Meski harga CPO naik, kontrak minyak sawit masih berada dalam tren penurunan bulanan kedua secara berturut-turut. Penyebab utamanya adalah lemahnya kinerja ekspor sepanjang Mei.

Menurut data lembaga survei kargo yang dirangkum Trading Economics, ekspor minyak sawit selama periode 1 hingga 25 Mei turun antara 14,5 persen sampai 18 persen dibandingkan April.

Penurunan tersebut terjadi karena tidak adanya lonjakan permintaan musiman yang biasanya muncul saat periode perayaan. Akibatnya, volume pengiriman ke sejumlah pasar utama belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Permintaan India Jadi Sorotan

India sebagai importir minyak sawit terbesar dunia juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Permintaan dari negara tersebut belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang kuat.

Data perdagangan menunjukkan impor minyak sawit India pada April turun hingga 26 persen. Angka tersebut menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir.

Kondisi ini membuat pasar terus memantau kebijakan impor dan perkembangan konsumsi domestik India. Jika permintaan belum pulih, kenaikan harga minyak sawit berpotensi terbatas.

Pemerintah Indonesia Bahas Harga TBS Petani

Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia menggelar pertemuan dengan kelompok petani sawit pada Jumat. Pertemuan tersebut membahas kekhawatiran petani terkait penurunan tajam harga tandan buah segar (TBS).

Petani menilai pelemahan harga TBS dipicu ketidakpastian mengenai rencana pemerintah yang akan menyalurkan seluruh ekspor minyak sawit melalui lembaga negara.

Isu tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi rantai pasok industri sawit nasional. Selain itu, kebijakan yang belum jelas dapat meningkatkan ketidakpastian di tingkat petani maupun pelaku usaha.

Para pelaku pasar kini menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan tersebut. Kejelasan arah regulasi dinilai penting untuk menjaga stabilitas industri sawit Indonesia yang merupakan produsen terbesar dunia.

Prospek Harga CPO Selanjutnya

Secara keseluruhan, harga CPO naik selama dua pekan berturut-turut dan menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Namun, pasar masih menghadapi sejumlah tantangan dari sisi ekspor dan permintaan global.

Beberapa faktor yang akan menjadi perhatian dalam waktu dekat antara lain:

  • Perkembangan ekspor minyak sawit selama Juni.
  • Tingkat permintaan dari India dan Uni Eropa.
  • Pergerakan harga minyak kedelai dan minyak nabati pesaing.
  • Kebijakan pemerintah Indonesia terkait tata niaga ekspor sawit.
  • Arah pergerakan harga minyak mentah dunia.

Apabila permintaan global mulai membaik, harga minyak sawit berpotensi melanjutkan penguatan. Namun, jika ekspor tetap lemah, pasar kemungkinan bergerak lebih terbatas dalam beberapa pekan mendatang.

Penulis :

Dwi Prakoso

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu