RuangInvest.com, Jakarta – Laba Bersih BRPT Turun signifikan pada semester I-2026 di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) membukukan laba bersih sebesar USD190 juta atau turun 64,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai USD540 juta.
Meski laba mengalami tekanan, perseroan justru berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat kuat. Pendapatan BRPT melonjak 76,1 persen menjadi USD5,68 miliar dari sebelumnya USD3,2 miliar pada semester I-2025.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa strategi diversifikasi bisnis Barito Pacific masih mampu menjaga pertumbuhan usaha. Pendapatan meningkat berkat kontribusi bisnis petrokimia, energi terbarukan, serta integrasi aset ritel ExxonMobil di Singapura yang mulai memberikan dampak positif.
Pendapatan BRPT Tumbuh Berkat Bisnis Petrokimia
Kenaikan pendapatan BRPT terutama berasal dari entitas anak Chandra Asri Group. Perseroan berhasil meningkatkan pendapatan melalui kinerja kilang yang lebih optimal serta integrasi aset ritel ExxonMobil di Singapura.
Segmen petrokimia masih menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perusahaan. Hingga semester I-2026, pendapatan dari sektor ini mencapai USD5,34 miliar atau meningkat 83,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan permintaan terhadap produk petrokimia masih relatif kuat. Selain itu, integrasi bisnis yang dilakukan perseroan mulai menghasilkan sinergi operasional yang mampu mendongkrak penjualan.
Di sisi lain, bisnis energi terbarukan juga memberikan kontribusi positif. Pendapatan dari segmen ini naik 11,5 persen menjadi USD334 juta.
Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya produksi listrik panas bumi setelah proyek retrofit selesai dilakukan. Selain itu, pembangkit listrik tenaga angin juga mencatatkan kinerja yang semakin baik sepanjang semester pertama tahun ini.
EBITDA Tertekan di Tengah Gejolak Global
Walaupun pendapatan meningkat tajam, profitabilitas BRPT masih menghadapi tekanan. EBITDA perusahaan turun sekitar 45 persen menjadi USD1,08 miliar dari sebelumnya USD1,97 miliar.
Penurunan EBITDA tersebut mencerminkan adanya tekanan terhadap margin usaha. Kondisi pasar global yang belum stabil serta dinamika harga komoditas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja laba perusahaan.
Direktur Utama Barito Pacific, Agus Pangestu, mengatakan semester pertama 2026 masih dipenuhi berbagai tantangan ekonomi global.
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar internasional. Namun demikian, platform bisnis Barito Pacific yang terintegrasi tetap mampu menunjukkan daya tahan yang kuat.
Ia menjelaskan bahwa kombinasi bisnis energi, petrokimia, dan infrastruktur memberikan fondasi yang lebih kokoh bagi perusahaan. Selain itu, kontribusi bisnis energi terbarukan dan infrastruktur terus meningkat sehingga membantu menjaga pertumbuhan pendapatan.
Kondisi Keuangan BRPT Masih Solid
Hingga 30 Juni 2026, BRPT mencatatkan total aset sebesar USD18,95 miliar. Nilai tersebut menunjukkan skala bisnis perusahaan yang terus berkembang.
Sementara itu, total liabilitas perusahaan tercatat sebesar USD12,45 miliar. Adapun total ekuitas mencapai USD6,49 miliar.
Posisi aset dan ekuitas tersebut masih mencerminkan fundamental perusahaan yang cukup kuat. Meskipun laba bersih mengalami penurunan, perusahaan tetap memiliki basis aset yang besar untuk mendukung ekspansi jangka panjang.
Selain itu, diversifikasi bisnis BRPT membuat perusahaan tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan. Hal ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas usaha di tengah siklus industri yang berubah.
Prospek Investor terhadap Saham BRPT
Bagi investor, penurunan laba bersih memang menjadi perhatian utama. Namun, terdapat sejumlah faktor positif yang masih layak dicermati sebelum mengambil keputusan investasi.
Beberapa poin penting yang dapat diperhatikan investor antara lain:
- Pendapatan meningkat 76,1 persen menjadi USD5,68 miliar.
- Segmen petrokimia masih menjadi motor utama pertumbuhan.
- Bisnis energi terbarukan terus berkembang seiring peningkatan kapasitas produksi.
- Integrasi aset ExxonMobil di Singapura mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan.
- Fundamental perusahaan masih ditopang total aset mencapai USD18,95 miliar.
Di sisi lain, investor juga perlu memperhatikan tekanan terhadap margin keuntungan yang menyebabkan EBITDA dan laba bersih turun cukup dalam. Apabila efisiensi operasional meningkat dan kondisi ekonomi global membaik, ruang pemulihan profitabilitas masih terbuka.
Ke depan, prospek BRPT akan dipengaruhi oleh perkembangan harga energi, permintaan produk petrokimia, serta keberhasilan perusahaan mengoptimalkan sinergi dari akuisisi dan ekspansi bisnis. Selain itu, pengembangan energi terbarukan berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru yang dapat memperkuat kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, kinerja semester I-2026 memperlihatkan bahwa Laba Bersih BRPT Turun akibat tekanan profitabilitas. Namun, lonjakan pendapatan menunjukkan aktivitas operasional perusahaan tetap bertumbuh. Bagi investor, kondisi ini menjadi sinyal bahwa fokus tidak hanya tertuju pada laba jangka pendek, tetapi juga pada kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan pendapatan, memperbaiki margin usaha, dan memanfaatkan peluang dari bisnis energi serta petrokimia di masa mendatang.





