RuangInvest.com, Jakarta – Kinerja Bank Jago pada semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan yang tetap kuat di tengah tantangan industri perbankan. Peningkatan kredit, dana pihak ketiga (DPK), hingga kualitas aset yang terjaga menjadi bukti transformasi bisnis yang dijalankan perseroan selama lima tahun terakhir mulai membuahkan hasil.
Pertumbuhan tersebut dinilai tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga didukung strategi kolaborasi dengan berbagai mitra ekosistem digital. Selain itu, perusahaan terus memperluas sumber pertumbuhan melalui pengembangan produk dan layanan baru.
Sejumlah analis pun melihat fundamental Bank Jago masih berada pada jalur yang positif. Bahkan, mayoritas analis masih mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) karena prospek pertumbuhan dinilai masih terbuka dalam jangka menengah hingga panjang.
Kinerja Bank Jago Tumbuh Melampaui Industri
Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026, Bank Jago membukukan kredit dan pembiayaan sebesar Rp26,62 triliun. Nilai tersebut meningkat 24 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pertumbuhan tersebut berada di atas rata-rata industri perbankan nasional yang hanya mencapai 12,67 persen. Kondisi ini menunjukkan Bank Jago masih mampu memperluas bisnisnya meski persaingan industri semakin ketat.
Di sisi lain, ekspansi kredit tetap diiringi pengelolaan risiko yang disiplin. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat hanya 0,8 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan.
Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menilai kemampuan perusahaan menjaga kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan menjadi pencapaian yang layak diapresiasi.
Menurutnya, pertumbuhan yang sehat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan bisnis Bank Jago dalam menghadapi dinamika ekonomi nasional.
Pertumbuhan DPK dan CASA Jadi Sorotan
Selain mencatat pertumbuhan kredit, Bank Jago juga berhasil meningkatkan dana pihak ketiga secara signifikan.
DPK Bank Jago tumbuh 23 persen secara tahunan menjadi Rp20,1 triliun. Sementara itu, komposisi dana murah atau current account and savings account (CASA) mencapai 53 persen dari total DPK.
Aditya menjelaskan bahwa capaian tersebut menjadi sangat penting karena industri perbankan sedang menghadapi persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat.
Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia hingga 5,75 persen sejak awal tahun membuat biaya dana di industri meningkat. Selain itu, belum adanya kepastian penempatan dana sisa anggaran lebih (SAL) pemerintah di bank Himbara ikut memperketat persaingan likuiditas.
Namun demikian, Bank Jago justru mampu mempertahankan pertumbuhan DPK sekaligus menjaga proporsi CASA di atas 50 persen.
Ia menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi ekosistem yang telah dibangun bersama sejumlah mitra strategis seperti GOTO, Stockbit, Bibit, dan BFI Finance.
Kolaborasi tersebut dinilai mampu menghadirkan basis nasabah yang semakin luas sekaligus memperkuat penghimpunan dana secara berkelanjutan.
Diversifikasi Bisnis Perkuat Prospek Pertumbuhan
Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris Tandjung, mengatakan pertumbuhan perusahaan merupakan hasil dari inovasi layanan serta penguatan kolaborasi dalam berbagai ekosistem bisnis.
Menurutnya, perusahaan tetap menjaga keseimbangan antara kerja sama dengan mitra strategis dan pengembangan penyaluran kredit langsung kepada nasabah.
Bank Jago juga terus memperluas akses pembiayaan melalui konsep pembiayaan yang bertanggung jawab agar dapat menjangkau lebih banyak segmen masyarakat.
Sementara itu, Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi menilai strategi kemitraan Bank Jago bersama berbagai platform digital dan perusahaan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting yang mendukung pertumbuhan kredit secara terukur.
Kemitraan dengan BFI Finance, misalnya, telah berjalan sejak 2021 melalui skema joint financing. Kerja sama tersebut dinilai sebagai implementasi nyata strategi partnership lending berbasis ekosistem.
Menurut Yosua, sumber pertumbuhan Bank Jago kini semakin beragam sehingga tidak lagi bergantung pada satu ekosistem bisnis.
Beberapa produk seperti Jago Dana Cepat, Jago Dana Siaga, dan layanan Business Banking turut memperluas portofolio pembiayaan perusahaan.
Karena itu, ruang pertumbuhan Bank Jago dinilai masih terbuka lebar seiring semakin beragamnya sumber pendapatan perusahaan.
Pembiayaan Syariah dan Rekomendasi Saham ARTO
Selain memperkuat bisnis konvensional, Bank Jago juga mencatat pertumbuhan signifikan pada pembiayaan syariah.
Hingga Juni 2026, pembiayaan syariah tumbuh 370 persen secara tahunan menjadi Rp331,86 miliar. Pertumbuhan tersebut didukung kerja sama strategis dengan Unit Syariah BFI Finance.
Yosua menilai kemampuan Bank Jago mengembangkan bisnis konvensional dan syariah secara bersamaan menjadi nilai tambah yang belum banyak dimiliki bank digital lain.
Diversifikasi tersebut bukan hanya memperluas lini bisnis, tetapi juga memberikan fleksibilitas dalam melayani kebutuhan nasabah dari berbagai segmen.
Dengan fundamental yang tetap terjaga, diversifikasi bisnis yang semakin luas, serta inovasi produk yang terus berkembang, prospek Bank Jago dinilai masih positif untuk jangka menengah maupun panjang.
Optimisme tersebut tercermin dari konsensus analis terhadap saham ARTO. Berdasarkan data Stockbit, sebanyak 12 analis masih memberikan rekomendasi Buy, sedangkan empat analis memberikan rekomendasi Hold. Tidak ada analis yang memberikan rekomendasi Sell.
Dari total 16 analis yang memantau saham ARTO, rata-rata target harga berada di level Rp1.924 per saham. Target terendah tercatat Rp1.330, sedangkan target tertinggi mencapai Rp2.400 per saham.
Mayoritas analis menilai fundamental yang kuat, kualitas aset yang sehat, pertumbuhan kredit yang konsisten, serta keberhasilan memperluas ekosistem bisnis menjadi faktor utama yang menjaga daya tarik saham ARTO di tengah dinamika industri perbankan nasional.





