RuangInvest.com, Jakarta – IHSG menguat jelang MSCI review Agustus 2026 pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Investor mulai mencermati potensi perubahan konstituen indeks MSCI Indonesia.
Penguatan terjadi setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi selama dua sesi perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar kini menunggu hasil MSCI Index Review Agustus 2026 yang menjadi salah satu sentimen penting bagi pasar saham Indonesia.
Pada pukul 09.34 WIB, IHSG tercatat naik 0,85 persen ke level 6.321. Nilai transaksi mencapai Rp2,87 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 7,47 miliar saham.
Sebanyak 420 saham bergerak naik. Sementara itu, 148 saham melemah dan 395 saham lainnya stagnan.
Penguatan tersebut menunjukkan adanya upaya rebound setelah IHSG mengalami tekanan cukup besar. Pada Selasa (11/8), indeks bahkan turun 1,53 persen dalam satu hari perdagangan.
Perhatian investor kini beralih pada agenda MSCI. Pengumuman hasil review dijadwalkan pada 12 Agustus 2026 berdasarkan kalender resmi MSCI. Implementasi perubahan dijadwalkan berlaku mulai 1 September 2026.
Namun, untuk pasar Indonesia, perhatian terhadap review kali ini tidak hanya berkaitan dengan perubahan bobot. Likuiditas, free float, struktur kepemilikan, serta risiko perubahan status sejumlah saham juga menjadi perhatian.
MSCI sebelumnya mempertahankan sejumlah pembatasan terhadap saham Indonesia. Langkah tersebut mencakup pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor atau FIF dan Number of Shares atau NOS.
MSCI juga menyatakan tidak akan menerapkan penambahan saham ke MSCI Investable Market Index serta tidak melakukan migrasi naik antarkelompok ukuran. Kebijakan tersebut tetap berlaku dalam August 2026 Index Review.
IHSG Menguat Jelang MSCI Review Agustus 2026
Pergerakan IHSG pada awal perdagangan Rabu memperlihatkan respons positif investor menjelang pengumuman MSCI. Pelaku pasar tampaknya mulai melakukan positioning pada sejumlah saham yang dinilai memiliki katalis dari hasil review.
Meski demikian, penguatan indeks belum bisa diartikan sebagai kepastian bahwa semua saham akan memperoleh dampak positif. Pasar masih menghadapi potensi perubahan konstituen.
Kondisi tersebut membuat pergerakan saham menjadi lebih selektif. Saham dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi menjadi perhatian utama.
Di sisi lain, saham yang memiliki hubungan dengan kelompok usaha besar juga bergerak cukup agresif. Beberapa saham dari kelompok Barito dan Bakrie tercatat menghijau pada awal perdagangan.
Sentimen tersebut terlihat dari penguatan PT Petrosea Tbk (PTRO). Saham PTRO naik 6,49 persen ke Rp5.250 per saham.
Kinerja tersebut juga memperpanjang tren positif PTRO dalam sepekan. Saham perusahaan jasa pertambangan tersebut telah menguat 10,53 persen dalam periode tersebut.
Penguatan PTRO menjadi perhatian karena saham ini memiliki eksposur terhadap sektor pertambangan dan jasa energi. Selain itu, pergerakannya turut mencerminkan minat investor terhadap saham yang berhubungan dengan tema komoditas.
Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga mencatat kenaikan cukup besar. Saham yang terafiliasi dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu tersebut naik 6,25 persen ke Rp765.
Dalam sepekan, saham CUAN telah menguat 13,33 persen. Kinerja tersebut membuat CUAN menjadi salah satu saham yang cukup menonjol di tengah perhatian pasar terhadap MSCI.
Penguatan CUAN juga berlangsung setelah adanya transaksi pembelian saham oleh Prajogo Pangestu. Berdasarkan informasi yang menjadi materi pemberitaan, Prajogo menambah kepemilikannya sebanyak 51,7 juta saham pada 11 Agustus 2026.
