JAKARTA, RuangInvest.com – GOTO keluar dari MSCI setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan menghapus PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dari MSCI Indonesia Index.
Keputusan tersebut berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026. Namun, keluarnya GOTO dari indeks global tidak membuat saham tersebut langsung terlempar dari seluruh indeks saham di Indonesia.
GOTO masih tercatat sebagai konstituen sejumlah indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Di antaranya LQ45, IDX30, IDX80, dan KOMPAS100. Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan kriteria antara MSCI dan BEI dalam memilih saham untuk masuk ke dalam indeks.
GOTO Keluar dari MSCI karena Likuiditas
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa persoalan likuiditas menjadi faktor utama di balik keputusan MSCI.
Menurutnya, MSCI secara resmi menghapus GOTO dari MSCI Indonesia Index dalam review Agustus 2026. Penghapusan tersebut akan berlaku setelah perdagangan 31 Agustus 2026 berakhir.
Salah satu persoalan muncul karena saham GOTO telah bertahan di level Rp50 sejak pertengahan Mei 2026. Harga tersebut merupakan batas bawah harga saham di Bursa Efek Indonesia.
Kondisi itu membuat ruang pergerakan harga saham menjadi sangat terbatas. Akibatnya, proses pembentukan harga atau price discovery juga menghadapi kendala.
Investor besar pun dapat mengalami kesulitan ketika ingin membeli atau menjual GOTO dalam jumlah besar. Kondisi tersebut semakin berpengaruh terhadap likuiditas perdagangan saham.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga mengatakan, likuiditas GOTO mengalami penurunan signifikan setelah harga saham mencapai Rp50.
Sebelum berada di level tersebut, nilai transaksi harian GOTO di pasar reguler disebut masih berada pada kisaran Rp300 miliar hingga Rp400 miliar.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, rata-rata transaksi harian turun di bawah Rp50 miliar. Bahkan, nilainya belakangan berada di kisaran Rp3 miliar per hari.
Mengapa GOTO Masih Bertahan di LQ45?
Meski GOTO keluar dari MSCI, saham tersebut masih bertahan dalam LQ45. Perbedaan ini terjadi karena MSCI dan BEI memiliki metodologi yang tidak sama.
MSCI mempunyai cakupan saham atau universe serta persyaratan likuiditas tersendiri. Sementara itu, indeks yang disusun BEI menggunakan sejumlah kriteria yang ditetapkan berdasarkan metodologi masing-masing.
Karena itu, sebuah saham dapat memenuhi persyaratan indeks domestik, tetapi belum tentu memenuhi persyaratan indeks MSCI.
GOTO saat ini masih tercatat dalam LQ45, IDX30, IDX80, dan KOMPAS100. Pemilihan saham dalam indeks tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain:
- Likuiditas transaksi saham di pasar reguler.
- Kapitalisasi pasar dan free float.
- Kinerja keuangan perusahaan.
- Tingkat kepatuhan terhadap ketentuan bursa.
- Berbagai pertimbangan kuantitatif dan kualitatif lainnya.
Dengan demikian, keluarnya GOTO dari MSCI tidak otomatis berarti saham tersebut kehilangan seluruh statusnya dalam indeks saham domestik.
Fundamental GOTO Mulai Menunjukkan Perbaikan
Di tengah persoalan likuiditas saham, kondisi fundamental perusahaan justru mulai menunjukkan perkembangan positif.
Pada kuartal I 2026, GOTO mencatat laba bersih sebesar Rp171 miliar. Selain itu, adjusted EBITDA mencapai Rp907 miliar.
Angka tersebut tumbuh 131 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Perusahaan juga mencatat adjusted free cash flow positif sebesar Rp1,3 triliun.
Manajemen GOTO memberikan panduan adjusted EBITDA untuk sepanjang 2026. Target tersebut berada pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Namun, perbaikan kinerja tersebut belum otomatis membuat valuasi saham menjadi menarik. Struktur pasar dan likuiditas masih menjadi perhatian investor.
