Jakarta – GOTO keluar dari indeks MSCI mulai 1 September 2026. Keputusan tersebut menjadi perhatian investor di tengah kinerja keuangan GoTo yang justru menunjukkan perbaikan pada semester I 2026.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat laba bersih Rp607,48 miliar sepanjang enam bulan pertama 2026. Hasil ini menjadi perubahan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada semester I 2025, perusahaan masih mencatat rugi bersih Rp580,01 miliar. Karena itu, perubahan menjadi laba menjadi salah satu catatan penting dalam perkembangan kinerja perusahaan teknologi tersebut.
GOTO Keluar dari Indeks MSCI Mulai September
Keputusan GOTO keluar dari indeks MSCI menjadi perhatian pelaku pasar. MSCI Inc. menetapkan perubahan komposisi indeks yang berlaku mulai 1 September 2026.
Keluarnya saham GOTO dari MSCI Global Standard Index tidak terjadi ketika perusahaan sedang mengalami penurunan kinerja keuangan. Sebaliknya, perseroan mencatat sejumlah perkembangan positif sepanjang semester pertama tahun ini.
Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny, mengatakan perusahaan memahami keputusan tersebut menjadi perhatian pemegang saham.
Namun, menurut perseroan, keputusan MSCI lebih berkaitan dengan aspek teknis perdagangan saham. Kondisi tersebut dinilai tidak secara langsung menggambarkan fundamental bisnis GoTo.
GoTo juga memastikan tetap melakukan komunikasi dengan MSCI. Perseroan akan terus mengikuti proses peninjauan indeks yang dilakukan secara berkala.
Langkah tersebut penting karena perubahan indeks global dapat menjadi perhatian investor institusi. Selain itu, komposisi indeks dapat memengaruhi minat dan aktivitas perdagangan terhadap saham yang masuk atau keluar dari indeks.
Kinerja GoTo Berbalik Menjadi Laba
Di tengah kabar tersebut, kinerja keuangan GoTo pada semester I 2026 menunjukkan perkembangan positif. Perseroan berhasil mencatat laba bersih Rp607,48 miliar.
Pencapaian itu berbanding terbalik dengan kondisi pada semester I 2025. Saat itu, perusahaan membukukan rugi bersih sebesar Rp580,01 miliar.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya perbaikan dalam pengelolaan bisnis. Pertumbuhan pendapatan juga berjalan lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya dan beban.
GoTo mencatat pendapatan bersih Rp10,99 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 28,45 persen dibandingkan pendapatan Rp8,55 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, biaya dan beban perseroan tercatat Rp10,21 triliun. Nilai tersebut meningkat 16,87 persen secara tahunan dari Rp8,73 triliun.
Perbedaan laju pertumbuhan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung perbaikan hasil keuangan. Pendapatan tumbuh lebih tinggi daripada biaya dan beban.
Dengan demikian, perseroan mampu memperbaiki posisi keuangan. Dari sebelumnya mencatat kerugian, GoTo kemudian membukukan laba pada paruh pertama 2026.
EBITDA GoTo Tembus Rp1 Triliun
Selain laba bersih, indikator operasional GoTo juga menunjukkan perkembangan yang cukup kuat. EBITDA Grup yang disesuaikan untuk pertama kalinya mencapai lebih dari Rp1 triliun.
Pencapaian tersebut menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam memperbaiki efisiensi. EBITDA yang meningkat juga menunjukkan kemampuan bisnis menghasilkan kinerja operasional yang lebih baik.
GoTo menilai pencapaian semester pertama tersebut masih sejalan dengan target tahunan. Perseroan mempertahankan panduan EBITDA Grup yang disesuaikan untuk 2026.
Target tersebut berada pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Karena itu, kinerja enam bulan pertama menjadi modal penting untuk mengejar sasaran sampai akhir tahun.
Meski demikian, kondisi pasar tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Perubahan aktivitas perdagangan saham, kondisi ekonomi, serta perkembangan bisnis digital dapat memengaruhi kinerja perseroan.
Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan menunjukkan bahwa bisnis utama GoTo masih memiliki ruang untuk berkembang. Perseroan juga perlu mempertahankan efisiensi agar pertumbuhan tersebut dapat terus menghasilkan peningkatan profitabilitas.
Aset GoTo Capai Rp47,47 Triliun
Dari sisi neraca, total aset GoTo mencapai Rp47,47 triliun per 30 Juni 2026. Nilai tersebut mencerminkan posisi keuangan perseroan pada akhir semester pertama.
Total aset menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan ketika melihat kondisi perusahaan secara keseluruhan. Namun, investor tetap perlu melihatnya bersama dengan liabilitas, ekuitas, pendapatan, dan laba.
Perseroan mencatat total aset tersebut sama dengan jumlah liabilitas dan ekuitas pada tanggal yang sama. Kondisi ini mencerminkan posisi neraca perusahaan pada akhir periode pelaporan.
Sementara itu, perubahan dari rugi menjadi laba menjadi salah satu sorotan utama kinerja semester I 2026. Pertumbuhan pendapatan juga memberikan sinyal positif terhadap perkembangan bisnis.
Namun, keluarnya saham GOTO dari indeks MSCI tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Investor perlu memisahkan antara aspek fundamental perusahaan dan faktor teknis yang berkaitan dengan indeks saham.
Investor Perlu Mencermati Dua Perkembangan
Kinerja semester I 2026 dan perubahan komposisi MSCI menjadi dua perkembangan penting bagi saham GOTO. Keduanya dapat memberikan perspektif berbeda bagi investor.
Di satu sisi, peningkatan pendapatan dan perubahan menjadi laba menunjukkan perbaikan fundamental. EBITDA yang menembus Rp1 triliun juga memperkuat gambaran tersebut.
Di sisi lain, GOTO keluar dari indeks MSCI mulai September dapat memengaruhi perhatian pasar terhadap saham perseroan. Dampaknya terhadap aktivitas perdagangan akan menjadi perkembangan yang perlu dipantau.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat satu indikator. Kinerja keuangan, pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, efisiensi, serta perkembangan perdagangan saham perlu diperhatikan secara bersamaan.
Beberapa indikator penting dari kinerja GoTo pada semester I 2026 antara lain:
- Laba bersih mencapai Rp607,48 miliar.
- Periode sebelumnya mencatat rugi Rp580,01 miliar.
- Pendapatan bersih mencapai Rp10,99 triliun.
- Pendapatan tumbuh 28,45 persen secara tahunan.
- Biaya dan beban mencapai Rp10,21 triliun.
- Biaya dan beban tumbuh 16,87 persen secara tahunan.
- EBITDA Grup yang disesuaikan menembus Rp1 triliun.
- Target EBITDA Grup 2026 berada di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
- Total aset per 30 Juni 2026 mencapai Rp47,47 triliun.
Dengan perkembangan tersebut, GoTo menghadapi semester kedua 2026 dengan dua agenda besar. Perseroan perlu mempertahankan perbaikan fundamental sekaligus merespons perhatian pasar setelah perubahan indeks MSCI.
Meskipun GOTO keluar dari indeks MSCI, perseroan tetap menegaskan fokus pada pengembangan bisnis. Kinerja semester pertama menjadi dasar penting untuk mengejar target tahunan.
Selanjutnya, kemampuan GoTo menjaga pertumbuhan pendapatan dan meningkatkan efisiensi akan menjadi perhatian. Hasil kinerja pada semester II 2026 juga akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah tren positif tersebut dapat dipertahankan.