Transaksi tersebut dilakukan secara tidak langsung untuk tujuan investasi pribadi. Setelah transaksi, kepemilikan Prajogo meningkat menjadi sekitar 90,40 miliar saham.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 80,42 persen hak suara. Sebelumnya, kepemilikannya tercatat sekitar 90,35 miliar saham atau setara 80,37 persen hak suara.
Tambahan kepemilikan tersebut memberikan sentimen tersendiri terhadap saham CUAN. Investor biasanya mencermati transaksi dari pemegang saham utama sebagai salah satu informasi yang dapat memengaruhi persepsi pasar.
Namun, transaksi pemegang saham utama tetap perlu dilihat bersama kondisi fundamental dan valuasi perusahaan. Karena itu, kenaikan harga saham tidak otomatis menunjukkan perubahan fundamental dalam jangka pendek.
Saham Barito Ramai Diperhatikan Investor
Selain CUAN dan PTRO, sejumlah saham yang terafiliasi dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu juga bergerak positif.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 3,93 persen ke Rp3.440 per saham. Sementara itu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menguat 3,70 persen ke Rp700.
Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga naik 3,57 persen ke Rp1.885. Pergerakan BRPT menjadi perhatian karena saham tersebut berkaitan langsung dengan ekspektasi investor terhadap MSCI.
BRPT sebelumnya menjadi salah satu saham yang dipantau menjelang review. Maybank Sekuritas memperkirakan saham tersebut tetap bertahan dalam MSCI Global Standard.
Jika perkiraan tersebut terealisasi, kondisi itu berpotensi menjadi katalis positif bagi BRPT. Sebab, keberadaan sebuah saham dalam indeks global dapat menjaga eksposur terhadap investor institusi yang menggunakan indeks sebagai acuan.
Namun, dampak terhadap harga saham tetap bergantung pada keputusan MSCI dan respons pelaku pasar. Investor juga perlu melihat apakah perubahan tersebut sudah tercermin dalam harga sebelum pengumuman.
Kondisi seperti ini sering membuat pasar bergerak lebih volatil. Sebagian investor memilih membeli saham sebelum pengumuman.
Sebagian lainnya justru menunggu keputusan resmi. Strategi tersebut bertujuan menghindari risiko pergerakan harga yang terlalu cepat setelah hasil review diumumkan.
Sementara itu, penguatan saham Barito lainnya memperlihatkan sentimen yang cukup merata. TPIA, misalnya, naik 2,42 persen ke Rp2.120.
Pergerakan tersebut menarik perhatian karena TPIA juga memiliki keterkaitan dengan kelompok usaha Prajogo Pangestu. Namun, kenaikan harga tidak boleh langsung dikaitkan hanya dengan MSCI.
Ada berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi saham. Faktor tersebut mencakup kondisi industri, harga komoditas, kinerja keuangan, aksi korporasi, serta sentimen pasar global.
Karena itu, investor perlu membedakan antara katalis jangka pendek dan prospek fundamental perusahaan.
Saham Bakrie Ikut Menghijau
Selain kelompok Barito, saham yang berafiliasi dengan kelompok Bakrie juga bergerak positif pada awal perdagangan.
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) naik 3,03 persen ke Rp102 per saham. Kemudian, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menguat 4,37 persen ke Rp1.315.
Penguatan juga terjadi pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham tersebut naik 1,69 persen ke Rp181.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turut menguat 1,67 persen ke Rp610. Sementara itu, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 2,71 persen ke Rp454.
Kenaikan sejumlah saham Bakrie menunjukkan bahwa sentimen positif tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok usaha. Investor juga melakukan transaksi pada saham berbasis energi dan pertambangan.
ENRG menjadi salah satu saham dengan penguatan cukup tinggi. Kenaikan 4,37 persen membawa saham tersebut menjadi salah satu perhatian pada perdagangan pagi.
Namun, investor tetap perlu mencermati karakteristik masing-masing emiten. Setiap perusahaan memiliki struktur bisnis, fundamental, risiko, dan prospek yang berbeda.
