Jumat, 30 Oktober 2026Berita Seputar Investasi Terbaru
RuangInvest.com
Berita Seputar Investasi Terbaru

Proyek Data Center AI Jatiluhur Disetop, Investor Bisa Kabur

Oleh Dwi Prakoso · Oktober 4, 2026 · 5:50 pm
Daftar Isi 5 bagian

Ruanginvest.com – Jatiluhur, Jawa Barat, penghentian proyek data center berbasis kecerdasan buatan atau AI milik BDx di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, memicu perhatian terhadap iklim investasi Indonesia. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghentikan proyek tersebut di tengah rencana pengembangan pusat data bernilai sekitar Rp3,5 triliun.

Proyek tersebut menempati lahan sekitar 8.000 meter persegi. Area itu menjadi bagian dari kawasan pengembangan yang memiliki luas sekitar 11 hektare. Pemerintah sebelumnya juga menargetkan investasi data center AI hingga Rp360 triliun masuk ke Indonesia.

Namun, keputusan penghentian proyek memunculkan kekhawatiran dari kalangan ekonom. Mereka menilai kepastian kebijakan menjadi faktor penting bagi investor, terutama dalam sektor teknologi yang membutuhkan modal besar dan perencanaan jangka panjang.

Proyek Data Center AI Jatiluhur Picu Kekhawatiran Investasi

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF, Didik J Rachbini, menilai penghentian proyek secara sepihak dapat mengganggu iklim investasi. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam keterangan tertulis pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Menurut Didik, Indonesia membutuhkan investasi besar untuk membangun ekosistem pusat data. Terlebih lagi, perkembangan AI meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi, penyimpanan data, dan jaringan listrik yang stabil.

Sementara itu, Indonesia saat ini memiliki 182 data center. Sebagian besar pusat data tersebut beroperasi di Jakarta dan Batam. Pemerintah juga menetapkan beberapa kawasan sebagai lokasi pengembangan data center, yaitu Batam, Jawa Barat, Madura, dan Bali.

Karena itu, kepastian regulasi di setiap daerah menjadi perhatian penting. Investor membutuhkan kepastian mengenai lahan, lingkungan, pasokan air, energi, serta proses perizinan sebelum menanamkan modal dalam jumlah besar.

Didik Soroti Risiko Indonesia Kehilangan Investasi Teknologi

Didik mengingatkan Indonesia pernah kehilangan peluang besar dalam industri semikonduktor. Pada era 1970-an hingga awal 1980-an, Indonesia sempat menjadi salah satu pemain penting industri tersebut di Asia Tenggara.

Sejumlah perusahaan teknologi global seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto pernah membangun fasilitas perakitan chip di Jakarta dan Bandung. Namun, investasi tersebut kemudian berhenti akibat perubahan kebijakan mengenai otomatisasi produksi.

Menurut Didik, kebijakan pada 1985 mendorong penggunaan tenaga kerja manual dan membatasi otomatisasi. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan teknologi yang mengandalkan proses produksi modern.

Akibatnya, sejumlah investasi kemudian berpindah ke Penang, Malaysia. Seiring waktu, Malaysia memperkuat posisinya dalam industri semikonduktor. Negara tersebut kini menguasai sekitar 13% pangsa pasar global untuk aktivitas pengujian, perakitan, dan pengemasan chip.

Didik melihat kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan tantangan investasi data center di Jawa Barat. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan kebijakan daerah tetap mendukung kepastian usaha dan tidak menghambat investasi yang sudah berjalan.

Batam Berpeluang Jadi Hub Data Center AI

Di sisi lain, Batam memiliki peluang besar untuk mengambil porsi investasi pusat data di kawasan Asia Tenggara. Salah satu faktornya adalah keterbatasan lahan dan energi di Singapura yang mulai membatasi pembangunan data center baru.

Rencana investasi data center di Batam diperkirakan mencapai US$15 miliar hingga US$20 miliar. Pengembangan tersebut menargetkan kapasitas sekitar 1,3 gigawatt.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Batam yang berada di sekitar 7% dapat memperkuat posisi wilayah tersebut sebagai pusat pertumbuhan baru. Investasi pusat data juga berpotensi mendorong kebutuhan infrastruktur pendukung, energi, jaringan internet, dan tenaga kerja teknologi.

Sejumlah perusahaan telah menyampaikan rencana investasi di sektor tersebut. Salah satunya mencakup investasi US$1,7 miliar untuk pengembangan infrastruktur cloud dan AI di Indonesia.

Sementara itu, AWS memiliki komitmen investasi sebesar US$5 miliar. Firmus juga tengah membangun kampus data center di Batam dengan target kapasitas hingga 170.000 akselerator AI.

Kapasitas Data Center Indonesia Diproyeksikan Naik

Secara nasional, kebutuhan pusat data diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital. Kapasitas data center Indonesia diproyeksikan menembus 2.000 megawatt pada 2030.

Bank Dunia memperkirakan permintaan data center tumbuh rata-rata 16,8% per tahun. Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan komputasi dari layanan digital, cloud, dan pengembangan kecerdasan buatan.

Indonesia juga memiliki basis pengguna internet yang besar. Lebih dari 200 juta masyarakat Indonesia menggunakan internet. Kondisi tersebut menjadi salah satu modal penting untuk pengembangan ekonomi digital dan infrastruktur AI.

Namun, peluang tersebut membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten. Investor tidak hanya mempertimbangkan ukuran pasar, tetapi juga kepastian regulasi, ketersediaan energi, akses lahan, air, jaringan, dan hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

Oleh karena itu, penghentian proyek data center AI di Jatiluhur menjadi perhatian bagi perkembangan investasi sektor teknologi. Pemerintah perlu mencari keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan kebutuhan menjaga kepastian investasi.

Kepastian Kebijakan Jadi Faktor Penting bagi Investor

Didik meminta pemerintah segera mengantisipasi hambatan yang muncul dari pemerintah daerah. Menurutnya, daerah perlu membangun kebijakan yang ramah investasi tanpa mengabaikan aspek lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Langkah tersebut penting karena investasi data center membutuhkan modal besar dan waktu pembangunan yang panjang. Investor juga perlu menghitung risiko operasional sebelum menentukan lokasi proyek.

Dengan demikian, kebijakan yang konsisten dapat membantu Indonesia memanfaatkan peluang pertumbuhan pusat data dan AI. Sebaliknya, ketidakpastian kebijakan dapat membuat investor mempertimbangkan negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Bagi pasar investasi, perkembangan sektor data center tetap menjadi perhatian karena kebutuhan infrastruktur digital terus meningkat. Namun, kemampuan Indonesia menarik modal akan sangat bergantung pada kepastian aturan dan kesiapan setiap daerah dalam menerima investasi teknologi.

[/CONTENT]

Tag:

Suka berbagi informasi finansial :)