Rupiah Berpeluang Menguat ke Rp17.600–Rp17.750 per Dolar AS

Jaya Purnama

Rupiah Berpeluang Menguat ke Rp17.600–Rp17.750 per Dolar AS
Ilustrasi: Rupiah Berpeluang Menguat Ke Rp17.600–Rp17.750 Per Dolar AS

Ruanginvest.comJAKARTA, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp17.600–Rp17.750 per dolar AS pada pekan depan setelah sinyal dovish dari Federal Reserve menekan mata uang Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah menguat 0,21% atau 37 poin menjadi Rp17.642 per dolar AS. Dalam sepekan, nilai tukar rupiah mencatat apresiasi 0,28% atau 50 poin.

Penguatan tersebut berlangsung ketika pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini. Pernyataan bernada dovish dari pejabat bank sentral AS turut menekan dolar dan imbal hasil obligasi.

Rupiah Berpeluang Menguat, tetapi Risiko El Niño Membayangi

Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan inflasi domestik masih terkendali. Ia juga menyerukan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, bank sentral, pelaku usaha, dan ekonom untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Namun, penguatan rupiah berpotensi tertahan oleh kekhawatiran terhadap fenomena El Niño. Gangguan cuaca tersebut dapat memengaruhi pasokan pangan dan mendorong kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang.

Pasar Menanti Data Ekonomi Indonesia

Investor akan mencermati sejumlah data ekonomi pada pekan depan. Data tersebut mencakup cadangan devisa Indonesia untuk Agustus, indeks keyakinan konsumen, dan penjualan ritel Juli 2026.

Rilis data itu dapat memberikan petunjuk mengenai kekuatan permintaan domestik serta arah kebijakan moneter. Karena itu, pasar diperkirakan tetap berhati-hati meskipun rupiah berada dalam tren positif.

Rupiah Menguat Lima Pekan Berturut-turut

Trading Economics menyebut rupiah berada di jalur penguatan selama lima minggu berturut-turut. Kenaikannya tercatat sekitar 0,25% hingga akhir pekan tersebut.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan dolar setelah komentar dovish pejabat The Fed menjadi pendorong utama rupiah. Menurut dia, investor akan mengantisipasi rilis data cadangan devisa Indonesia pada perdagangan Senin (7/9/2026).

Sementara itu, ekspektasi kebijakan The Fed juga mendorong kenaikan pasar saham Amerika Serikat. Saham di hampir seluruh indeks S&P 500 menguat setelah pernyataan Christopher Waller menurunkan imbal hasil obligasi.

Penulis :

Jaya Purnama

TOPIK :

Home Trending Explore Discover Menu
Crypto Winter Terdingin, Ancaman atau Ujian Kedewasaan Kripto?

Crypto Winter Terdingin, Ancaman atau Ujian Kedewasaan Kripto?

Kunjungi Artikel