Karena itu, kesamaan afiliasi tidak berarti seluruh saham akan bergerak dengan pola yang sama.
Pergerakan BUMI dan BRMS juga tidak terlepas dari perhatian investor terhadap sektor komoditas. Harga komoditas global dan prospek permintaan dapat memengaruhi ekspektasi terhadap perusahaan pertambangan.
Sementara itu, DEWA memiliki eksposur terhadap jasa pertambangan. Kenaikan sahamnya menunjukkan bahwa sentimen terhadap sektor pertambangan cukup terasa pada perdagangan pagi.
Di sisi lain, investor juga perlu memperhatikan likuiditas masing-masing saham. Saham dengan likuiditas berbeda dapat mengalami perubahan harga yang lebih cepat ketika terjadi perubahan sentimen.
Saham Konglomerasi Lain Ikut Naik
Sentimen positif juga terlihat pada sejumlah saham milik kelompok usaha lain.
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), yang dikaitkan dengan kelompok usaha Happy Hapsoro, naik 2,76 persen ke Rp745.
Selanjutnya, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), yang dikenal sebagai emiten yang terafiliasi dengan kelompok usaha Haji Isam, menguat 2,74 persen ke Rp1.125.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Sinar Mas juga naik 2,65 persen ke Rp970. Dalam sepekan, saham DSSA telah menguat 12,14 persen.
Sementara itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) naik 2,52 persen ke Rp815.
Pergerakan saham-saham tersebut memperlihatkan luasnya penguatan di kelompok emiten yang memiliki perhatian investor masing-masing.
Namun, kondisi pasar tetap perlu dibaca secara menyeluruh. Penguatan banyak saham pada awal sesi tidak otomatis menjamin IHSG akan bertahan positif hingga penutupan.
Perdagangan masih dapat berubah ketika investor merespons perkembangan terbaru. Terlebih lagi, pasar sedang berada dalam fase menunggu hasil keputusan MSCI.
Dalam kondisi seperti ini, volatilitas menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Harga saham dapat bergerak cepat sebelum maupun setelah pengumuman.
Investor jangka pendek biasanya lebih sensitif terhadap perubahan bobot indeks. Sementara itu, investor jangka panjang cenderung lebih fokus pada kinerja perusahaan.
Perbedaan orientasi tersebut dapat membuat pola transaksi menjadi sangat dinamis.
Risiko Perubahan Konstituen MSCI Tetap Menghantui
Di balik penguatan IHSG, pasar tetap menghadapi risiko perubahan konstituen. Salah satu saham yang menjadi perhatian adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
CPIN disebut berisiko turun kelas menuju MSCI Small Cap. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi minat investor institusi yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.
Risiko lainnya datang dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Saham tersebut berpotensi mengalami penghapusan penuh atau full deletion dari MSCI Global Standard.
Perhatian terhadap GOTO terutama berkaitan dengan persoalan likuiditas perdagangan. Harga saham GOTO telah berada di level Rp50, yang merupakan batas bawah harga saham di Bursa Efek Indonesia.
MSCI sebelumnya secara resmi menyatakan bahwa likuiditas GOTO akan ditinjau kembali dalam August 2026 Index Review. MSCI juga menyebut GOTO dapat dihapus apabila tidak memenuhi persyaratan likuiditas yang berlaku.
Kondisi tersebut membuat GOTO menjadi salah satu saham paling sensitif terhadap hasil review kali ini.
Investor perlu memahami bahwa perubahan konstituen indeks dapat menciptakan arus dana masuk maupun keluar. Pengelola dana pasif biasanya menyesuaikan portofolio berdasarkan perubahan indeks.
Karena itu, saham yang keluar dari indeks dapat menghadapi tekanan jual. Sebaliknya, saham yang masuk atau mendapat bobot lebih tinggi berpotensi memperoleh permintaan tambahan.
