RuangInvest.com – Jakarta – Divestasi aset fiber Indosat menjadi langkah strategis yang dilakukan PT Indosat Tbk (ISAT) untuk memperkuat infrastruktur digital nasional. Melalui transaksi senilai Rp11,7 triliun, perusahaan menggandeng Arsari Group dalam pengelolaan jaringan fiber berbasis open access yang diharapkan mampu mempercepat transformasi digital Indonesia.
Langkah tersebut tidak hanya menjadi aksi korporasi bernilai besar, tetapi juga menunjukkan perubahan strategi bisnis Indosat. Perseroan memilih bermitra dengan investor strategis agar pengembangan jaringan fiber dapat berlangsung lebih cepat sekaligus menciptakan efisiensi operasional.
Selain itu, kolaborasi ini dipandang sebagai salah satu fondasi penting dalam mendukung kebutuhan konektivitas yang terus meningkat. Pertumbuhan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), pusat data, hingga ekonomi digital membutuhkan jaringan fiber yang semakin luas dan andal.
Divestasi Aset Fiber Indosat Perkuat Infrastruktur Digital
PT Indosat Tbk bersama anak usahanya, PT Aplikasinusa Lintasarta, resmi mengalihkan 84,9 persen saham PT Infra Fiber Teknologi (IFT) kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT) yang merupakan bagian dari Arsari Group. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp11,7 triliun.
Sementara itu, sisa kepemilikan sebesar 15,1 persen diinbreng ke dalam NFT. Dengan skema tersebut, Indosat tetap mempertahankan kepemilikan efektif sebesar 49,68 persen di IFT. Rinciannya terdiri atas kepemilikan Indosat sebesar 49,1 persen dan PT Aplikasinusa Lintasarta sebesar 0,8 persen.
Di sisi lain, mayoritas kepemilikan IFT kini berada di bawah PT Ainfrastruktur Indonesia Raya (AIR) sebesar 50,1 persen yang dimiliki Arsari Group bersama Northstar. Melalui struktur baru tersebut, NFT menjadi pemegang kendali utama perusahaan.
Transaksi ini juga didampingi oleh Citi yang bertindak sebagai penasihat keuangan Indosat selama proses divestasi berlangsung.
IFT Kelola Lebih dari 86.000 Kilometer Jaringan Fiber
Setelah transaksi rampung, PT Infra Fiber Teknologi akan beroperasi sebagai platform independen yang mengelola lebih dari 86.000 kilometer jaringan fiber optik di Indonesia.
Jaringan tersebut meliputi:
- Backbone fiber nasional.
- Kabel fiber bawah laut domestik.
- Jaringan akses untuk berbagai wilayah.
- Infrastruktur berbasis model open access.
Melalui konsep open access, IFT tidak hanya melayani Indosat. Perusahaan juga membuka peluang kerja sama dengan operator telekomunikasi lain, perusahaan, hyperscaler, hingga penyedia layanan digital.
Model bisnis tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi investasi infrastruktur. Selain itu, berbagai pelaku industri dapat memanfaatkan jaringan yang sama tanpa harus membangun infrastruktur baru secara terpisah.
Komitmen Dorong Transformasi Digital Indonesia
President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengatakan pembentukan IFT merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat melalui teknologi.
Menurutnya, kehadiran platform fiber independen akan mempercepat pemerataan manfaat AI, cloud, serta berbagai layanan digital generasi terbaru bagi masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Deputy CEO & COO Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo, menilai daya saing bangsa sangat bergantung pada pemerataan akses terhadap infrastruktur digital. Karena itu, pihaknya berkomitmen menghadirkan kepemimpinan yang mampu membangun jaringan berskala besar sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Presiden Direktur PT Infra Fiber Teknologi, Hendry Syam, menambahkan bahwa fokus utama perusahaan bukan hanya memperkuat wilayah yang sudah memiliki konektivitas baik.
Sebaliknya, IFT akan mempercepat pembangunan jaringan di berbagai daerah yang selama ini masih minim layanan internet berkualitas. Dengan demikian, masyarakat serta pelaku usaha di berbagai wilayah dapat memperoleh akses digital yang lebih andal.
Selain memperluas cakupan jaringan, perusahaan juga akan memperkuat kemitraan wholesale dengan operator telekomunikasi dan hyperscaler. Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan menghadapi lonjakan kebutuhan konektivitas berkapasitas tinggi yang didorong perkembangan teknologi AI.
Prospek Investor terhadap Divestasi Aset Fiber Indosat
Bagi investor, divestasi aset fiber Indosat dinilai sebagai langkah strategis yang berpotensi memberikan nilai tambah dalam jangka panjang.
Beberapa faktor yang patut diperhatikan antara lain:
- Indosat memperoleh dana segar sebesar Rp11,7 triliun yang dapat digunakan untuk memperkuat neraca keuangan maupun investasi bisnis utama.
- Perseroan tetap memiliki kepemilikan hampir 50 persen sehingga masih berpeluang menikmati pertumbuhan nilai IFT pada masa mendatang.
- Model open access membuka peluang peningkatan pendapatan dari berbagai operator dan perusahaan digital.
- Permintaan terhadap jaringan fiber diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan AI, cloud computing, pusat data, serta layanan digital nasional.
- Pengembangan wilayah yang belum terlayani berpotensi memperluas pasar infrastruktur digital Indonesia.
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati proses integrasi bisnis, realisasi ekspansi jaringan, serta kemampuan IFT memperoleh pelanggan baru. Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu keberhasilan strategi jangka panjang perusahaan.
Secara keseluruhan, aksi korporasi ini menunjukkan perubahan pendekatan Indosat dalam mengembangkan bisnis infrastruktur. Perseroan tidak lagi hanya berfokus sebagai operator telekomunikasi, tetapi juga membangun ekosistem digital melalui kemitraan strategis.
Apabila pengembangan jaringan berjalan sesuai rencana, kolaborasi antara Indosat dan Arsari Group berpotensi mempercepat transformasi digital nasional sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan baru bagi industri telekomunikasi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.





