RuangInvest.com, Jakarta – Harga batu bara termal diperkirakan masih memiliki ruang untuk bertahan di level tinggi meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Sejumlah faktor fundamental dinilai masih mampu menopang permintaan komoditas energi tersebut dalam beberapa bulan mendatang.
Dukungan terhadap harga batu bara termal datang dari potensi cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung kuat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik di berbagai negara Asia yang menjadi konsumen utama batu bara dunia.
Selain itu, permintaan energi dari China diperkirakan kembali meningkat pada 2026. Negara dengan konsumsi listrik terbesar di dunia itu diproyeksikan kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga pasokan energi di tengah pertumbuhan kebutuhan listrik nasional.
Harga Batu Bara Termal Masih Ditopang Faktor Fundamental
Bank of America (BofA) menilai harga batu bara termal masih memperoleh dukungan meskipun pasar sempat melemah setelah ketegangan di kawasan Teluk mereda.
Menurut lembaga keuangan tersebut, pola cuaca El Nino biasanya menyebabkan kondisi lebih panas dan lebih kering di sebagian wilayah Asia Selatan serta Asia Tenggara. Akibatnya, penggunaan listrik untuk pendingin ruangan meningkat sehingga kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik ikut bertambah.
Harga batu bara Newcastle Australia bahkan sempat menembus level di atas USD150 per ton pada awal Juni 2026. Angka tersebut menjadi level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.
BofA menilai peningkatan konsumsi listrik selama periode cuaca panas berpotensi menjaga keseimbangan pasar batu bara global. Karena itu, tekanan penurunan harga diperkirakan tidak akan terlalu besar dalam jangka pendek.
El Nino Berpotensi Tingkatkan Konsumsi Energi
Fenomena El Nino selama ini identik dengan suhu yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga sektor energi.
Beberapa dampak yang berpotensi muncul antara lain:
- Peningkatan penggunaan pendingin ruangan.
- Lonjakan permintaan listrik rumah tangga.
- Kenaikan konsumsi listrik sektor komersial.
- Bertambahnya kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik.
Karena itu, negara-negara Asia yang masih bergantung pada batu bara berpotensi meningkatkan konsumsi komoditas tersebut selama musim panas berlangsung.
Permintaan China Diproyeksikan Kembali Meningkat
Prospek harga batu bara termal juga mendapat dukungan dari China. Setelah mencatat penurunan pertama dalam satu dekade pada tahun sebelumnya, pembangkitan listrik berbasis batu bara di negara tersebut diperkirakan kembali tumbuh pada 2026.
Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan konsumsi listrik dari pembangkit termal naik 3,4 persen secara tahunan menjadi 2,53 triliun kilowatt-jam pada lima bulan pertama tahun ini.
Mayoritas listrik termal di China masih berasal dari batu bara. Oleh sebab itu, kenaikan produksi listrik termal secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan konsumsi batu bara nasional.
Sejumlah lembaga riset energi juga memperkirakan tren tersebut akan berlanjut. S&P Global Energy dan Wood Mackenzie memproyeksikan pembangkitan listrik berbasis batu bara meningkat masing-masing 1,5 persen dan 2 persen menjadi sekitar 5,4 triliun kWh sepanjang 2026.
Sementara itu, perusahaan analitik energi Kpler memperkirakan konsumsi batu bara China untuk sektor kelistrikan naik sekitar 3 persen menjadi 2,7 miliar ton.
Pengurangan LNG Beri Ruang Bagi Batu Bara
Faktor lain yang mendukung harga batu bara termal adalah perubahan strategi energi China. Negara tersebut disebut mulai mengurangi impor gas alam cair atau LNG untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya energi.
Langkah tersebut berkaitan dengan risiko gangguan distribusi energi global yang melewati Selat Hormuz. Jika biaya LNG meningkat, pembangkit listrik berbasis gas menjadi kurang kompetitif dibandingkan pembangkit batu bara.
S&P Global memperkirakan pembangkitan listrik berbasis gas turun sekitar 12 persen menjadi 300 miliar kWh pada 2026. Penurunan tersebut berpotensi digantikan oleh pembangkit berbahan bakar batu bara.
Penasihat khusus perusahaan konsultan energi Azure International yang berbasis di Beijing, Sharon Feng, mengatakan pembangkit berbasis gas kini lebih banyak berfungsi sebagai pemasok listrik saat beban puncak.
Artinya, pembangkit gas hanya akan dioperasikan ketika permintaan listrik meningkat tajam. Sementara itu, batu bara tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan China.
Tantangan Transisi Energi Masih Besar
Peningkatan konsumsi batu bara menunjukkan bahwa transisi energi China masih menghadapi tantangan besar. Meskipun pemerintah terus mendorong pengembangan energi terbarukan, kebutuhan listrik nasional tumbuh sangat cepat.
Elektrifikasi kendaraan, ekspansi pusat data, dan pertumbuhan industri manufaktur menjadi faktor utama yang meningkatkan konsumsi listrik.
Selain itu, penggunaan pendingin ruangan diperkirakan terus meningkat seiring potensi suhu yang lebih tinggi akibat El Nino. Di sisi lain, pemulihan ekspor China juga turut mendorong aktivitas industri yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut membuat batu bara masih memainkan peran penting dalam sistem energi China. Karena itu, prospek harga batu bara termal dalam jangka menengah diperkirakan tetap mendapat dukungan dari permintaan Asia, terutama China dan negara-negara berkembang lainnya.
Dengan kombinasi faktor cuaca, pertumbuhan konsumsi listrik, dan perubahan bauran energi di China, pasar batu bara global diperkirakan masih akan tetap menarik untuk dicermati sepanjang 2026.