Namun, besarnya dampak sangat bergantung pada keputusan final dan strategi masing-masing investor institusi.
Selain GOTO, PT MD Entertainment Tbk (FILM) juga menghadapi risiko terkait statusnya di kelompok indeks Small Cap. Isu tersebut berkaitan dengan perhatian terhadap kerangka HSC atau High Shareholding Concentration.
MSCI memang mempertahankan kebijakan untuk menghapus sekuritas yang diidentifikasi otoritas Indonesia dalam kerangka HSC. Kebijakan tersebut masih berlaku dalam August 2026 Index Review.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah free float dan konsentrasi kepemilikan masih menjadi faktor penting dalam pasar Indonesia.
Kebijakan MSCI Indonesia Masih Jadi Perhatian
MSCI telah memperketat perhatian terhadap pasar Indonesia sepanjang 2026. Salah satu latar belakangnya adalah kekhawatiran investor mengenai transparansi kepemilikan saham dan potensi coordinated trading.
Dalam hasil Market Classification Review Juni 2026, MSCI menyebut masih melakukan penilaian terhadap transparansi pemegang saham dan kekhawatiran terkait aktivitas perdagangan terkoordinasi di Indonesia.
MSCI mengakui adanya langkah perbaikan yang diumumkan OJK, BEI, dan KSEI. Langkah tersebut mencakup pengungkapan pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen.
Selain itu, terdapat penguatan klasifikasi investor dan penerapan kerangka High Shareholding Concentration. Pemerintah dan otoritas pasar modal juga memiliki roadmap untuk meningkatkan minimum free float menjadi 15 persen.
Meski begitu, MSCI menekankan bahwa implementasi dan dampak berkelanjutan dari kebijakan tersebut tetap menjadi perhatian.
Jika perbaikan dinilai belum memadai hingga November 2026, MSCI membuka kemungkinan untuk mempertimbangkan berbagai opsi terhadap pasar Indonesia. Salah satunya adalah konsultasi terkait potensi perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
Dengan demikian, hasil review Agustus bukan satu-satunya agenda penting. Pasar masih memiliki agenda yang lebih panjang hingga review November.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada perubahan indeks dalam jangka pendek. Perkembangan transparansi pasar juga dapat menentukan persepsi investor global terhadap aset Indonesia.
Maybank Sekuritas Melihat Risiko Negatif Lebih Terbatas
Di tengah berbagai risiko tersebut, pandangan Maybank Sekuritas terhadap review kali ini cenderung lebih positif.
Berdasarkan materi yang menjadi acuan artikel ini, Maybank memperkirakan tidak ada kejutan negatif besar terkait konstituen saham Indonesia.
Maybank juga memperkirakan tidak terjadi pengurangan bobot pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Jika perkiraan tersebut terealisasi, saham-saham blue chip dapat memperoleh sentimen positif. Beberapa saham yang menjadi perhatian antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Ekspektasi tersebut cukup penting bagi pasar. Pasalnya, saham berkapitalisasi besar memiliki kontribusi signifikan terhadap pergerakan indeks.
Jika bobot saham besar tetap terjaga, risiko tekanan struktural terhadap IHSG juga dapat lebih terbatas.
Namun, pandangan tersebut tetap merupakan proyeksi. Keputusan final berada di tangan MSCI.
Karena itu, investor perlu membedakan antara perkiraan analis dan hasil resmi indeks.
Di sisi lain, Maybank juga melihat GOTO sebagai salah satu kandidat yang memiliki risiko lebih tinggi untuk keluar dari MSCI Global Standard.
Proyeksi tersebut mempertimbangkan perkembangan likuiditas GOTO. Selain itu, Maybank membandingkannya dengan langkah yang diterapkan FTSE Russell dalam review sebelumnya.
Apa Dampaknya bagi Investor?
Hasil MSCI Index Review dapat memberikan dampak berbeda bagi setiap kelompok saham. Karena itu, investor perlu memahami mekanisme sederhananya.
