RuangInvest.com, Jakarta – Buyback MBMA resmi berakhir setelah berlangsung selama tiga bulan di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menutup program pembelian kembali saham yang sebelumnya diumumkan pada Maret 2026.
Perseroan sebelumnya menargetkan pembelian kembali hingga 1,8 miliar saham dengan alokasi dana maksimal mencapai Rp1,7 triliun. Program tersebut menjadi salah satu langkah perusahaan untuk menjaga stabilitas perdagangan saham di tengah dinamika pasar modal.
Namun hingga berakhirnya periode pelaksanaan pada 16 Juni 2026, realisasi pembelian kembali saham masih berada di bawah target yang telah ditetapkan. Meski demikian, manajemen menegaskan bahwa berakhirnya program tersebut tidak memberikan dampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangan perusahaan.
Buyback MBMA Berakhir dengan Realisasi 492,68 Juta Saham
PT Merdeka Battery Materials Tbk mengumumkan telah menyelesaikan program buyback yang berlangsung sejak 17 Maret hingga 16 Juni 2026. Program tersebut dijalankan sesuai rencana yang telah disampaikan kepada publik pada pertengahan Maret lalu.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan, jumlah saham yang berhasil dibeli kembali mencapai 492,68 juta saham. Angka tersebut setara dengan sekitar 27,4 persen dari target maksimum sebanyak 1,8 miliar saham.
Untuk merealisasikan pembelian tersebut, MBMA mengeluarkan dana sebesar Rp237,61 miliar. Nilai itu masih jauh di bawah dana maksimal yang telah disiapkan perusahaan, yakni Rp1,7 triliun.
Dengan demikian, penggunaan dana buyback baru mencapai sekitar 14 persen dari total anggaran yang telah dialokasikan. Sementara itu, sisa dana yang belum digunakan masih cukup besar dibandingkan realisasi pembelian saham yang terjadi selama periode program berlangsung.
Target Buyback Belum Tercapai
Saat pertama kali mengumumkan program pembelian kembali saham pada 16 Maret 2026, manajemen MBMA menyatakan kesiapan untuk membeli hingga 1,8 miliar saham dari pasar.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi pasar yang mengalami fluktuasi. Program buyback umumnya digunakan emiten untuk meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menjaga kestabilan harga saham.
Meski begitu, realisasi buyback MBMA menunjukkan bahwa perusahaan tidak menggunakan seluruh kapasitas yang telah disiapkan. Jumlah saham yang dibeli hanya sekitar seperempat dari target maksimum.
Di sisi lain, dana yang digunakan juga relatif kecil dibandingkan anggaran awal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelian kembali saham dilakukan secara selektif sesuai kebutuhan dan kondisi pasar selama periode berlangsung.
Faktor yang Mempengaruhi Realisasi Buyback
Beberapa faktor dapat memengaruhi realisasi program pembelian kembali saham, antara lain:
- Pergerakan harga saham di pasar.
- Kondisi likuiditas perdagangan.
- Prioritas penggunaan kas perusahaan.
- Strategi manajemen dalam menjaga struktur permodalan.
- Situasi pasar modal yang berubah selama periode buyback.
Karena itu, tidak semua program buyback selalu direalisasikan hingga mencapai target maksimum yang telah diumumkan sebelumnya.
Dampak terhadap Kinerja Perseroan
Manajemen MBMA menyatakan bahwa berakhirnya program buyback tidak menimbulkan dampak material terhadap kegiatan operasional perusahaan. Aktivitas bisnis tetap berjalan normal sesuai rencana yang telah ditetapkan.
Selain itu, kondisi keuangan perseroan juga dinilai tetap terjaga. Penggunaan dana sebesar Rp237,61 miliar masih berada dalam batas yang telah dipersiapkan perusahaan sejak awal program diumumkan.
Bagi investor, informasi mengenai realisasi pembelian kembali saham menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk memahami strategi manajemen dalam mengelola modal dan menjaga nilai perusahaan.
Sementara itu, pasar akan terus mencermati langkah MBMA berikutnya, terutama terkait pengembangan bisnis baterai kendaraan listrik dan hilirisasi mineral yang menjadi fokus utama perusahaan.
Dengan berakhirnya program buyback MBMA, perseroan kini memiliki total saham hasil pembelian kembali sebanyak 492,68 juta lembar dari program yang berlangsung selama tiga bulan tersebut. Meski realisasinya belum mencapai target maksimum, perusahaan memastikan kondisi operasional dan keuangannya tetap solid serta tidak terdampak secara material oleh pelaksanaan buyback tersebut.