Dengan kata lain, fundamental perusahaan dapat membaik, tetapi perdagangan saham tetap menghadapi tantangan. Harga Rp50 juga tidak serta-merta menjadi indikator bahwa saham tersebut murah.
Karena itu, investor perlu melihat kondisi perusahaan secara menyeluruh. Kinerja keuangan, prospek bisnis, likuiditas, serta struktur perdagangan saham perlu menjadi pertimbangan.
Dampak GOTO Keluar dari MSCI bagi Investor
Keputusan MSCI berpotensi memberikan tekanan terhadap saham GOTO. Salah satu dampaknya berkaitan dengan pengelola dana pasif yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.
Dana pasif umumnya menyusun portofolio berdasarkan komposisi indeks acuannya. Ketika sebuah saham keluar dari indeks, pengelola dana tersebut perlu melakukan penyesuaian portofolio.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan aksi jual ketika perubahan komposisi MSCI mulai berlaku. Tekanan tersebut dikenal sebagai forced selling karena terjadi akibat perubahan acuan investasi.
Namun, seluruh investor GOTO tidak berasal dari dana pasif global. Saham ini juga dimiliki investor strategis, investor ritel, serta investor aktif.
Selain itu, GOTO masih bertahan di LQ45, IDX30, dan IDX80. Karena itu, investor domestik yang menggunakan indeks tersebut sebagai acuan masih dapat mempertahankan saham GOTO dalam portofolionya.
Reksa dana, dana pensiun, hingga perusahaan asuransi yang menggunakan indeks domestik sebagai acuan juga dapat tetap memiliki eksposur terhadap GOTO.
Kondisi tersebut membuat keluarnya saham dari MSCI tidak otomatis menyebabkan seluruh investor melepas kepemilikannya.
Investor Perlu Mencermati Perdagangan Setelah 31 Agustus
Analis menilai investor perlu memperhatikan kemampuan pasar menyerap tekanan jual setelah perubahan MSCI berlaku efektif.
Jika tekanan jual dari investor asing mulai mereda, investor domestik berpotensi menyerap sebagian pasokan saham. Kondisi tersebut dapat membantu perdagangan kembali lebih stabil.
Di sisi lain, fundamental perusahaan juga menjadi faktor penting. Jika kinerja GOTO terus membaik, tekanan akibat perubahan indeks dapat menjadi perhatian jangka pendek.
Meskipun begitu, investor tetap perlu berhati-hati. Hilangnya permintaan pasif dari investor yang mengikuti MSCI dapat memberikan dampak lebih struktural terhadap likuiditas saham.
Karena itu, investor tidak sebaiknya hanya melihat harga GOTO yang berada di level Rp50. Harga rendah secara nominal belum tentu menunjukkan valuasi yang menarik.
Perkembangan transaksi harian, jumlah saham beredar, minat investor, serta kinerja keuangan perlu diamati secara bersamaan.
Keputusan GOTO keluar dari MSCI pada akhirnya lebih berkaitan dengan persoalan teknis perdagangan dan persyaratan indeks. Perusahaan sendiri menilai keputusan tersebut tidak disebabkan oleh memburuknya kinerja bisnis.
Head of Corporate Affairs GoTo Audrey Petriny sebelumnya menyatakan bahwa keputusan MSCI berkaitan dengan kondisi perdagangan saham. Harga GOTO yang berada di level Rp50 disertai penurunan volume transaksi menjadi faktor yang diperhatikan.
Dengan demikian, investor menghadapi situasi yang cukup unik. Di satu sisi, saham GOTO kehilangan posisi di indeks global. Di sisi lain, perusahaan masih mencatat perbaikan fundamental dan tetap menjadi bagian dari sejumlah indeks utama BEI.
Perkembangan setelah 31 Agustus 2026 akan menjadi perhatian penting. Pasar akan melihat seberapa besar tekanan jual akibat perubahan indeks serta kemampuan investor domestik menyerap transaksi.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Keputusan investasi merupakan tanggung jawab masing-masing investor. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.