Beberapa dampak yang perlu diperhatikan antara lain:
- Perubahan konstituen: Saham yang keluar dari indeks dapat menghadapi potensi tekanan jual.
- Perubahan bobot: Penurunan bobot dapat mengurangi potensi permintaan dari dana yang mengikuti indeks.
- Potensi inflow: Saham yang memperoleh penambahan bobot dapat menerima permintaan baru.
- Likuiditas: Saham dengan likuiditas rendah dapat lebih sensitif terhadap perubahan indeks.
- Free float: Perubahan perhitungan saham beredar publik dapat memengaruhi bobot indeks.
- Sentimen pasar: Ekspektasi sebelum pengumuman dapat membuat harga bergerak lebih cepat.
- Volatilitas: Pergerakan harga dapat meningkat setelah keputusan MSCI dipublikasikan.
Namun, dampak indeks tidak selalu berlangsung dalam jangka panjang.
Harga saham sering kali sudah mencerminkan ekspektasi sebelum pengumuman. Karena itu, saham yang diperkirakan mendapat kabar positif belum tentu naik setelah keputusan resmi keluar.
Sebaliknya, saham yang menghadapi risiko negatif terkadang dapat menguat jika hasil akhirnya lebih baik dari perkiraan pasar.
Fenomena tersebut dikenal sebagai respons terhadap ekspektasi. Pasar tidak hanya bereaksi terhadap informasi baru.
Pasar juga bereaksi terhadap perbedaan antara hasil aktual dan ekspektasi sebelumnya.
Investor Perlu Waspadai Pergerakan Setelah Pengumuman
Perdagangan Rabu menjadi penting karena investor mulai melakukan positioning. Namun, volatilitas dapat meningkat setelah hasil MSCI diketahui.
Karena itu, investor perlu menghindari keputusan yang hanya berdasarkan kenaikan harga pada awal sesi.
Saham seperti PTRO dan CUAN memang mencatat penguatan signifikan. Namun, kenaikan tersebut perlu dibandingkan dengan fundamental dan valuasi masing-masing emiten.
Hal yang sama berlaku bagi BREN, BRPT, TPIA, BNBR, ENRG, BUMI, BRMS, dan DEWA.
Investor juga perlu memperhatikan apakah kenaikan harga sudah berlangsung selama beberapa sesi. Jika harga telah naik cukup besar sebelum pengumuman, potensi aksi ambil untung tetap terbuka.
Sementara itu, saham yang mengalami tekanan sebelum keputusan juga dapat mengalami rebound jika hasil review lebih baik dari ekspektasi.
Karena itu, strategi investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko.
Investor jangka pendek dapat lebih fokus pada volatilitas dan likuiditas. Sementara itu, investor jangka panjang sebaiknya tetap melihat kinerja keuangan dan prospek bisnis.
Selain itu, investor perlu memperhatikan perkembangan MSCI setelah review Agustus. Kebijakan terhadap Indonesia masih berlanjut hingga agenda berikutnya.
MSCI telah menyatakan bahwa kebijakan terkait Indonesia akan tetap dipantau. MSCI juga akan memberikan informasi lebih lanjut sebelum November 2026 Index Review.
IHSG Masih Berpeluang Melanjutkan Rebound
Penguatan IHSG sebesar 0,85 persen pada awal perdagangan menjadi sinyal positif setelah koreksi dua hari berturut-turut.
Namun, pasar masih menghadapi tantangan dari sentimen eksternal dan domestik. Karena itu, keberlanjutan rebound perlu dikonfirmasi melalui transaksi sepanjang sesi.
Nilai transaksi Rp2,87 triliun pada pukul 09.34 WIB menunjukkan aktivitas perdagangan yang cukup tinggi sejak awal sesi.
Volume sebesar 7,47 miliar saham juga menunjukkan adanya aktivitas yang ramai.
Breadth pasar terlihat positif. Sebanyak 420 saham naik, sedangkan 148 saham turun dan 395 saham stagnan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan tidak hanya berasal dari beberapa saham berkapitalisasi besar. Partisipasi saham yang lebih luas turut menopang pergerakan indeks.
Meski begitu, investor tetap perlu mencermati perkembangan hingga penutupan.
Jika penguatan mampu bertahan, rebound IHSG dapat menjadi sinyal bahwa tekanan jual sebelumnya mulai mereda.
Sebaliknya, apabila indeks kembali melemah setelah pengumuman MSCI, pasar perlu mencermati apakah tekanan tersebut bersifat sementara atau berlanjut.
Menanti Keputusan MSCI dan Arah Pasar Berikutnya
Perdagangan saham Indonesia pada 12 Agustus 2026 berlangsung dalam suasana yang penuh perhatian. Investor menunggu hasil MSCI Index Review yang menjadi salah satu katalis utama pasar.
Penguatan saham-saham kelompok Barito, Bakrie, serta sejumlah emiten konglomerasi lainnya menjadi bagian dari dinamika tersebut.
PTRO dan CUAN menjadi dua saham dengan kenaikan paling menonjol. PTRO naik 6,49 persen, sedangkan CUAN menguat 6,25 persen.
BREN, CDIA, BRPT, BNBR, ENRG, BUMI, BRMS, dan DEWA juga mencatat kenaikan.
Sementara itu, BUVA, TEBE, DSSA, VKTR, dan TPIA turut bergerak positif.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai merespons ekspektasi menjelang keputusan indeks.
Namun, investor tetap perlu berhati-hati. Hasil akhir MSCI dapat berbeda dari proyeksi analis.
Terlebih lagi, GOTO menjadi salah satu saham yang menghadapi risiko likuiditas. MSCI secara resmi menyatakan akan meninjau kembali likuiditas GOTO dalam August 2026 Index Review dan dapat menghapusnya jika tidak memenuhi persyaratan.
Di sisi lain, MSCI masih mempertahankan pembatasan tertentu terhadap saham Indonesia. Kebijakan tersebut membuat perubahan konstituen dan migrasi ukuran saham menjadi lebih terbatas.
Karena itu, hasil review kali ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses yang lebih panjang.
IHSG menguat jelang MSCI review, tetapi investor belum dapat menyimpulkan arah pasar hanya dari penguatan awal perdagangan.
Keputusan final MSCI, respons investor institusi, serta kondisi likuiditas akan menjadi faktor penting berikutnya.
Selain itu, perkembangan transparansi pasar Indonesia tetap perlu diperhatikan. MSCI telah menegaskan bahwa kualitas implementasi reformasi akan menjadi bagian dari penilaian terhadap aksesibilitas pasar Indonesia.
Dengan demikian, perhatian investor tidak berhenti pada hasil review Agustus. Agenda November 2026 juga berpotensi menjadi periode penting bagi pasar modal Indonesia.
Untuk saat ini, rebound IHSG memberikan ruang positif setelah tekanan dua hari sebelumnya. Namun, volatilitas masih berpotensi tinggi.
Investor sebaiknya tetap menggunakan data sebagai dasar keputusan. Pergerakan harga, volume transaksi, fundamental perusahaan, serta risiko indeks perlu dianalisis secara bersamaan.
Dengan pendekatan tersebut, investor dapat menghindari keputusan yang hanya didorong oleh euforia sesaat menjelang pengumuman MSCI.
Pada akhirnya, hasil MSCI akan menjadi salah satu penentu sentimen pasar dalam beberapa sesi mendatang. Namun, arah IHSG tetap akan ditentukan oleh kombinasi berbagai faktor, bukan satu katalis saja.
Catatan: Data harga saham dan IHSG dalam artikel mengikuti materi perdagangan pada pukul 09.34 WIB, sehingga dapat berubah hingga penutupan pasar. Proyeksi MSCI merupakan ekspektasi analis dan bukan hasil resmi sebelum pengumuman MSCI.








